Suami Yang Tak Biasa

Suami Yang Tak Biasa
Part 54


__ADS_3

Beberapa hari kemudian di ruko Nyonya Sandra. Hari sudah sore, ruko akan segera tutup, tapi Tuan Ridhan masih pergi mengirim barang ke pelanggan. Nyonya Sandra sudah kelelahan dan tidak sabar lagi untuk menutup toko dan beristirahat.


Sebenarnya Nyonya Sandra tidak begitu kuat menggeser pagar besi gerbang depan rukonya, tapi karena dia ingin cepat beres, dia nekat menggesernya sekuat tenaganya.


"Ah, ke mana suamiku, sudah lewat dari pukul empat sore, tapi belum juga pulang, capek sekali aku hari ini. Aku sajalah yang menggeser pagar besi itu, huh!" gerutu Nyonya Sandra kesal.


Lalu, dia segera berjalan ke pagar besi itu.


"Kreeekk." Bunyi gesekan pagar macet di relnya. Agak sulit memang, tapi harus dicoba lagi.


"Wah, susah sekali menggesernya, oh tidak. Aku coba sekali lagi lah. Satu, dua, tiga. Ahhhhh," teriak Nyonya Sandra sambil menarik pagar itu keras-keras.


"Gubrakkkkkkk."


Tak disangka, pagar besi itu malah keluar jatuh dari relnya dan menimpa Nyonya Sandra.

__ADS_1


"Ahhhhhh aduhhhh sakit sekaliiiii, sial sekali aku. Coba aku bisa sabar, aku tidak akan ketimpa pagar begini. Semua ini karena suamiku, bukannya cepat-cepat pulang huuuuhuuuuu," kata Nyonya Sandra sambil menangis tersedu-sedu. Dia betul-betul marah dan mengalahkan Tuan Ridhan atas kemalangannya sekarang.


Pagar besi itu menimpa lutut kiri Nyonya Sandra. Dia berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat pagar itu, tapi apa daya karena tidak kuat, dia tetap dalam posisi itu sampai Tuan Ridhan datang nanti.


"Tolongggg, tolongggg sayaaa, huuuu huuuu sakittttt, tolonggg," teriak Nyonya Sandra putus asa. Tidak satu pun orang lewat sehingga dia makin kesal.


Sekitar setengah jam kemudian, terdengar suara mobil truk mendekat.


"Bruuumm, bruuumm."


"Bu, kamu kenapa bisa jatuh tertimpa pagar besi begini? Kenapa tidak menungguku pulang, 'kan sudah aku bilang kalau pagar itu berat, kamu tidak mungkin bisa menggesernya seorang diri." Tuan Ridhan tergopoh-gopoh menolong istrinya. Sementara sopir membantu menegakkan pagar dan mengembalikannya ke jalur rel semula.


"Ahhhhh sakitttttt, Ayah, jangan keras-keras mengangkat aku, lutut kiriku sakitttt sekali, pelan-pelan jalannya hiks hiks," ujar Nyonya Sandra sambil menangis dan berjalan tertatih-tatih. Penampilannya sudah acak-acakan, berkeringat, dan ada lecet-lecet di tangan, lutut, dan betisnya. Namun, nyeri paling terasa di lutut kirinya.


"Pelan-pelan, Ayah. Aku tidak bisa jalan cepat-cepat. Pegang tanganku, Ayah," ujar Nyonya Sandra dengan amat kesakitan.

__ADS_1


"Kita ke dokter saja ya, Bu?" tanya Tuan Ridhan.


"Tidak, tidak usah, dokter mahal. Aku berbaring saja, tolong aku ganti baju dan bersihkan luka lecetnya pakai


Betadine. Lalu, balur arak gosok ke lutut kiriku." Nyonya Sandra memang pelit untuk biaya kesehatan, kalau tidak sakit parah, lebih baik istirahat di rumah, minum obat dan tidur saja.


"Besok aku akan telepon ke toko pagar besi untuk memperbaiki pagar agar tidak berat lagi saat digeser, huh harusnya dari kemarin-kemarin kita kerjakan, malah kamu yang kena musibah ini Bu," tutur Tuan Ridhan penuh sesal. Itulah akibatnya jika ingin terlalu berhemat dan menunda-nunda pekerjaan, malah jadi musibah pada akhirnya.


"Ini semua karena Ayah, aku tunggu-tunggu Ayah tidak pulang-pulang. Aku capek, lalu aku saja yang tutup pagarnya deh." Seperti biasa, Nyonya Sandra selalu menyalahkan orang lain atas musibah yang menimpanya. Dia begitu membenci suaminya karena menyebabkan musibah secara tidak langsung.


***


Yuk dukung terus karya author dengan klik like, vote dan favorit ya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2