Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Balasan itu nyata


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


“Kenapa? mau ngomong apa?” tanya Merlinda begitu mereka sampai di sebuah taman rumah sakit, dimana Merlinda duduk lebih dulu. Sementara Arjuna menatap bersalah sosok yang ada di depannya, dia tidak pernah berniat menyakiti perempuan ini.


“Maaf, Mer. Aku tau kesalahan aku itu gak bisa dimaafiin, tapi seenggaknya jangan benci Kirana. Benci saja aku,” ucap Arjuna sambil mendudukan dirinya di dekat Merlinda.


“Gak bisa dong, dia penyebab aku sama Kakak jadi putus. Gimana sih, lagian kalau Kakak gak dipaksa sama dia, Kakak tetep jadi milik aku kan? Kalau dia gak sakit, kakak gak bakalan sama dia kan?”


“Aku sayang sama dia, aku butuh dia.”


Merlinda tertawa tidak percaya sambil menatap Arjuna. “Sayang? semudah itu kamu sayang?”


“Dia banyak berjasa sama aku, dia banyak berkorban buat aku, gimana aku gak sayang. padahal Kirana rapuh, tapi masih mikirin orang lain.”


“Itu bukan sayang, itu kasihan.”


“Mer, tolong jangan benci dia. Benci saja Kakak. Karena aku yang salah di sini. Ini pilihan Kakak.”


Merlinda menatap diam diam pada Arjuna, seolah tidak percaya. Merlinda yakin kalau Arjuna tau dengan kondisinya yang depresi, sakit parah. Dan hanya ini yang dia katakan? Tidak ada kata-kata penyesalan? Gila saja. “Kalau begitu cium aku, dan aku tidak akan mengganggu kalian lagi.”


“Apa?” tanya Arjuna tidak percaya.


“Aku akan pergi ke Amerika dan tinggal di sana. Setidaknya ciptakan kenangan indah bersamaku, itu yang psikiaterku katakan. Maka lakukanlah, cium aku.”


Arjuna menggeleng, dia menggeser duduknya. “Tidak, Meri. Aku salah, ya aku mengakuinya. Tapi jangan meminta hal yang aneh lagi.”

__ADS_1


“Ini tidak aneh, aku perlu kenangan baru.”


“Apapun asalkan jangan skinship, Mer.”


“Gak mau, aku maunya kissing sama kamu. Lagian istri kamu gak ada, terus ini buat pengobatan aku,” ucap Merlinda yang melangkah mendekat pada sang mantan kekasih, dimana dia menarik tengkuk Arjuna dan berniat menyatukan kedua bibir itu.


Namun Arjuna yang sigap itu segera mendorong bahu Merlinda hingga membuat perempuan itu jatuh.


“Awhhh! Kamu kenapa sih?!” teriak Merlinda, yang kebetulan saat itu Mario melihatnya. dia segera berlari mengahmpiri adiknya.


“Mer, maaf. tapi gak gitu caranya.”


“Minggir, gak usah pegang aku!”


“Mer.”


“Lepasin tangan lu dari adek gue, Bangsat!” teriak Mario yang kesal, dia menjatuhkan pukulan hingga terdengar bunyi yang kuat.


🌹🌹🌹🌹


Purwanti yang mengantarkan Kirana kembali ke kamar rawatnya, sembari mencoba menghubungi sang Kakak supaya segera kembali pada mereka. Purwanti khawatir kalau Kirana curiga jika Arjuna bertemu dengan Merlinda, dia tidak ingin membuat pikiran kakak iparnya semakin terbebani.


“Mbak, nunggu si abangnya di kamar aja yuk, sambil makan pudding.”


Begitulah cara Purwanti membujuk Kirana agar tidak usah menunggu di sana. Sehingga Kirana akhirnya menurut, dengan pandangan yang tidak luput dari foto USG yang memperlihatkan bagaimana putrinya tumbuh dengan baik.


“Abis labu ini kita langsung pulang ‘kan?”


“Iya, Mbak. Kita langsung pulang kok. Kayaknya sorean juga pulang.”

__ADS_1


“Mbak gak betah di sini.”


“Betah, puddingnya kan enak,” ucap Purwanti membuka pintu, membawa Kirana masuk dan menghentikan kursi roda di dekat balkon. “Makannya mau di sini?”


“Ntar aja deh, nunggu Kak Juna.”


“Abang mungkin kebelet, Mbak. Dia suka lama kalau lagi be’ol.”


“Tadi juga gak kenapa-napa, masa mules.”


“Yakan bisa aj⸻”


BRAK!


Ucapan Purwanti terhenti karena seseorang tiba tiba membuka pintu. “Noh, akhirnya datang juga.”


“Maaf, Ran, kelamaan ya? Nih, pesenan kamu,” ucapnya mendekat dengan senyum yang girang. “Gimana kata dokter? Jenis kelaminnya apa? Duh, maaf Kakak gak nemenin kamu ya. Bulan depan jangan minta Kakak beliin apa apa lagi kalau mau periksa ya, Sayang.”


“Dih, gue dilupain,” ucap Purwanti yang memilih keluar dari ruangan itu.


“Kakak ini kenapa?” tanya Kirana memegang pipi sang suami, ada lebam di sana.


“Tadi jatuh, gak sengaja,” ucapnya dusta, dia bahkan mengalihkan pembicaraan dengan bertanya. “Apa jenis kelaminnya?”


“Perempuan, Kak.”


Sontak Arjuna terdiam. Perempuan ya? Dia takut, dia takut apa yang dilakukannya saat ini, akan ditanggung oleh anaknya kelak. Sehingga tanpa sadar, dia mengelus perut Kirana, mengecupnya kemudian berkata, “Maafiin Papah ya.”


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2