
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
Arjuna masih menunggu kabar baik dari Bunda Eliza, dia berharap setidaknya ada sesuatu yang membuatnya menghela napas lega. Dimana Kirana bisa berobat meskipun dalam keadaan hamil. Yang membuat sel kanker itu berhenti menggerogoti tubuh istrinya. Hal yang mana membuat Arjuna tidak berhenti berdoa agar Allah memundahkan semuanya.
Namun, sepertinya hal itu belum ada di pihaknya. Saat Arjuna masih di dalam ruang rapat; sementara bawahannya yang lain sudah pergi, Arjuna mendapatkan telpon dari sang Bunda. Dengan exited dia mengangkatnya.
“Hallo assalamualaikum, Bun. Gimana?”
“Bang…., Bunda minta maaf ya.”
Sontak kalimat itu sudah menggambarkan semuanya, Arjuna menegang di tempat. “Maksud Bunda gimana?”
“Tetep, Bang, harus ada prosedurnya untuk pengobatan Kirana. Kalau gak mau membahayakan bayinya, harus nunggu lahiran.”
“Lahiran normal gitu, Bun?” tanya Arjuna frustasi.
“Terus? Operasi? Sama, Bang, penjelasan di sini bakal bikin Kirana komplikasi.”
“Lalu apa yang Bunda dapat di sana?”
“Seenggaknya teknologi di sini lebih maju, obat obatan mereka lebih aman dan tidak menimbulkan efek samping jika Kirana sudah melahirkan.”
Arjuna terdiam, dia memijat pangkal hidungnya, menghela napasnya begitu berat. Arjuna tidak pernah sefrustasi ini, setakut ini. “Bun….”
“Abang jagain dia ya, tunggu dia sampai lahiran. Abang itu sandarannya Kirana, coba bikin Kirana lebih nyaman lagi, Bang. Supaya dia kuat lewati semua ini. abang ngerti ‘kan?”
“Iya, Bun. Makasih ya,” ucap Arjuna dan memilih untuk mematikan telponnya. Dia menatap keluar jendela dengan tatapan yang sendu.
__ADS_1
Bekerja saja menjadi tidak konsentrasi, pikirannya teralihkan dengan semua ketakutan yang timbul itu.
Hingga akhirnya terdengar suara ketukan, sang asisten pribadinya masuk.
“Ada apa? Tidak ada pekerjaan lagi bukan?” tanya Arjuna malas.
“Seorang satpam melaporkan kalau Nyonya Kirana dibawa ke rumah sakit, Tuan.”
Tanpa berkata apa apa lagi, Arjuna mengambil jas yang sebelumnya dia lepas. “Kau urus pekerjaan kantor, jangan mengganggu."
“Baik, Tuan.”
🌹🌹🌹🌹
“Ibu….”
“Bi, tenang. Udah gak papa kok, liat nih udah biasa lagi,” ucap Kirana mencoba menenangkan Bibi Pembantu yang ada di sampingnya.
Kirana masih trauma seseorang mencoba menyakiti bayinya lagi.
“Ibu mau makan? Makan apa? Saya harus gimana?”
“Bibi yang tenang aja, lagian Kirana sekarang udah baik baik aja kok,” ucap Kirana menggenggam tangan si Bibi pembantu.
“Bibi tadi bilang sama satpam buat telpon bapak. Gak papa, Bu?”
Mau marah pun, sudah tterlanjur. Jadi Kirana menangguk saja. Dia pasti akan mendapati Arjuna yang memperlihatkan raut wajah khawatir padanya.
Jadi saat mendengar suara pintu terbuka, keduanya menoleh. Namun sesaat kemudian wajah tegang itu tergantikan. “Purwa?” gumam Kirana.
“Mbak, aku tadi ke rumah, katanya Mbak di bawa ke rumah sakit. Gimana sekarang? udah enakan? Masih pusing? Gimana kata dokter?”
__ADS_1
“Gak papa, Cuma pusing biasa. Sekarang udah enggak, kok kamu jam segini tumben keliaran?”
Purwanti menghela napasnya, melihat Kirana yang pandai mengalihkan percakapan. “Iya, emang gak ada kegiatan. Bang Arjuna udah tau?”
“Tau, Non. Tadi saya suruh satpam buat nelpon,” ucap si Bibi sambil melangkah menjauh, membiarkan kursi di bibir ranjang itu ditempati oleh Purwanti.
Dimana sang adik ipar itu kini menggenggam tangan Kirana. “Mbak, kamu menyedihkan tau gak.”
Kirana hanya terkekeh. “Mau pulang, gak betah di sini.”
“Tunggu dulu seenggaknya sampe satu labu itu habis.”
“Gak suka bau rumah sakit.”
“Demi kandungan kamu, Mbak,” ucap Purwanti sambil mengusap perut Kirana yang membuncit. Kasihan dengan calon keponakannya. “Mbak mau makan sesuatu gak? Aku beliin?”
“Mau pudding ya.”
“Oke.”
Purwanti keluar dari ruangan itu. Dan alangkah kagetnya saat berbelok menuju jalan lorong, Purwanti mendapati Arjuna di sana sedang duduk di bangku panjang sambil menunduk. “Bang? Itu kamu kan?”
Purwanti mendekat, dia duduk di samping Arjuna yang bahunya tengah bergetar. Tangan Purwanti mengelus punggung sang Kakak. “Bang?”
“Abang harus gimana? Abang bukan suami yang baik, Abang bukan calon ayah yang baik. Apa anak abang nantinya bakal benci sama Abang karena gak buat ibunya bertahan? Abang harus gimana?”
Yang mana membuat Purwanti memeluk kakaknya seketika dan menggelengkan kepalanya. “Nggak, Bang. Abang udah ngelakuin yang terbaik.”
Di sisi itu, Purwanti baru melihat bagaimana sosok kakaknya begitu rapuh.
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
TO BE CONTINUE