Suami Yang Tak Biasa

Suami Yang Tak Biasa
Part 56


__ADS_3

Anne dan Robert sudah duduk di ruang tengah lantai satu ruko itu. Oma Tinka biasanya tidur di ruangan ini karena kondisinya yang sudah tidak bisa berjalan lagi. Terdapat meja makan, lemari baju, lemari dapur, TV, dapur, kamar mandi, ruang setrika, dan garasi yang diubah jadi ruang tidur dengan sebuah kasur single.


Pencahayaan di ruangan ini sangat minim karena ingin hemat listrik, dan agak sumpek rasanya. Lantainya hanya semen saja, hanya lantai dua yang pakai keramik karena terdiri dari ruangan kamar tidur di atas sana. Terdapat tangga besi melingkar yang sangat sempit dan curam, sehingga amat berbahaya bila kita menaikinya.


Di sudut atas plafon banyak sarang laba-laba yang tidak pernah atau mungkin jarang dibersihkan. Sungguh miris sekali, orang kaya kok pelit dan tidak menjaga kebersihan seperti ini.


Nyonya Sandra sedang berbaring di kasur. Tampak perban berisi kapas dan arak gosok di lutut kirinya. Matanya masih terbuka sesekali menatap anak dan menantunya. Di sampingnya ada sebuah meja kecil berisi air minum, camilan dan tissue. Di dekat meja juga ada kursi bolong dengan ember penadah di bawahnya, tampaknya Nyonya Sandra kesulitan berjalan ke kamar mandi sehingga aktifitas mandi, sikat gigi, buang air kecil dan besar dilakukan sambil duduk di kursi bolong itu. Pantas saja ruangan ini agak berbau tidak sedap.


"Halo, Bu. Bagaimana lutut kirinya, Bu?" tanya Anne sopan dan kaku.

__ADS_1


Yah, dia memang tidak terlalu dekat apalagi sampai akrab dengan ibunya, terlebih dia tahu ibunya tidak menyayanginya dan ada jurang jarak di antara keduanya. Namun, bagaimanapun dia tetap harus baik pada ibunya. Apa pun itu namanya, formalitas kah atau tulus pun, tetap harus datang menyapa ibunya yang cedera.


"Yah, lutut kiri Ibu luka dan nyeri karena ketimpa pagar. Semua gara-gara ayahmu, Ibu jadi terluka begini. Nyeri sekali. Sudah dibungkus pakai arak gosok, tapi tetap sakit." Nyonya Sandra mengerucutkan bibirnya ketika bercerita. Hatinya masih kesal sekali saat mengingat tragedi kecelakaan pagar dua hari lalu itu.


"Oh gitu. Oh ya Bu, ini ada sembako untuk Ibu seperti biasa. Jangan banyak bergerak dulu Bu, semoga lekas sehat," ujar Anne pelan. Dia betul-betul merasa tidak nyaman dan ingin cepat pulang dari ruko suram ini.


"Ya, terima kasih. Ibu masih belum bisa berjalan, makanya pakai kursi bolong itu. Untungnya ada tongkat kaki empat punya Oma kamu, Ibu bisa pakai untuk berjalan. Entah kenapa lutut kiri ini nyeri sekali." Nyonya Sandra memegang ujung tongkat untuk menunjukkan pada putrinya. Sementara, Robert masih diam saja mengamati interaksi mereka berdua.


Sungguh aneh dan miris sekali, seorang anak yang dibenci orang tuanya, penghasilannya pun tak seberapa, tetapi harus memberi uang pada orang tuanya yang notabene adalah pengusaha tajir. Memang wajar jika seorang anak memberi berkat uang, barang dan mengajak orang tuanya makan dan jalan-jalan. Akan tetapi, kondisi keuangan Anne belum terlalu mapan walau sudah kelar cicilan rumah dan motornya, tapi tetap saja, sangat tersiksa mempunyai orang tua yang seperti lintah, menyedot anaknya sampai kering kerontang. Anne sudah tahu betul tabiat orang tuanya, walau di mulut bilang tidak usah kasih uang bulanan, hati mereka tetap berharap dikasih uang. Pernah suatu waktu dulu, Anne yang masih polos, menelan mentah-mentah ucapan ibunya dan hanya memberi angpau di momen tertentu saja, seperti ulang tahun, hari raya keagamaan dan tahun baru. Ibunya langsung marah, memajukan mulutnya dan sinis pada Anne. Sejak saat itulah Anne kapok dan tetap rutin mengirim uang bulanan, bahkan ditambah angpau ulang tahun, dll.

__ADS_1


"Meong, meong."


Tiba-tiba ada seekor kucing bulu kuning putih naik ke meja makan. Kucing betina itu mengendus-endus nasi dan lauknya. Lalu, kucing itu turun dan duduk di lantai.


"Hiiy ada kucing, hus hus," ujar Anne terkejut sambil mengibaskan tangannya ke arah kucing. Bukannya takut, kucing itu malah mendekat manja ke kaki Anne dan berbaring di kaki Anne.


"Itu si Keto. Keto ck ck ck ck, duduk di situ, jangan naik-naik, ini ada anak dan menantuku." Nyonya Sandra bicara pada si Keto, seolah-olah kucing itu paham bahasa manusia saja.


Anne dan Robert melongo melihatnya. Jorok sekali sih, masak ada kucing sampai naik ke meja makan. Betapa tidak sterilnya rumah ini. Jorok sekali.

__ADS_1


***


Yuk dukung terus karya author, please like, vote, favorit dan bagi koinnya ya jika kamu suka ya, terima kasih semua.


__ADS_2