
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
Arjuna menatap gundukan tanah di depannya, air matanya menetes menatap sang kekasih terkubur di dalam sana. Mereka benar benar di dunia yang berbeda saat ini.
“Apa aku bukan suami yang baik sehingga dirimu pergi dari dunia ini?” batinnya menjerit merasakan rasa sakit.
Arjuna bersimpuh di hadapan gundukan tanah itu, ingin sekali dia merengkuh sosok di dalam sana. Apa dia sudah menjadi suami yang baik? Apa Allah memang terlalu mencintainya hingga tidak mau membiarkan Kirana dimiliki olehnya sebagai istri.
“Aku suami yang buruk,” ucap Arjuna meneteskan air matanya. Dia merasa pusing, kepalanya terasa sangat sakit hingga pandangannya kabur.
.
.
.
“Bang, bangun. Hei, jangan buat Bunda khawatir. Bangun, Nak. Kirana masih bersama kita, kamu gak mau liat anak kamu?”
Kalimat yang begitu merdu, suara Bunda Eliza menariknya ke permukaan kesadaran. Dia menatap sang Bunda yang tertawa dengan air mata menetes. “Yang sakit itu siapa? Kamu atau Kirana, kok malah ikut pingsan. Heran bunda tuh.”
“Kirana, Bun?”
“Abang gak inget abis bikin kekacauan di ruang persalinan?” Bunda Eliza menyeka air matanya.Â
Yang mana membuat Arjuna terdiam sejenak mengingat apa yang dilakukannya sebelumnya.
Disaat bibir dokter mengatakan, “Ibu sudah pergi.”
__ADS_1
Saat itulah Arjuna merasakan dunianya runtuh seketika, air matanya mengalir, dia menggelengkan kepala. “Tidak, tidak, lakukan lagi. Kembalikan detak jantungnya. Kumohon jangan,” isak Arjuna semakin kuat.
Dimana dia kembali menarik kain putih itu, tidak rela istrinya pergi. Meminta dokter kembali memakai alat kejut jantung. “Lakukan, dok. Saya mohon lakukan satu kali lagi.”
Dan di saat sang dokter mencoba satu kali lagi….
Percobaan pertama, belum berhasil.
Percobaan kedua, tidak juga.
Yang mana membuat Arjuna semakin menggenggam erat tangan sang istri.
Percobaan ketiga, alat pendeteksi jantung itu kembali menyala.
“Berhasil, detak jantung pasien kembali.”
Dan saat itulah, pandangan Arjuna memburam oleh air mata. Terima kasih kepada Tuhan, masih mengizinkannya menjadi suami dari Kirana.
Disinilah Arjuna sekarang, menggenggam tangan Kirana sambil menciumnya sesekali. Begitu Bahagia karena sang istri masih bersama dengannya.
“Bang, itu dedeknya gak mau gendong, dari tadi kamu di sini terus.”
Dan saat itulah Arjuna tersadar, dia melupakan bayi mungilnya. “Dimana, Bun?”
“Lagi di bawa perawat ke sini, kamu udah nyiapin nama?”
Arjuna mengangguk, kemudian menatap Kirana yang terlelap. Begitu bangga dengan sang istri yang benar benar melewati kematian, bagaimana Arjuna bisa hidup tanpa Kirana?
“Purwanti kemana, Bun?”
“Pulang, sama Ayah dianter. Nanti mereka ke sini, semoga gak persiapan tahlilan buat kamu, Bang.”
__ADS_1
“Bunda,” rengak Arjuna yang mana membuat Bunda Eliza tertawa.
Dia mengusap surai sang anak, Bahagia karena anaknya telah dewasa. Dari pemikirannya. “Bercanda, Bang.”
Dan saat terdengar suara pintu terbuka, Bunda Eliza mengalihkan perhatiannya. menatap bayi mungil dalam box yang didorong perawat. “Cucunya Eyang,” ucap Bunda Eliza menggendong terlebih dahulu kemudian menyerahkannya pada Arjuna yang duduk di samping Kirana. “Cantik ya, Bang?”
“Mirip banget aku,” ucap Arjuna dengan senyumannya, dia mencium pelan pucuk hidung sang putri. “Siapa yang adzanin, Bun?”
“Ayah kamu, soalnya kamu panik tadi.”
“Gimana gak panik, Bidadari yang nemenin Arjuna mau pergi,” kekehnya lalu kembali mencium hidung putri kecilnya.
“Nanti kalau Kirana udah mulai pulih, dia akan operasi. Abang tau kan?”
Arjuna mengangguk. “Satu lagi ya, Bun?”
“Iya, satu lagi yang harus kalian lewati.”
Keyakinan sudah ada dalam diri Arjuna, dia pasti bisa melewatinya.
“Dan, Bang. Operasi pasca melahirkan sangat rentan, Bunda Cuma mau ka——”
“Bun.” Arjuna menghentikan kalimat ibunya. “Abang pasti bisa lewatin semua itu. Hanya tolong jangan mengatakan sesuatu yang buruk di depan Ambarani.”
“Ambarani?”
“Putri Abang sama Kirana,” ucapnya kembali mencium sang putri. “Buka matanya coba, dek. Papah mau liat.”
Karena Arjuna terus menciuminya, bayi itu terusik sehingga perlahan bangun dan membuka matanya. Bola mata hitam, persis Kirana, yang mana membuat Arjuna tertawa. “Nah, matanya miri Mamanya, pinter kamu, Dek. Jangan bikin Mama iris ama Papah ya.”
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
TO BE CONTINUE