
Tuan Alan mengantar mereka ke lorong di sebelah kanan restoran, private room itu terletak di paling ujung. Lorong itu begitu sepi dan tidak ada pelayan yang hilir mudik.
Pelayan wanita membukakan pintu dan mempersilakan keduanya masuk.
"Silakan masuk, Tuan dan Nyonya Anderson. Menu sarapan pagi ini khusus kami siapkan untuk Anda, yaitu makanan khas Bali. Bila Anda hendak menambah makanan ini lagu, jangan sungkan untuk menghubungi kami karena kami akan segera menyiapkannya untuk Anda," ucap pelayan wanita itu sambil membungkuk sopan.
Tuan Alan sudah berpesan pada seluruh karyawan hotel untuk memperlakukan Anne dan Robert bak raja dan ratu karena mereka adalah salah satu petinggi Hotel Diamond Park. Hanya Tuan Alan yang tahu bahwa Robert adalah sangat CEO Black Diamond Group.
"Baik Tuan dan Nyonya, saya permisi dulu. Bila butuh sesuatu, silakan tekan tombol telepon di atas meja pantry itu. Terima kasih." Pelayan segera keluar dan menutup pintu. Robert segera mengunci pintu dari dalam untuk mencegah orang luar masuk dan mengganggu kegiatan sarapan mereka nanti.
Berikutnya, alunan musik jazz terdengar mengalun lembut mengiringi sarapan pagi itu.
Mata Anne menatap menu prasmanan itu dengan antusias. Dia segera melihat nama-nama makanan yang tertera di depan kotak prasmanan.
Appetizer
Sayur Urap
Cram cam
Pakis Kacang Merah
Soup
Garang Asem
Main Course
Nasi Putih
Bebek atau ayam betutu
Sate lilit
Ikan panggang
Sambal matah
Dessert
__ADS_1
Es daluman
Es brem (bir khas Bali)
Aneka potongan buah
Klepon
Drink
Sweet Ice Tea
Orange Juice
Robert yang sudah kelaparan segera menyendok makanan ke piringnya dan juga menyiapkan untuk Anne. Dia akan memberi kejutan indah nan intim untuk Anne setelah sarapan pagi.
Anne pun segera duduk di samping Robert dan melayani suaminya makan di sofa empuk itu. Dia berbisik manja, "Aku wanita penghiburmu hari ini, Sayang."
"Siap, Sayang, yuk makan dulu." Robert segera makan suapan dari Anne.
"Rob, aku ingin berbelanja oleh-oleh untuk keluargaku, teman-teman kantorku dan Tuan Matt. Boleh 'kan?" tanya Anne.
"Oke, Sayang." Anne segera duduk di pangkuan Robert sambil celingak-celinguk menengok apakah ada kamera CCTV atau tidak di ruangan itu.
"Tenang saja, tidak ada kamera CCTV di sini." Robert mengelus bahu Anne menenangkannya. Anne amat senang dan mengalungkan lengannya di leher Robert lalu menciumnya mesra.
"Rob, aku sudah memikirkan perkataanmu. Aku setuju untuk menjadi ibu rumah tangga bila kita sudah punya anak nanti. Aku ingin anak-anak kita cukup kasih sayang, tidak seperti diriku ini. Kita akan mendidik anak-anak kita dengan sekolah skill sehingga mereka bisa mencari uang terus ketika mereka sudah tua pun. Soal uang, aku percaya kamu pasti bisa mencukupi hidup kita nantinya. Aku percaya pada kemampuanmu, Sayang." Anne menatap Robert dengan sendu.
"Dua anak saja sudah cukup, kita bisa bersenang-senang sehabis itu. Kalau anak terlalu banyak, aku tidak akan bisa menyentuhmu lagi, mereka akan mendominasimu sepanjang hari huhh," cibir Robert bercanda.
"Satu saja belum ada, Rob, haha," tawa Anne manja sambil mengecup pipi Robert.
"Jangan takut. Kita sama-sama subur, pasti sepulang dari sini, kamu akan hamil," ujar Robert sambil mengelus perut rata istrinya.
"Ahhhaaha oke Sayang," tawa Anne.
Mereka melanjutkan sarapan pagi dengan lahap. Anne tampak menyuapi Robert dengan telaten. Dalam hatinya dia berjanji untuk mencintai Robert dan memuaskan hasrat mereka sebaik-baiknya di liburan ini.
Robert menatap mesra Anne, lalu diciumnya istrinya dengan rakus. Ciuman itu menjadi liar, ganas da menuntut. Tangan nakal Robert masuk ke bawah dress Anne, menyibak sedikit roknya, dan membuka ****** ***** Anne dalam sekali tarikan. Jemarinya dengan lihai mengaduk-aduk liang inti Anne hingga cairan Anne mengalir deras.
