Suami Yang Tak Biasa

Suami Yang Tak Biasa
Part 45


__ADS_3

"Kamu beruntung Anne karena aku tidak memintamu menandatangani perjanjian pranikah dan medical check-up sebelum menikah. Risiko aku yang tanggung lho karena ku seperti beli kucing dalam karung. Lalu, amit-amit kalau kita bercerai, harta harus dibagi dua. Aku tidak tahu kamu bisa hamil atau tidak, ada penyakit turunan atau tidak. Tapi, aku langsung menikahimu 'kan." Robert lanjut bicara lagi.


"Iya sih, Sayang. Kamu baik sekali mau menerima aku apa adanya. Tapi, omong-omong, kamu memang punya uang berapa sampai mau bagi dua harta kalau amit-amit bercerai dariku?" tanya Anne sambil mencibir.


"Wah, hartaku sangat banyak dong," ujar Robert sambil membusungkan dadanya bangga.


"Dasar kamu suka bohong deh haha," ujar Anne sambil tertawa. Dia tidak tahu atau lebih tepatnya belum tahu tentang kekayaan suaminya.


Robert sudah berencana untuk membagi saham Black Diamond Group kepada Anne dan anak-anak mereka nanti. Seorang Nyonya Anderson tidak boleh dihina oleh keluarga Halinger.


Mata-mata Matt masih terus mengintai kegiatan sehari-hari Tuan Ridhan dan Nyonya Tinka. Robert masih menantikan informasi selanjutnya. Dia amat penasaran apa yang terjadi di masa lalu Keluarga Halinger yang tidak diketahui orang.


***


Makan malam kali ini dimsum simpel lagi dengan chili oil enak. Anne masih lapar dan mau makan mi instan dan telur untuk tambahan makanan.


Mereka mengobrol untuk rencana besok hari.


"Oh ya, besok tolong bantu bawakan oleh-oleh untuk teman-teman kantorku ya, aku tidak kuat bawa banyak barang sendirian," pinta Anne sambil tersenyum.


"Oke," sahut Robert.


Selesai makan malam, mereka istirahat sejenak sambil menonton TV dan membaca chat WhatsApp di ponsel masing-masing. Robert berbaring di sofa, sedangkan Anne duduk selonjoran.


Anne tampak cekikikan sendiri saat membaca chat group WhatsApp-nya.


Rey Ho: [ Anne, oleh-oleh besok jadi dibawa 'kan? ]

__ADS_1


Lisa: [ Aku sudah kerja rodi nih seminggu ini, melayani revisi SO, revisi BL dan COO, mostly customer kamu ini bermasalah after shipped out. ]


Deasy: [ Oleh-olehnya jangan lupa ya Anne, aku sudah kasih tips macam-macam gaya favorit pasangan suami istri. ]


Amy: [ Aku bantu angkat-angkat telepon kamu, Anne. Dari pabrik, customer pada telepon mencari kamu terus, sampai capek aku bilang kamu cuti liburan, ada yang penasaran sampai tanya detail ke mana lah, dengan siapa. Aku jawab saja, tidak tahu, rahasia. ]


Leny: [ Aku jadi kurir lho, Anne. Sampel, dokumen, memo, sudah aku distribusikan ke pihak yang bersangkutan. Yang paling susah ya minta approval memo dari CFO dan CEO, untung kita teman baik dengan sekretaris CEO, Asha dan Dila. Jadi, bisa dapat tanda tangan CEO cepat. Kalau CFO itu ribet sekali, untung sebelum kamu pergi, memonya sudah lengkap dengan analisis datanya. Memonya sudah aku scan dan email ya ke kamu. ]


Anne: [ Wah, Terima kasih banyak teman-temanku sayang. Oleh-oleh sudah siap, Teman-teman. Besok kubawa, tapi jangan dilihat dari harganya ya, maklum liburan murah meriah. Ada pie susu, pia Legong, kacang, dll. See you on Monday guys. ]


Sementara itu, isi WhatsApp Robert:


Matt: [ Tuan besok ada tukang kanopi datang. Staff dari dealer mobil akan datang mengantar mobil Toyota Avanza silver sesuai orderan Anda, Tuan Robert. ]


Robert: [ Oke, besok aku ada di rumah di atas pukul sembilan pagi ya. Segera siapkan concall dengan cabang kita yang di Eropa besok ya, aku mau dengar report penjualan batu bara bulan ini di Eropa. ]


Matt: [ Oke Tuan. ]


Setelah puas membaca ponselnya, Anne menaruhnya di atas nakas, lalu lanjut mengecek bayi besarnya, tangannya mulai membuka celana si bayi dan berkata, "Cek dulu ya, pipis kah bayiku ini? Lepas baju dan celananya ya Sayang, lalu minum susu lagi."


