Suami Yang Tak Biasa

Suami Yang Tak Biasa
Part 42


__ADS_3

Keesokan harinya mereka siap-siap sarapan pagi dan kemudian mau naik motor ke ruko Nyonya Sandra dan Tuan Ridhan.


"Hmm, sepertinya aku harus beli mobil untuk kami, barang bawaan begini banyak dan berat, risiko bisa jatuh atau rusak di perjalanan, dan bisa kehujanan juga. Aku bilang saja ambil kredit mobil lah daripada pusing diinterogasi nanti," batin Robert saat melihat kantong plastik oleh-oleh dari Bali plus masih ada sembako lagi.


"Oke, Sayang, aku sudah beres ya. Ayo cepat jalan." Anne sudah pakai jaket dan helmnya.


***


Sesampainya di ruko Nyonya Sandra, Anne segera menurunkan barang bawaannya.


"Ayah, Ibu, apa kabar? Aku datang membawa oleh-oleh dan barang kebutuhan Oma Tinka," kata Anne pada orang tuanya.


"Apa ini? Kamu dari mana, kok bisa bawa pie susu dll?" tanya Nyonya Sandra sambil memeriksa kantong bawaan Anne. Matanya menyipit dan mulutnya mengerucut iri.


"Oh, aku dari liburan ke Bali, Bu. Ini ada banyak aksesoris gantungan kunci, pensil kayu dll, bisa Ibu berikan buat customer toko ini supaya mereka senang dan belanja lagi," ujar Anne tersenyum. Dia berusaha mengambil hati ibunya supaya tidak marah.

__ADS_1


"Oke, terima kasih ya Anne, sana masuk dulu, temui Oma Tinka," kata Tuan Ridhan. Nyonya Sandra diam saja dan tetap duduk di meja dagangnya sambil membaca koran. Seperti biasa, Nyonya Sandra tidak mau ikut mengobrol bersama anak, menantu dan ibunya. Namun, bila Spencer dan istrinya yang datang, dia mau ikut mengobrol bersama.


"Baik, Ayah, Ibu," ujar Anne dan Robert serempak.


***


"Halo, Oma apa kabar? Apa Oma baik-baik saja? Bagaimana kondisi lutut Oma?" tanya, Anne sambil mengecup pipi Oma Tinka. Dia sangat kangen dengan Oma Tinka yang merawatnya sedari bayi.


"Baik, cuma kadang lutut suka kaku. Kalau siang, panas hawanya, baju basah semua. Kalau malam, udara dingin sekali, kaki kaku walaupun sudah pakai selimut. Ibumu marah-marah terus, apalagi kalau Oma mengompol, kencing berak di kasur, dia maki-maki Oma, suruh Oma pergi ikut paman kamu atau ikut kamu saja. Oma ikut kamu saja ya Anne, hiks hiks. Ibumu juga bilang kali dia harap Oma lekas mati saja," ujar Oma Tinka sambil menangis.


Oma Tinka terlalu menyayangi Nyonya Sandra sehingga mau melakukan apa saja untuk Nyonya Sandra, sedangkan itu malah jadinya tidak mendidik Nyonya Sandra untuk mandiri. Mungkin Oma Tinka merasa berutang budi pada Nyonya Sandra yang telah mengangkat derajat hidupnya, yaitu dari seorang pedagang makanan warteg menjadi ibu dari seorang pengusaha toko matrial.


"Oma, aku bukannya tidak mau mengurus Oma, tapi rumahku kecil, aku dan Robert bekerja, tidak ada pembantu. Uangku juga terbatas karena masih ada cicilan rumah dan motor. Oma yang sabar ya, jangan sedih, nanti Oma sakit lagi," ujar Anne. Air mata sudah hampir menetes di pelupuk matanya.


