
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN. 🌹
 🌹IGEH EMAK JUGA DI FOLLOW DI : @REDLILY123. 🌹
 🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN. 🌹
Kirana terbangun dari tidurnya, dia merasakan mual yang melanda. Dimana dia sembunyi sembunyi masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di sana.
Kirana menutup rapat pintunya, beharap Arjuna tidak mendengar dan dirinya malah khawatir. Kirana memuntahkan cairan berwarna merah pekat, membuatnya memejamkan mata enggan melihatnya.
"Aku baik baik saja," ucapnya sambil membesihkan noda darah di sekitar wajahnya.Â
Kirana mengusap perutnya yang membuncit. "Baik baik saja di sana ya, sayang."
Begitu selesai memuntahkan, kirana bergegas untuk mengganti pakaiannya sebelum Arjuna mendapatinya muntah darah lagi. Apalagi saat ini kirana mulai merasa pusing.
"Sebentar lagi ya, Nak. Kamu akan melihat dunia," ucap Kirana kemudian terdiam sejenak di meja riasanya.
Dia menatap suaminya yang tertidur lelap, bersyukur sosok itu tidak panik atas apa yang terjadi.
Dan memanfaatkan keadaan, Kirana membuka laci riasanya dan mengambil sebuah kertas dari binder. Kemudian mulai menulis di sana.Â
Butuh waktu sekitar sepuluh menit, sampai akhirnya Kirana selesai menuliskan itu. Setelahnya dia melipat, kemudian memasukanya ke dalam sebuah amplop yang dituliskan dengan nama; Untuk Putriku yang berulang tahun ke-4
Setelahnya dia menyeka air matanya.
"Ran?"
"Hmm?" Kirana buru buru menghapus sisa air matanya, menutup kembali laci dan menatap Arjuna yang terbangun.
"Kok bangun, Yank?"
"Kebangun, Kak."
__ADS_1
"Ganti baju?"
Kirana mengangguk. "Biar lebih anget," ucapnya mendekat ke arah ranjang, dimana Arjuna merentangkan tangannya.
Kirana jelas langsung masuk ke dalam dekapam pria itu, menghirup aromanya yang begitu wangi.
"Terus barusan abis ngapain? Kenapa gak tidur lagi?" tanya Arjuna.
"Duduk dulu, agak pusing tapi sekarang udah enggak kok."
"Mau dipijitin?"
Kirana menggeleng, dia mengeratkan pelukannya.Â
"Mau tahajud gak?"
"Emang jam berapa ini, Kak?"
"Jam tiga. Mau? Nyambung sama subuh, Kakak kasih hadiah kamu surah Maryam. Mau?"
🌹🌹🌹🌹
Selepas sholat subuh, Kirana kembali terlelap karena alunan sholawat dan bacaan al-Quran yang dilantunkan oleh sang suami. Begitu indah dan membuat telinganya terasa sangat haus tidak ingin berhenti mendengar. Sampai akhirnya membius dan membuatnya terlelap begitu saja.
Arjuna mengusap kepala istrinya, kemudian membubuhkan kecupan kecil di keningnya.
Kirana tertidur miring, dengan mukena yang masih dia kenakan.
"Yang nyenyak tidurnya ya, Sayang," ucap Arjuna mengakhiri bacaannya.Â
Perlahan dia turun dari ranjang, mengambil ponselnya untuk menelpon.
"Hallo, Tuan?"
__ADS_1
"Sebulan terakhir ini aku akan berada di rumah. Kau urus pekerjaan."
"Baik, Tuan."
Karena Arjuna suami siaga, dia ingin menemani sang istri. Apalagi Bunda Eliza sedang disibukan dengan Eyang Damayanti yang sakit. Ya, dia sedang sakit juga, lumayan parah karena faktor usia.
Jadi yang siaga di rumah ini hanya dirinya, apalagi sekarang adalah bulan kelahiran putrinya.
Sebelum mandi, mata Arjuna terpaku pafa gambar selfie yang dia ambil bersama Kirana. Dipasang di dinding dan menjadi saksi bagaimana rambut istrinya telah pendek dan menipis. Benar benat tipis seperti bayi.Â
Namun demikian, Arjuna tetap melihat kecantikan di mata istrinya.
"Tadi Kirana masukin apa ya di laci?" gumamnya kemudian duduk di kursi rias.
Membuka laci yang membuat Arjuna penasaran. Di sana ada beberapa amplop yang bertulisakan;
Untuk Putriku yang berulang tahun ke-1 sampai 4.
Arjuna membuka salah satunya. Yang bertuliskan;
Selamat ulang tahun putri kecil Mama, kamu berusia satu tahun kan? Mama tidak yakin kamu bisa membaca, tapi setidaknya surat ini mewakili Mama.
Nak, Mama sangat menyayangimu.
Hanya itu yang akan Mama katakan padamu, bahkan di saat Mama telah tiada. Mama selalu bersamamu, di hatimu. Tumbuhlah menjadi anak yang sholeh, bidadari kecil Mama.
Jika saat ini Mama tidak ada bersamamu, ketahuilah kalau Mana mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. Nak, jangan pernah menyalahkan siapapun. Karena sekuat apapun kita menggenggam sesuatu, jika Allah tidak menghendaki, maka akan pergi juga. Begitu juga dengan umur manusia.
Jaga Papah untuk Mama ya, Sayang. Jadilah alasan agar dia tetap dekat dengan Allah.
Dan Arjuna melihat bekas air mata di sana. Sejauh inikah? Kirana menyiapkan kepergiannya?
"Tidak, kamu tidak akan kemana mana," ucap Arjuna dengan dada yang terasa sangat sesak.
__ADS_1
🌹🌹🌹
To be continue