
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
“Abang tau gak siapa yang adzanin Ambar?” tanya Purwanti menggoda.
“Ayah ‘kan?”
“Iya, Abang pingsan soalnya. Letoy banget heran jadi cowok langsung pingsan, bukannya adzanin dulu anaknya.”
“Lu gak tau gimana sekaratnya abang liat bini gak napas.”
“Kali aja Abang punya Riwayat asma atau jantung ‘kah?”
“Mulutnya perlu abang jahit ya? Diem kenapa.”
“Cieee, Papah bau.”
“Abang tampol ya elu.”
“Heh!” bunda Eliza memperingati.
Bisa bisanya kedua anaknya ini malah bertengkar saat suasana sedang sepeti ini. Mana Kirana belum sadar juga, Bunda Eliza yang sedang menggendong Ambar kan jadi gemas melihat keduanya. Jika saja tidak sedang menggendong cucunya, sudah Bunda Eliza tampol mereka berdua.
“Dek, kamu panggilih Ayah sana. Suruh ke sini.”
“Mau apa, Bun? Check out shopee.”
“Pergi gak?”
“Iya iya ih.”
Purwanti bergegas keluar dengan bibir yang masih mengerucut sebal. Kesal dia dengan sosok bundanya, mana dia lagi dalam fase naik turun mood. Padahal kalau ada pasangan enak banget, apa apa tinggal minta. Tapi ya, Purwanti diem aja, ikutin takdir, dia udah berusaha kok. Nyari Mario, kirim Mario pesan, tapi ya tetep bae kalau diatuh gak bisa ditemuin.
“Bang…,” panggil Bunda Eliza pada Arjuna yang masih setia menggenggam tangan Kirana. “Sini peluk Ambar, emang gak mau gitu?”
“Panggilnya Kakak dong, Bun.”
“Huh? Kakak? Biar apa?”
__ADS_1
“Kan nanti mau ada adeknya,” ucap Arjuna sambil menoleh pada sang Bunda.
Yang mana langsung dipelototin oleh bundanya. “Kamu ya, Kirana belum juga sadar mau nambah lagi.”
Arjuna ketawa aja, dibawa enjoy kan enak. “Jangan serius mulu, Bun. Nanti Abang nangsi terus.”
“Cengeng.”
“Tapi serius, panggilnya kakak aja. Serasa gimana kalau nama gitu.”
“Iya, nanti dipanggil kakak.”
Kemudian hening. Bunda Eliza dengan cucunya, dan Arjuna dengan sosok yang sedang dia genggam tangannya.
“Bang, bisa gak kamu pulang dulu?”
“Mau apa? Gak mau ninggalin Kirana ya.”
“Bunda ngerasa curiga.”
“Sama apa?”
Paham dengan maksud bundanya, Arjuna membalikan badan. “Bunda…. Gak mungkin adek Abang ngelakuin hal itu. Senakal-nakalnya dia, kalau bikin anak ya gak mungkin.”
“Semoga aja ya, Bang.” Bunda Eliza masih dengan kekhawatirannya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
“Ayah kok bawa baju punya Ayah juga?” tanya Bunda Eliza heran saat suaminya masuk dengan koper besar di tangannya. “Mau kemana?”
“Mau nginep di sini nemenin kalian.”
“Tapi Abang gak izinin, Purwanti aja udah pulang. Katanya mau Quality time sama anak istrinya.”
“Terus Bunda?”
“Ya bunda aja yang tinggal.”
“Gak adil dong.”
Saat itulah Arjuna keluar dari kamar mandi, dia mendengar keributan yang menyebabkan anaknya menangis dalam gendongan bundanya. “Udah, Bunda juga pulang sana. Abang gak usah ditungguin, Bun.”
__ADS_1
“Ini si kakak mau siapa yang gendong?”
Dan Ketika Arjuna mengambil alih, keajaiban terjadi. dimana Ambarani langsung berhenti menangis. “Tuh, gak usah. Sana Bunda gak usah nginep.”
“Nggak, Bunda mau nginep. Lagian kamu ngotot mulu Bunda gak boleh nginep kenapa?”
“Itu Ayah soalnya mau nginep juga, kan berabe kalau tidur nanti denger yang aneh aneh. Telinga Abang kan masih suci.”
“Heh!” teriak Bunda Eliza pada Arjuna yang melangkah pergi, dimana pria itu hanya tertawa saja mendengar keluhan ibunya.
“Atau anterin dulu Ayah ke rumah, Abang gak nerima ya kalian berdua di sini.”
Pada akhirnya, Bunda Eliza menghela napasnya dalam. “Yuk, Ayah pulang yuk.”
“Tapi nanti kamu ke sini lagi?”
“Ayah please, kamu tidur di sini juga gak akan kelonan sama Bunda. Mending nungguin Purwa di rumah,” ucap Bunda Eliza sambil menggeret sosok itu keluar dari kamar VVIP tempat cucunya berada.
Sementara Arjuna tersenyum samar, keluaga aneh itu begitu dia sayangi. Namun akan lebih lengkap jika sosok di depannya itu terbangun. “Ran…, kapan kamu mau bangun, Sayang?”
Duduk di sisi ranjang, dengan sosok yang digendongnya. “Ambarani Namanya, maaf kalau gak izin kamu dulu buat nama-in dia. Soalnya Ayah yang nyuruh buru-buru, katanya biar diurus akta lahirnya.”
Yang mana membuat Arjuna meneteskan air matanya perlahan. “Kangen kamu, Ran…. Bangun ya, Sayang. nanti akua jak kamu keliling dunia. Kamu mau kan? Kita adain resepsi gede-gedean juga, sama Ambarani ya?”
Helaan napas itu terdengar berat, bahkan bayi yang ada dalam gendongannya enggan mengganggu. Dia terlelap begitu damai membiarkan sang Papah berkomunikasi dengan Mamanya.
Sampai Ketika Arjuna menunduk, dia mendapati tangan sang istri bergerak dengan perlahan. Sehingga tatapannya naik menatap Kirana yang perlahan membuka matanya.
“Kak?”
Arjuna tertawa haru, diikuti air mata yang menetes. Dia perlahan mendekati Kirana, mencium kening istrinya sebelum menidurkan Ambarani di sampingnya.
“Anak kita?”
“Bidadari kita, Sayang. makasih udah mau berjuang tetap menjadi istri aku.”
🌹🌹🌹🌹🌹
TAMAT.
GITU AJA? YA ENGGAK, NANTI ADA SEASON DUA. TAPI DICENTANG DULU TAMATNYA YA, SOALNYA NGERI DITEROR MANGATOON. BYE BYE DI NEXT SEASON KAWAN KAWAN.
__ADS_1