
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
Hari ini, Eyang Damayanti akan datang ke Jakarta, tepatnya ke rumah Arjuna dan Kirana. Awalnya, Arjuna merasa khawatir, takut Eyang menyebarkan kabar buruk yang ingin segera diakhirinya. Namun, Eyang Damayanti tidak mengatakan apa apa pada orang lain, dia hanya berkata kalau Kirana sakit, tidak menjelaskan secara spesifik.
“Nanti kalau Eyang bilang yang aneh aneh, jangan didengerin ya. Kan kamu punya Kakak, jangan biarin Eyang kontaminasi pikiran kamu.”
Kirana tersenyum, dia memandang sang suami dari balik cermin; sedang memotong rambutnya sesuai keinginannya.
“Jangan biarin Eyang bikin pikiran kamu jadi stress, apalagi dedek ikut kena imbasnya.”
“Iya, Kak.”
Arjuna focus memptong rambut sang istri. Sebenarnya dia tidak ingin melakukannya. Jujur saja, selama melakukan ini, Arjuna terus menahan napasnya agar air matanya tidak keluar.
Mengalihkan pembicaraan adalah satu satunya cara yang dia miliki.
“Tadinya Bunda mau ke mall sama Purwanti, tapi dia lagi ngerjain tugas. Kakak yang pergi gak papa? Bunda butuh temen ngomong sesuatu soalnya.”
“Iya gak papa. Purwanti di sini ‘kan?” tanya Kirana.
Yang dibalas anggukan oleh Arjuna. “Iya, dia di sini. Sama Bibi juga, ada satpam dua juga.”
“Ayah udah berangkat lagi ya, Kak?”
“Iya, dia sibuk. Kayaknya Kakak juga mau minta ayah yang ambil kerjaan kakak deh, kakak gak bisa ninggalin kamu.”
“Jangan,” ucap Kirana seketika. “Kasian ayah, Kirana kan di sini ada Purwanti, ada Bunda juga.”
“Kakak gak mau ninggalin kamu sendirian.”
“Aku gak ngerasa sendirian loh,” ucap Kirana yang kini pandangannya beradu dengan sang suami lewat cermin.
Jelas dia melihat bagaimana mata Arjuna memperlihatkan kegelisahan yang begitu dalam. Membuat pria itu menarik napasnya dalam dan segera memutuskannya. “Udah, kamu udah cantik,” ucap sang pemilik manik cokelat itu membuka pelindung di tubuh sang istri.
Kini rambut Kirana sudah pendek, membuat Arjuna memberikan kecupan di puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang. “Cantiknya kakak.”
__ADS_1
“Aku mau mandi.”
“Mau ditemenin?”
“Issh, gak mau,” ucap Kirana berdiri dan mencubit perut sang suami yang jahil.
Untuk saat ini, Arjuna hanya tefokus untuk membehagiakan Kirana semampunya. Tidak perlu keliling dunia, bergelimangan harta. Karena kenyataannya, sang istri begitu bahagia ketika Arjuna mengusap kepalanya, mencubit hidungnya lalu membubuhkan ciuman di bibir keduanya.
“Udah sana berangkat.”
“Mau pesen apa?”
“Mau donat madu.”
“Siap,” ucap sosok pria itu sambil menurunkan tubuhnya untuk mensejajarkan wajahnya dengan perut sang istri. “Papa keluar dulu ya, jangan nakal.”
🌹🌹🌹🌹🌹
“Titip Kirana, awas kalau lu cuekin dia terus maen hp mulu.”
“Iya, Bang. Udah tuh Bunda udah nunggu ih,” ucap Purwanti yang kesal karena sedari tadi diberi wejangan oleh sang kakak.
“Bang, Bunda dapet kabar dari Ayah kamu, kalau ada pengobatan di China untuk Kirana.”
“Serius, Bun?” tanya Arjuna kaget.
“Ayah kemaren jalin kerjasama sama orang sana, cerita cerita tentang kanker otak. Tapi Ayah mau survey dulu gimana di sana nya.”
“Yaudah nyuruh orang aja.”
“Gak bisa lah gak sopan, rumah sakit itu punya anaknya mitra Ayah, jadi dia harus ke sana sendiri.”
“Yaudah Ayah berangkat aja ke sana.”
“Nah, kan Ayah bilang kalau dia punya banyak kerjaan, apalagi punya kamu sebagian dia handle. Gimana dia gak kehabisan waktu, kamu tiap abis dzuhur pulang.”
“Yaudah nanti Abang yang ambil alih lagi,” ucap Arjuna frustasi. “Ayah ke China aja, Abang gak papa pulang sore juga, kana da Bunda yang jagain Kirana.”
“Itu dia, kamu tau kalau Ayah kamu gak mau ke sana seorang diri. Dia takut disebut duda, apalagi nanti ada acara makan malam.”
__ADS_1
“Ya allah, nyewa dulu kek buat pasangannya.”
“Heh! Durhaka kamu!” teriak Bunda Eliza kesal.
“Yaudah sih, Bun. Gak papa temenin aja, Kirana aman kok di sini, Abang mau sewa perawat aja buat jagain Kirana.”
“Oh, ide bagus tuh. Jadi gak papa ya kalau Bunda pergi sama Ayah? Tapi kamu urus dulu kerjaan punya Ayah di sini.”
“Iya, Abang yang kerja lagi. Jangan khawatir.”
Setidaknya percakapan itu memberikan harapan pada Arjuna, hatinya mengucapkan hamdalah berulang kali. Setidaknya ada cahaya yang terlihat.
Bahkan hal itu membuat Arjuna terus tersenyum, dia tidak bisa berhenti memperlihatkan wajah cerahnya saat melangkah ke dalam mall. Yang biasanya menunggu di bagian food court, kini ikut bersama sang Bunda mengelilingi mall.
Sesekali Arjuna focus pada ponselnya, memeriksa pekerjaan apa saja yang akan dia kerjakan ke depannya.
“Bang, bawain troli Bunda.”
“Iya, Bun.”
“Cepetan jangan maen hp mulu,” ucap Bunda Eliza yang sudah melangkah meninggalkan troli miliknya di belakang. “Bunda pegel nih, banyak banget bawaannya.”
“Iya,” ucap Arjuna yang segera mengantongi kembali ponselnya dan mendorong trolli di depannya menuju sang Bunda yang kini sedang memilih buah. “Bunda beli khong guan banyak amat? Emang mau dikasih siapa aja?”
“Bunda gak beli khong guan.”
“Lah ini, banyak amat,” ucap Arjuna.
Yang mana membuat Bunda Eliza menoleh, matanya membulat terkejut. “Abang, ini troli siapa?!”
“Punya Bunda ‘kan?”
Dan beberapa saat kemudian terdengar panggilan, “Mas! troli saya itu!” ucap sang ibu ibu bertubuh besar dengan ketiga anaknya yang menatap tajam dirinya.
Bunda Eliza menelan ludahnya kasar. Kemudian melangkah menjauh perlahan, “Gak kenal,” ucapnya meninggalkan Arjuna yang sudah menahan malu.
🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE
__ADS_1