Si bayi besar langsung bersorak kegirangan saat bajunya dilepaskan, mulutnya bergerak menyesap minuman kesukaannya lebih lahap sambil melepas sisa lingerie di bagian bawah tubuh sang pemilik susu.


Tangan si bayi besar memeras kantong minuman kembar dengan nakal, berharap isinya keluar lebih banyak lagi. Si pemilik susu menepuk pipi si bayi besar dan menarik satu kantongnya yang sudah bengkak akibat gigitan bayi, lalu ganti menyodorkan kantong yang di sebelahnya yang langsung disantap nikmat oleh si bayi besar.


Usai drama minum susu, keduanya mulai bergulat panas hingga satu jam lebih. Si bayi besar ganti menyodorkan hadiahnya kepada si pemilik susu, yaitu sosis jumbo melted cheese. Pemilik susu dengan senang hati membuka lahan oven miliknya dan memanggang sosis itu segera. Si bayi besar asyik menggoyangkan sosis itu maju mundur atas bawah, saat sudah memanas oleh lahar campuran cairan uap oven dan pelumasnya, meledaklah isi melted cheese-nya. Pemilik susu dan bayi besar berteriak kesenangan saat peledakan itu terjadi.


"Anneeeee, Sayanggggg."

__ADS_1


"Rob, Sayanggggg."


Aroma pandan memenuhi bagian inti keduanya. Sosis dicabut ke luar dan terkulai lemas. Pucuknya lengket dan mendarat sebentar di pusar Anne. Robert segera mengambil tissue dan membersihkan sisa leburan lengket itu. Anne mencolek sedikit dan menjilatnya dengan penuh nikmat dan penghayatan. Mata Robert melotot melihat aksi istrinya yang liar itu.


***


Anne bersandar di dada bidang Robert. Keduanya sudah berpakaian usai mandi malam. Mereka asyik menonton TV di sofa ruang TV.


"Rob, apa boleh Oma Tinka tinggal di sini, kita saja yang merawatnya. Bagaimana menurutmu?" tanya Anne tiba-tiba.


"Tidak. Itu urusan ibumu dan Paman Handri," ujar Robert tegas.


"Mengapa begitu?" tanya Anne sedih.


"Itu bukan tanggung jawabmu. Aku tidak suka tabiat ibumu yang senang melempar tanggung jawab dan tidak mau rugi." Robert mencibir kesal.


"Ya kamu betul, tapi aku kasihan dengan Oma Tinka," ujar Anne putus asa.


"Kamu sudah banyak membantu dengan membagi uang bulanan, sembako, makanan dan lainnya. Kamu memberi dari segala kekuranganmu, padahal kamu bukan orang kaya." Robert masih kesal. Dia tahu Anne memang berhati mulia, tapi seringkali terlalu baik sehingga kebaikannya dimanfaatkan orang lain.


"Kamu sudah lihat sendiri 'kan Sayang, Oma Tinka makan seadanya saja. Walau ada uang dari Paman Handri, semuanya di-keep ibuku. Saat Oma Tinka ingin makan sapo tahu dan bakso saja, ibuku tidak mau membelikannya karena ingin berhemat dan malas keluar rumah. Ibu dan ayahku juga tidak bisa pakai aplikasi online untuk membeli makanan. Spencer pun pelit, tidak mau memesan makanan via online untuk mereka," keluh Anne.


Robert segera menulis chat kepada Matt: [ Segera atur orang untuk mengirim makanan beberapa hari sekali untuk Oma Tinka. Cari menu yang beragam agar tidak bosan. Bilang saja pengirimnya dari Anne. ]


Matt: [ Baik Tuan. ]


Kalau masalah makanan saja, mudah sekali untuk Robert mengaturnya. Dia tidak ingin Oma Tinka menderita di ruko Nyonya Sandra.

__ADS_1


***


Yuk dukung terus karya author dengan klik like, vote, favorit, dan bagi koinnya jika kamu suka ya. Terima kasih.


__ADS_2