Robert diam dan berusaha memahami cerita Oma Tinka. Dia pun ikut sedih dengan keadaan Oma Tinka saat tinggal bersama Nyonya Sandra dan Tuan Ridhan. Suatu saat bila dia susah mengungkapkan jati dirinya pada Anne, ingin sekali dia memboyong Oma Tinka untuk tinggal di mansion Anderson. Namun, dia masih mempertimbangkan sikap Nyonya Sandra dan Tuan Ridhan yang senang melempar tanggung jawab, tidak mau repot, dan tidak mau rugi, tapi suka menyalahkan orang lain. Yang terbaik adalah biarkan Nyonya Sandra dan Tuan Handri yang merawat Oma Tinka. Melihat tabiat Nyonya Sandra yang betul-betul seorang netizen nyinyir/komentator pedas, ada baiknya Oma Tinka tetap dirawat oleh Nyonya Sandra saja. Atau boleh saja dia yang urus Oma Tinka, tapi dengan catatan, Nyonya Sandra dan Tuan Ridhan harus share biaya hidup dan pengobatan Oma Tinka, serta mencarikan pembantu yang khusus merawat Oma Tinka.

__ADS_1


"Sering-sering telepon Oma ya, Oma kadang merasa kesepian. Hanya nonton TV saja. Ibumu tidak mau masuk kalau Oma panggil untuk minta tolong. Dia lama sekali baru kemudian datang sambil marah-marah, katanya 'apa sih manggil-manggil terus', terus dua banting mug, banting barang ke arah Oma," tutur Oma sambil menangis.


"Oma sabar ya. Anne cuma bisa doakan Oma terus," sahut Anne pelan sambil memeluk bahu Oma Tinka.


"Ibumu bilang, 'mana itu si Anne, harusnya dia yang bawa Oma Tinka, 'kan dia yang diurus oleh Oma Tinka', hiks hiks, dia tidak tahu rasanya sakit stroke seperti Oma. Dulu dia pakai tenaga Oma waktu Oma sehat, sekarang Oma sakit, dia tidak mau urus Oma," ujar Oma sedih.


"Ya ampun, dasar wanita jahat dan licik. Dia yang suruh Oma Tinka mengurus Spencer dan Anne, kok sekarang dia suru Anne yan urus Oma Tinka sih. Cucu yang diurus oleh Oma Tinka 'kan ada dua, yaitu Spencer dan Anne. Kenapa tidak suruh Spencer saja sih yang urus Oma Tinka? Lagi pula, semua harta Halinger nantinya untuk Spencer 'kan. Ke mana istri Spencer, apa dia juga tidak mau mengurus Oma Tinka? Bukankah Anne sudah ditendang keluar, dan pengganti Anne adalah Renita itu?" batin Robert dengan sangat gusar.


"Oma ingin sekali lekas sembuh, bisa berjalan seperti dulu lagi. Oma ingin sekali pergi dari sini. Seandainya Oma punya rumah sendiri, Oma ingin tinggal sendiri saja. Sayangnya, Oma tidak punya rumah lagi, rumah yang di Kramat Jaya Baru sudah dijual dulu. Oma juga tidak punya tabungan lagi. Deposito Oma 30 juta rupiah sudah diminta ibumu untuk biaya berobat. Dia tiru tanda tangan Oma karena tangan kanan Oma sudah tidak bisa gerak untuk tanda tangan lagi 'kan. Hikss hiksss," ujar Oma Tinka lagi.


Air mata Anne menetes. Dia tidak menyangka ibunya setega itu merampas deposito Oma Tinka.


"Bukankah ibunya berbisnis toko matrial, yang artinya pasti punya uang dong? Sejak Anne dan Spencer menikah, otomatis artinya orang tuanya sudah lepas beban karena tidak ada lagi anak yang harus dibiayai 'kan? Kecuali jika Spencer, sang anak kesayangan yang secara diam-diam masih menerima bagian uang dari ibunya .... Menurut hasil laporan si Matt, Spencer ini lebih suka kerja kantoran daripada bantu panas-panasan di ruko matrial ini, dan dia pernah bilang minta uang minimal 10 juta rupiah sebulan jika dia harus kerja di ruko ini. Bodoh sekali dia! Ilmu dagang kedua orang tuanyalah yang harus dia utamakan, bukan uang dulu. Renita itu wanita pintar nan licik, tentu dia mau menikah dengan Spencer karena orang tuanya yang punya perusahaan matrial. Walaupun saat ini pekerjaan Spencer hanya sales produk kesehatan yang kecil gajinya, suatu saat dia akan menerima warisan dari kedua orang tuanya," pikir Robert dalam hatinya.


***

__ADS_1


Yuk dukung terus karya pertama author dengan klik like, vote, favorit, dan bagi koinnya jika kamu suka ya. Terima kasih.


__ADS_2