Suami Yang Tak Biasa

Suami Yang Tak Biasa
Part 43


__ADS_3

Oma Tinka sudah mencurahkan isi hatinya. Sesekali Nyonya Sandra dan Tuan Ridhan masuk ke ruangan Oma Tinka, tapi tidak lama. Hari sudah siang, Anne dan Robert pamit pulang.


"Lain kali kalau mau pergi jalan-jalan, kasih tahu Ibu. Beli oleh-oleh yang banyak, 'kan kamu naik pesawat, bukan naik mobil," cibir Nyonya Sandra.


"Berapa biaya liburan kemarin, kalian menginap di mana? Apa kamu yang bayar atau Robert yang bayar semuanya?" cecar Tuan Ridhan.


"Kami menginap di hotel bintang dua yang murah meriah, Robert yang bayar semuanya. Ayah, Ibu, kami pulang dulu ya." Anne tidak mau menyahut lebih banyak lagi. Dia sengaja berbohong soal hotel bintang dua, supaya orang tuanya tidak bertanya lagi dan tentunya untuk mencegah iri sosial.


Begitulah tabiat kedua orang tuanya. Terlalu ingin tahu gaji orang lain, printilan detail hidup orang lain, sampai hal-hal kecil pun tetap ingin tahu. Seakan mereka merasa senang jika keadaan mereka di atas orang lain dan mensyukuri jika keadaan orang lain susah. Memang ini sifat dasar manusia, tapi yang paling sedih adalah jika orang tua kita sendiri yang seperti ini.


***


Di rumah Anne.


"Ibumu tukang komplain terus ya, ck ck. Kasihan sekali Oma Tinka tadi." Robert sebal sekali, tapi bagaimana pun mereka adalah orang tua Anne. Tidak ada Anne tanpa mereka, bukan? Jelek bagus, tetap orang tua sendiri karena kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita.


"Sudahlah Rob, tidak apa-apa." Anne segera masuk ke kamar mandi di dekat dapur untuk mandi.


Robert sedang menyiapkan makan malam. Untung tadi Kepala Pelayan Su sudah mengirim sopir untuk menaruh lauk dimsum simpel di kulkas.


"Sayang, ayo mandi dulu, jangan pegang makanan dulu," seru Anne dari kamar mandi.


Seperti biasa, pintu kamar mandi tidak ditutup sehingga Robert bisa menerobos masuk dan melihat tayangan film kesukaannya. Dengan cepat dia melepaskan bajunya dan melemparnya ke mesin cuci.

__ADS_1


"Aku ikut mandi bareng yah, asyikkkk," ujar Robert senang.


"Terima kasih sudah mengantarku ke rumah orang tuaku ya, cup cup cup," kata Anne sambil mengecup pipi Robert cepat.


"Aku mau ini, ini, ini, ini, pleaseee," ujar Robert sambil menunjuk area favoritnya di tubuh Anne.


"Boleh, tapi kamu yang kerja ya, aku mau jadi penonton saja, mau lihat di kaca semua adegan ini hehehe," ucap Anne dengan nada genit.


Tanpa banyak bicara, Robert memulai ritual mandi mereka dengan penuh adegan dewasa kesukaan mereka berdua. Keduanya larut di dalam kenikmatan surga dunia, menyatukan tubuh dan hati mereka berdua, serta melepaskan semua getaran indah dan benih-benih asmara ke rahim Anne.


***


Makan malam bersama. Keduanya seperti biasa memakai pakaian ala kadarnya kesukaan masing-masing, Anne dengan lingerie mini warna cream dan Robert dengan celana boxernya.


"Rob, kenapa punyamu besar dan licin sekali?" tanya Anne.


"Hei, dasar suami mesum. Yang aku tanya itu dimsum di piringmu. Kenapa ukuran dimsum kamu itu big size dan licin sekali, kamu beli di mana itu?" sahut Anne sambil memutar bola matanya sebal kepada sang suami mesumnya ini.


