Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana
Teka Teki


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Bunda Eliza berjalan tergesa-gesa, dengan sang suami yang ada di sampingnya. Dia terlihat kewalahan, dipenuhi rasa takut dan kekhawatiran yang berlebihan. Dia takut hal itu menjadi pemicu pertengkaran antara Kirana dan Arjuna.


“Bun, Tenang. Insyallah mereka baik baik aja.”


“Ayah, diem ih,” ucap Bunda Eliza yang tidak ingin mendengar kata penenang apapun. Sampai matanya melihat ada anak keduanya yang sedang memainkan ponsel di bangku koridor. Bunda Eliza berlari kecil.


“Bun, hati hati,” ucap sang suami kembali memberi peringatan.


Bunda Eliza tidak menghiraukannya sama sekali. “Purwa!”


“Astagfirullah! Bunda ngagetin!”


“Gimana Arjuna? Bunda aman gak kalau masuk? Mereka lagi gimana?”


“Masuk aja,” ucap Purwanti kembali focus pada ponselnya.


“Kamu kenapa diluar?”


“Bunda liat aja sendiri, gak lagi bertengkar kok,” ucap anak perempuannya.


Yang memberi jalan bagi Ayah Wigan untuk menggenggam tangan sang istri dan membawanya ke ruangan yang dimaksud. Bunda Eliza mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum akhirnya masuk ke dalam, dan dia melihat bagaimana Arjuna tengah menyuapi Kirana dengan penuh kasih sayang.


“Bunda…,” ucap Kirana melihat kedatangan sang mertua.


Bunda Eliza yang tidak dapat menahan tangisannya itu meledak seketika, dia mendekat dan memeluk tubuh Kirana. “Liat ‘kan! Bunda bilang apa, pasti gini nih. Harusnya kamu bilang dari awal.”


“Kirana nya lagi makan, Bun. Awas dulu,” ucap Arjuna dengan suara tenangnya.


Membuat Bunda Eliza mengerutkan kening, kemudian membisiki Kirana yang masih dalam pelukannya. “Dia tau, Ran?”


“Tau kok, Bun. Kirana gak papa,” ucap Kirana mencoba menenangkan keadaan. “Coba bundanya duduk dulu.”


Bunda Eliza memilih untuk duduk di bibir ranjang, menghadap pada sang menantu sambil menggenggam tangannya. “Ran…”

__ADS_1


“Iya, Bunda,” jawab Kirana sambil menerima suapan dari sang suami.


Bunda Eliza tidak mengatakan apapun, hanya menatap dengan mata berkaca-kaca. Dia merasakan sesak di hatinya melihat Kirana yang kurus, pucat dan terlihat jelas dia sedang diserang penyakit.


Ayah Wigan menghela napasnya melihat sang istri. “Gimana keadaan kamu sekarang?”


“Alhamdulillah udah mendingan, Ayah,” jawab Kirana dengan sopan. 


“Ayah denger dari Purwanti tentang penyakit kamu, tindakan apa yang akan kalian ambil?” Sosok yang paling tua di ruangan itu bertanya dengan nada yang tegas, seolah menyiratkan kalau pembicaraan itu serius.


Bunda Eliza yang gemas akan jawaban ikut menimpal, “Iya kan, Ran? Kamu mau menjalani pengobatan?” 


Kirana menggeleng, dia menatap sang suami yang tidak focus pada sekitarnya. Dia hanya mengaduk-aduk sayur sebelum menyuapkannya pada sang istri.


“Enggak? Terus? Kita mau gimana?” tanya Bunda Eliza panic. “Bang, kamu setuju Kirana gak akan jalani kemoterapi? Abang bercanda ya?”


“Enggak,” jawan Arjuna dengan sangat singkat. Sepertinya ada kepedihan yang tengah ditahan oleh sosok itu.


🌹🌹🌹🌹🌹


Kirana tertidur, bersama dengan Bunda Eliza yang menunggunya di sana. Dia tetap dalam posisinya, duduk di pinggir ranjang, dengan tangan bertautan dengan sang menantu yang tertidur miring. Sesekali Bunda Eliza mengusap perut buncit Kirana kemudian melantunkan sholawat,


Tidak lama kemudian seseorang masuk, Bunda Eliza merasakan seseorang datang dari arah belakangnya.


