Suami Yang Tak Biasa

Suami Yang Tak Biasa
Part 73


__ADS_3

Robert diam sejenak, lalu dia berkata, "Tapi, ada syaratnya."


Nyonya Sandra mendelikkan matanya dan menyahut marah, "Hah, syarat apa lagi? Kukira kau adalah sang Dokter Dewa yang tidak akan meminta bayaran, tapi nyatanya kau minta syarat, huh!"


"Katakan, apa syaratnya, cepatlah!" seru Spencer tidak sabaran.


"Bagilah harta kalian dengan sama rata dan adil kepada Anne, maka aku akan mengobati semua penyakit Ibu." Robert memasang tampang serius dan bersuara dengan tegas.


"Apa kau bilang?! Bukan hakmu untuk mengatur bagaimana cara kami membagi harta kami kepada anak-anak kami. Lagi pula, kau hanyalah menanti saja di sini, kau bukan siapa-siapa, kau cuma orang luar!" raung Nyonya Sandra kesal.


"Kau pergilah! Kalau kau memang si Dokter Dewa yang terkenal suka berderma dan tidak meminta bayaran, seharusnya kau tidak lancang bicara tentang pembagian warisan. U Ketahuan sekali kau memanfaatkan cedera istriku untuk mendapatkan keuntungan pribadi saja. Kau memanfaatkan Anne untuk mendapat warisan. Dasar tidak tahu malu," ujar Tuan Ridhan dengan wajah kesal.


"Hei, kau itu cuma dokter gadungan saja. Apa itu Dokter Dewa? Cuma ingin merebut harta warisanku saja, huh!" seru Spencer marah.

__ADS_1


Anne menatap dalam diam semua kejadian yang sedang terjadi saat ini. Dia tidak menyangka Spencer akan mengucapkan kalimat tadi.


"Kalian selalu bersikap tidak adil kepada Anne selama ini. Padahal Anne selalu bersikap baik kepada kalian. Jadi, sudah sewajarnya sebagai orang tua yang baik, kalian memberikan warisan yang sama rata kepada Anne dan Spencer." Robert bersidekap dada dan bicara dengan serius.


"Robert, sudahlah, ayo kita pulang saja jika kamu sudah selesai bicara. Aku ingin pulang saja," ajak Anne sambil menyentuh bahu suaminya. Anne sudah merasa lelah sekali hari ini, apalagi bicara dengan keluarganya yang penuh dengan politik.


"Robert, kau dengar kata adikku? Pulang sajalah kalian!" seru Spencer dengan senyum licik di wajahnya.


Namun, tiba-tiba saja Nyonya Sandra berteriak kencang.


Anne dan Robert segera menghampiri Nyonya Sandra dan hendak menolongnya. Robert pun tanpa ragu segera mengeluarkan peralatan akupunkturnya.


"Hei, tunggu. Apa yang akan kau lakukan pada ibuku?" sentak Spencer sambil menarik tangan adik iparnya itu.

__ADS_1


Robert mengibaskan tangan Spencer dan segera mengoles alkohol ke jarum dan peralatan akupunkturnya. Tanpa banyak bicara, dia segera menusukkan jarum ke daerah lutut kiri ibu mertuanya, dan kemudian menusuk jarum ke titik meridian di area kepalanya juga.


"Ahhh, sakitttt," ujar Nyonya Sandra dengan napas tersengal-sengal. Matanya terpejam karena sambil menahan nyeri. Namun, perlahan-lahan nyerinya berkurang. Ajaib sekali. Perlahan-lahan, kerutan di dahinya mengendur, dia menjadi lebih rileks.


"Ibu, Ibu tidak apa-apa? Apa yang Ibu rasakan sekarang? Apa yang bedebah itu lakukan pada Ibu barusan?" tanya Spencer cemas.


"Hmm, Ibu merasa lebih enakan sekarang, aneh bin ajaib, tapi sepertinya Robert ini sungguh punya keahlian akupunktur deh," ujar Nyonya Sandra dengan terpaksa mengakui kehebatan menantunya saat mengobatinya tadi. Sudut matanya melirik Robert, tentu masih dengan tatapan curiga.


"Kau beruntung karena ibuku sembuh, kalau sampai terjadi apa-apa padanya, akan kubunuh kau!" ancam Spencer dengan nada sok galak pada Robert.


Sementara itu, Robert tetap diam sambil memikirkan sesuatu. Anne tampak gelisah dan ingin pergi segera dari sana.


***

__ADS_1


Yuk dukung terus karya author dengan klik like, vote, favorit dan poin ya. Thanks


__ADS_2