"Oh, aku pikir kamu tanya tentang sosis jumbo melted cheese kesayanganmu hehehe, ternyata kamu tanya tentang dimsum ini," jawab Robert sambil cekikikan. Pikirannya memang tidak bisa jauh-jauh dari urusan panggang sosis di oven panas istrinya.


"Tentu saja yang aku tanya dimsum lah, Sayang. Kalau sosismu, tidak perlu kupertanyakan lagi, langsung tancap saja, enakkk," sahut Anne sambil manyun.


"Ini aku dapat bonus dimsum dari Black Diamond Sea Corp. karena aku platinum member. Enak 'kan?" ujar Robert senang.

__ADS_1


Anne pun refleks pindah ke pangkuan suaminya dan menyuapi dimsum dengan mesra. Dua daging kenyalnya tak sengaja menabrak muka Robert dengan lembut, sontak matanya membulat melihat keindahan keduanya.


Tentu saja, Robert senang punya istri seperti Anne, yang kulitnya putih mulus, bertubuh indah: bagian atas depannya mekar bak buah semangka raksasa, pinggang ramping, bemper belakangnya membal dan besar, serta yang terutama adalah area intinya yang sangat sempit dan memeras sosis jumbonya hingga isian cheese-nya melted dengan sempurna. Anne. Dia sudah berencana untuk menyuruh Anne melahirkan secara operasi caesar saja karena kondisi saraf kejepit dan skoliosisnya, juga supaya pintu bawah Anne tetap enak saat memanggang sosisnya walaupun sudah punya anak nanti. Dasar Robert, pikirannya betul-betul mesum habis.


"Sayang, hari Senin lusa ada orang dari showroom mobil akan antar mobil ke sini. Aku ambil kredit mobil. Sudah saatnya kamu berkendara dengan nyaman, apalagi kalau bawa banyak barang seperti hari ini," ujar Robert sambil memeluk istrinya.


"Ih, kamu memang punya yang dari mana Rob? Mobil apa yang kamu beli sih?" tanya Anne sambil memandang curiga suaminya.


"Aku beli Avanza silver saja, tentu dari uang tabunganku dong, Sayang. Sini, kasih aku upah dong." Tangan Robert makin tak terkendali saat berbicara, tali lingerie Anne sudah lepas dan tubuh atas Anne sudah terpapar jelas, keduanya pun larut dalam situasi panas. Tak butuh waktu lama, bagian bawah mereka berdua pun ikut lepas terlempar entah ke mana. Robert pun langsung membaringkan istrinya di sofa.


"Sayang, kamu mau menyogokku dengan mobil ya?" ujar Anne terengah-engah saat bibir mereka lepas sejenak.


"Kamu harus makin rajin buka warung, Sayang," ujar Robert mengelus seduktif area paha atas istrinya.


Anne merinding dengan sentuhan suaminya. Matanya memandang Robert penuh kekaguman. Kepalanya mengangguk pelan memberi kode pada Robert untuk segera memanggang sosis jumbonya, pahanya terbuka menantang. Robert segera tancap dan keduanya berseru nyaring saat penyatuan itu terjadi. Desakan demi desakan terjadi, membuat keduanya hampir mencapai puncaknya.


Anne dan Robert pun menggelepar bersama saat pelepasan itu terjadi. Mereka saling menyerukan nama pasangan masing-masing dan mengucapkan kalimat cinta bersama.


Mereka pun ambruk di sofa dengan saling berpelukan. Melted cheese aroma pandan membanjiri area inti dan paha Anne. Sementara sangat sosis perkasa terkulai lemas di atas paha sang nyonya.


Anne mengelus rambut halus di dada Robert dan berkata, "Terima kasih mobil barunya, Sayang. Aku sudah siap lagi, ayo ronde berikutnya."


Begitulah malam minggu ini diisi kegiatan sport pemacu urat dan keringat. Robert sangat senang karena Anne pun bergairah tinggi sehingga tidak sulit bagi keduanya untuk memenuhi kebutuhan biologis masing-masing. Salah satu minta jatah, yang lain langsung setuju.

__ADS_1


***


Dukung terus author dengan klik like, vote dan favorit, serta bagi koinnya jika berkenan ya. Thanks.


__ADS_2