“Ayah kamu dimana?” tanya Bunda Eliza, dia bicara dengan pelan; tidak ingin mengganggu menantunya yang terlelap.


“Sama Abang lagi ngomong.”


Sosok wanita paruh baya itu menghela napasnya dalam, dia kembali menatap Kirana yang terbaring. Sampai fokusnya terganggu karena sang anak yang sibuk mengunyah. “Kamu berisik, Purwa. Sana makan di luar.”


“Gak enak kamar VIP banyak yang ngisi, di sini aja. Buat apa ada sofa di sini.”



Dengan tenang, tautan tangan itu dilepaskan oleh Bunda Eliza. Dia menaikan selimut sampai batas pinggang, kemudian mengusap kepala Kirana sebelum gabung bersama dengan putri keduanya.


“Nah gitu, nangis juga butuh tenaga, Bun.”


“Gimana ceritanya Arjuna bisa tau?”

__ADS_1


Sambil membukakan makanan untuk sang Bunda, Purwanti mulai menceritakan apa yang terjadi sebelumnya. “…… Emang Purwa udah curiga sih dari sebelumnya, Kirana makin kurus, sekitaran matanya keliatan lesu…,” ucapnya sambil sibuk mengunyah. “Dia pingsan, terus dibawa ke sini sama Abang. Jadi ketahuan, kanker otak ‘kan?”


“Jangan ucapkan penyakit laknat itu, bikin Bunda merinding.”


“Tapi Purwa ‘kan kuliah di jurusan Kimia, emang obat Kemoterapi ngaruh banget buat janin. Minimal bikin premature, Bun.”


“Bagusnya sih gimana sekarang?”


“Purwa mana paham, masalahnya ini kankernya udah stadium lanjut. Coba kalau masih awal awal, obat kemo yang dikasih kan dosisnya rendah. Ini dimana dikasih yang rendah juga gak akan mempan.”


Bunda Eliza diam, kalut dengan pikirannya sendiri, namun tidak menghentikan bibirnya untuk terus mengunyah. Dia butuh tenaga untuk bisa hidup dan menghadapi semua ini. “Kamu pulang aja, gak papa Bunda yang jagain Kirana di Jakarta.”


“Purwanti mau nempatin apartemen punya Abang ya, Bun?”


Kening Bunda Eliza berkerut. “Kamu mau ngapain di sini? Bukannya lagi nyusun?”


“Di sini ajalah nyusunnya, lagian biar gak LDR sama pacar.”


“Kamu punya pacar?”


Purwanti mengangguk. “Punya, tapi dia sibuk kok, jadi jarang ketemuan.”


“Awas kamu kalau misalnya ngajak pacar kamu ke apartemen. Lihat dan pahami Abang kamu sendiri, ganteng ganteng kelakuan kayak setan.”


“Iya, Bun. Purwanti mah milih milih kali. Boleh ya?”


“Bilang aja nanti sama Abang kamu.”


“Lah, Bunda yang bilangin lah bantu Purwa, nanti yang ada Purwa malah ditoyor sama Abang.”


“Gak bisa lah, tanggung jawab sendiri.”


Dan perdebatan ibu dan anak itu membuat Kirana bergerak dalam tidurnya. Yang otomatis membuat dua orang itu mematung dengan mata melihat Kirana yang berbalik posisi kemudian terlelap lagi.


“Ya allah, selamat,” gumam Bunda Eliza. “Udah sana kamu keluar, berisik banget sih. Kalau bisa ambilin baju di rumah buat ganti, beberapa hari ke depan Kirana bakalan di sini.”


Purwanti berdecak, “Yaudah, bentar makan dulu.” Dia segera menghabiskan makannya dan keluar dari rumah sakit itu.


Dalam perjalanan di koridor, Purwanti mendapatkan telpon dari sang kekasih. Dia segera mengangkatnya. “Hallo, Kak Mario?”

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE


__ADS_2