__ADS_1
"Sayang auhhh jangan nakal ahhh, bagaimana kalau ada yang masuk? Bahaya, kita bisa ditangkap atas tuduhan asusila," ujar Anne cemas. Mulutnya bilang cemas, tapi area intinya basah sehingga Robert yakin bahwa Anne sesungguhnya menyukai kocokannya.
Robert diam saja dan membuka resleting gaun itu dan menarik gaun itu keluar dari tubuh Anne. Bagian atasnya ditutupi bra renda warna biru muda, sedangkan bagian bawahnya terpapar polos, menantang kejantanan Robert untuk segera memporak-porandakan istrinya di sofa.
Robert sudah mengatur staf hotel agar tidak mengganggu keintiman mereka selama menginap di sini. Private room ini sudah diatur keamanan privasinya untuk sang CEO. Tidak ada yang bisa masuk ke sini tanpa seizin Robert. Private room ini didesain istimewa. Ada beberapa connecting door di sini yang mengarah ke private beach, private swimming pool dan sebuah kamar Presidential suite untuk istirahat aka bercinta.
Dalam satu gerakan tangkas, Robert membuka kait bra, dan melemparkannya ke sembarang arah. Dia segera menidurkan Anne di sofa. Gairahnya memuncak saat melihat tubuh seksi Anne.
"Sayang, cepat buka bajumu, sentuh aku cepat Rob," pinta Anne parau, tangannya meremas bukitnya sendiri sehingga tampak begitu erotis di mata Robert.
Segera saja Robert membuka pakaiannya dan membuangnya ke lantai. Dia membungkuk dan menindih Anne, tangannya menaikkan kedua tangan Anne sampai ke atas kepalanya. Keduanya saling mencium dengan lahap, lidah Robert membelit lidah istrinya. Perlahan dia mencium kening, alis, hidung, pipi, dan dagu Anne. Kemudian, dia meninggalkan jejak stempel kepemilikannya di leher, bahu, bukit kembar, dan di sekujur tubuh Anne.
Tubuh Robert bergerak makin turun. Sekarang kepalanya ada di bagian lobang inti istrinya. Dia menaikkan sedikit paha Anne, lalu menyangga pantat Anne dengan telapak tangannya.
Lagi-lagi Anne dibuat terkejut oleh gaya pemanasan Robert. Benda tak bertulang mengobrak-abrik area intinya. Cairan kenikmatan Anne mengucur deras bercampur dengan saliva Robert. Hingga akhirnya Anne menegang saat lidah suaminya memutar-mutar kacang almond miliknya, seketika getaran dahsyat melandanya. Kedua pahanya mengapit kencang kepala suaminya, dan dia pun mengerang keras sambil menarik rambut suaminya.
"Robbbb Sayang auhhhhh ahhhh aku getarrrr, ohhh enakkk Sayang." Anne meraung kesetanan saat gelombang kenikmatan melandanya.
Tanpa banyak bicara, Robert membuka lagi paha Anne sehingga memberinya ruang untuk penyatuan. Sosisnya sudah tegak jaya sedari tadi, lalu segera dimasukkannya ke lobang sempit Anne.
"Ahhhh, aku masuk Sayang, semuanya masuk, kamu bisa rasakan diakah?" Robert segera bergerak maju mundur, dia begitu terangsang karena suasana bercinta yang amat baru, yaitu di private room yang kondusif dan nyaman.
Mulutnya mencecap kekenyalan dua daging putih besar yang polos menantang itu. Dia pun tak lupa memberi banyak kiss mark di area kenyal itu.
Anne berlabuh memeluk dada Robert sembari berciuman saat Robert sedang mencangkulnya. Dia merasakan kehangatan dan kemesraan terdalam saat bercinta dengan suaminya.
Entah sudah berapa kali keduanya menyatu dan hingga akhirnya keduanya melenguh keras saat pelepasan itu terjadi. Banjir keringat di sekujur tubuh keduanya.
"Rob ahhhh ahh, aku lemasss!"
"Anneeeee, Sayangggg ahhhhh."
Mereka sudah menghabiskan tiga jam di private room itu. Robert baru memulai permainannya hari ini karena masih ada jadwal kegiatan panas berikutnya menanti.
"Anne pasti suka bila dia tahu adegan panas novel romantisnya terwujud di liburan kami ini, dia pasti senang impian liarnya terwujud!" batin Robert senang.
***
Yuk dukung terus karya pertama author dengan klik like, vote, favorit dan bagi koinnya jika kamu berkenan ya, thanks.
__ADS_1
IG @cindy.winarto