
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
Purwanti tengah berjalan menuju ke sebuah kantin rumah sakit tempat pengunjung bisa membeli makanan tanpa keluar dari gedung. Sembari menunggu bar pemesanan kosong, Purwanti memilih untuk mengangkat telpon dahulu dari sang kekasih rahasianya; Mario.
“Hallo, Kak?”
“Kamu dimana?”
“Di rumah sakit, kan aku udah bilang di chat, salah kakak gak aktif beberapa hari, kemana aja? Kenapa baru ngehubungin sekarang?” tanya Purwanti mengeluarkan kekecewaannya.
“Kakak ada di halaman rumah sakit.”
“Wah, kakak ngapain ke sini?”
“Sini aja dulu.”
“Bentar.” Dia menutup telponnya, memesan pudiing yang diinginkan Kirana sebelum berlari menuju halaman untuk menemui sang kekasih. Dimana di tempat biasa, mereka saling menemukan. “Kak!” panggilnya dengan riang.
Bahkan sejak Merlinda memperkenalkan Mario sebagai kakaknya, saat itulah Purwanti jatuh hati. Sampai sekarang mereka akhirnya bisa menjalin hubungan, meskipun Mario sering sekali menghilang, Purwanti sudah merasa tidak aneh. Dia tetap bahagia setidaknya memiliki pria itu di sisinya.
“Kirana sakit lagi?” tanya Mario yang dibalas anggukan oleh Purwanti.
Dia malas membahas orang lain dalam hubungan mereka, tapi mau bagaimana lagi, Purwanti tidak ingin membuat Mario tidak nyaman dengannya. Hingga dia duduk saja di bangku taman dengan mudahnya. “Kakak ngapain ke sini?”
“Nganter Merlinda.”
“What? Meri di sini? Ngapain?”
“Mau ketemu dosen, biar kelar semuanya. Terus balik lagi ke Amerika.”
__ADS_1
“Gimana kabar dia? Udah mendingan? Eh, kalau Meri ketemu sama Bang Juna sama Kirana gimana, kak?"
“Kirana parah banget ya?” gumam Mario menatap khawatir pada Purwanti. “Bayinya gak papa? Abang kamu berulah lagi gak?”
“Enggak, mereka baik baik aja. Kirana sama bayinya gak papa, tapi dia masih tetep nolak kemo sih. Nunggu bayinya lahir, baru kemo.”
Mario mengangguk anggukan kepalanya paham.
“Kak, jangan bahas dia mulu napa,” ucap Purwanti yang mana membuat Mario menoleh. Menatap sosok perempuan yang kini menjadi kekasihnya, wajahnya yang mirip dengan Arjuna sedikit membuat Mario kesal.
Jujur saja, dia memang bodoh membenci Kirana, tapi Mario tidak menyesal karena masih membenci Arjuna, pria itu harus mendapatkan balasan karena menyakiti adiknya, tapi bukan Kirana yang menjadi tumbal.
“Kak? Kenapa bengong? Kakak gak akan ikut ke Amerika ‘kan?”
“Enggak,” jawab Mario.
“Itu Meri dimana? Gimana kalau ketemu sama Bang Juna?”
“Gak akan, Abang kamu di ruang VVIP ‘kan? Meri ada di ruangan dokter di lantai bawah. Mereka gak akan pernah ketemu.”
“Kakak gak ke kantor lagi?” tanya Kirana saat mendapati suaminya itu terus saja menggenggam tangannya sambil duduk di bibir ranjang; berhadapan dengan Kirana yang bersandar di kepala ranjang.
“Nggak, mau sama kamu di sini.”
“Kan kata dokternya tadi aku udah gak papa, tadi syok aja. Janinnya juga gak kenapa-napa. Itu dari tadi telpon kakak bunyi loh, kenapa gak diangkat?”
“Paling dari kantor.”
“Penting tuh, angkat dulu, Kak.”
Arjuna menggeleng, masih menunduk memainkan jemari Kirana. Sedari tadi dia memperhatikan tangan yang begitu kurus dan juga putih, membuat dirinya merasa bersalah.
“Kak.”
__ADS_1
Saat Kirana mengeluarkan suara bergetar, barulah Arjuna menegakan badannya dan membalas tatapan sang istri. Dia tidak boleh lemah dan membuat Kirana ikut melakukannya. “Gak papa, Sayang, Kakak Cuma capek tadi abis kerja, makannya sekarang sama asisten kakak yang pegang. Coba sini peluk kakak, biar kakak ada energy.”
Kirana terkikik dan segera melakukannya. “Awas perutnya kejepit.”
“Enggak, dede bayi kan pengertian. Gak kejepit ya, Dek?” arjuna bermonolog sembari mengusap pinggang sang istri penuh kasih sayang.
“Kak, mau pulang.”
“Nunggu satu labu abis ya.”
“Bosen di sini.”
“Mau main catur?”
“Ih kakak,” ucap Kirana kesal, dia mengerucutkan bibirnya yang dibalas kecupan oleh Arjuna. Untung saja Bibi Pembantu sudah pulang lebih dulu atas permintaan Arjuna untuk menyiapkan kamar di lantai pertama supaya Kirana tidak usah naik turun tangga.
“Mau jalan jalan? Bentar lagi abis kok itu infusnya.”
“Oh iya, aku mau pudding, tapi Purwanti belum ke sini lagi.”
“Yuk, kita ke sana. Pake kursi roda tapi ya?”
Kirana yang menurut itu membuat Arjuna gemas sendiri, dia membubuhkan kecupan di dahi sang istri sebelum mengambil kursi roda dan menempatkan istrinya di sana. Dia mendorongnya menuju ke lantai bawah, mencari makan yang diinginkan sang istri.
“Padahal aku bisa jalan loh.”
“Jadi mau jalan nih?”
“Hehehe, enggak. Mau didorong sama Kakak.”
Seringkali tingkah Kirana yang sekarang membuatnya gemas, hingga kecupan di puncak kepala dilakukan berkali-kali. Sampai mata Kirana melihat sosok yang tidak asing yang baru saja keluar dari sebuah ruangan. “Kak Meri?” gumamnya.
Tapi didengar oleh sosok itu, dia menoleh dan mendapati pasangan yang sangat dia benci. Dia terkekeh sinis. “Kanker ya? Itu balasan dari Tuhan,” ucapnya sarkas.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
TBC