Suami Yang Tak Biasa

Suami Yang Tak Biasa
Part 44


__ADS_3

Hari Minggu pagi tiba. Aktivitas pagi ini masih seputar membereskan rumah, mencuci baju kotor, menjemur, menyetrika baju kering, potong sayur, belanja ke pasar, sapu pel, dll.


Robert sudah mengirim pesan kepada Matt untuk memesan kanopi anti karat besok. Dia tidak mau mobil barunya kotor atau rusak karena kena air hujan dan kepanasan.


Hari ini Anne dan Robert janjian ketemu dengan penghuni Panti Jompo Welas Asih. Robert ingin memeriksa kesehatan para opa dan oma serta memberikan terapi akupunktur gratis bagi mereka.


Pukul sebelas siang mereka tiba. Para opa dan oma sedang bersantai ria di ruang TV. Ada yang sedang duduk di kursi roda, ada yang sedang merajut, baca koran, main catur, bernyanyi, bahkan ada yang diam melamun juga.


Ada satu opa yang bernama Opa Yan, umurnya sekitar tujuh puluh tahunan. Dia sudah menjadi penghuni panti sejak sepuluh tahun yang lalu. Anak, menantu dan cucunya pergi tinggal di luar negeri dan tidak mau membawanya bahkan jarang menengoknya dan jarang meneleponnya. Opa Yan sedih bila ingat mereka. Kesedihan ini membuat sakit rematiknya tambah parah.


"Halo Opa Yan, apa kabar?" sapa Anne.


"Halo Nona Cantik, kabar Opa baik. Biasa kadang, rematik kambuh, suka banyak pikiran hehe," ujar Opa Yan ramah.


"Mari Opa, saya cek dulu kaki dan lututnya ya. Ini saya bawakan Opa pil herba ramuan saya, kalau Opa sudah makan nasi, jeda 30 menit, baru minum pil herba ini sehari sekali saja, total ada 7 pil. Ini bisa meningkatkan kekuatan sendiri Opa." Robert memeriksa kaki dan sendiri lutut Opa Yan dengan sabar.

__ADS_1


"Baik, Nak Robert. Tapi, Opa tidak bisa membayar pil herba ini, Opa tidak punya uang. Frandy sudah mengambil semua warisannya dan menendangku begitu saja. Itulah pelajaran berharga untukmu nanti, kalau kalian punya anak nanti, jangan kasih warisan kalau kalian belum sekarat deh, akibatnya nanti seperti Opa, ditendang begini. Dasar anak durhaka!" seru Opa Yan kesal.


"Tapi, Opa ada yang mau kutanyakan. Kalau misalnya tidak pernah kasih tahu ke anak mengenai harta kita ada apa saja, bagaimana bila tiba-tiba kita sakit, lalu satu pun tidak ada yang tahu tentang aset itu, nanti tidak ada yang bisa urus asetnya, bagaimana itu Opa? Misalnya nih username, pin dan password tabungan kita rahasiakan dari anak, semisalnya kita sakit apalagi stroke bahkan kemungkinan terburuk adalah meninggal, lalu bagaimana itu Opa?" tanya Robert kepada Opa Yan.


Sejenak Opa Yan termenung. Apa yang dikatakan Robert memang ada benarnya.


"Hmm, yang Nak Robert bilang, ada benarnya juga. Dulu tetangga Opa mengalami persis seperti Yan tadi Nak Robert bilang. Sang suami terlalu menyekap harta seorang diri, sangat pelit dan galak kepada istrinya, tidak pernah terbuka tentang aset depositonya ada di bank mana saja, pin dan password pun dirahasiakan, mana tanda tangannya susah ditiru. Suatu saat si suami kena stroke, si istri kelabakan karena perlu biaya berobat 'kan. Akhirnya dia bongkar-bongkar lemari baju dan ketemu selembar kertas isinya tanggal deposito cair. Akhirnya terpaksa dia meminta surat keterangan sakit dari RS bahwa suaminya stroke dan dia adalah wali yang sah, dan tidak ada anak dalam pernikahannya selama dua puluh tahun ini. Juga ada surat notaris dan berbagai dokumen legal lainnya. Cukup sulit mengurusnya, tapi satu per satu deposito bisa dicairkan. Asuransi yang tidak perlu, akhirnya ditutup karena tidak punya pemasukan lagi. Si istri pernah bicara pada Opa bahwa ada baiknya ada keterbukaan dalam komunikasi suami istri. Ada baiknya username, pin, password dicatat dan diketahui kedua suami istri, misalnya catat di buku atau di komputer. Saling memberi tahu bila punya tabungan dan deposito di bank mana saja." Opa Yan terlihat semangat saat bercerita tentang tetangganya itu.


"Ada faktor lain kah Opa untuk mempertimbangkan sharing info username, pin, password tabungan di antara suami istri itu?" tanya Anne.


"Lalu, bagaimana kalau dalam kasus Opa Yan, Opa 'kan orangnya baik dan sayang anak, kenapa bisa anak Opa melupakan Opa?"


"Sepertinya pengaruh istrinya. Anak laki-laki kalau sudah menikah 'kan ikut istri, dalam artian meninggalkan orang tuanya dan tinggal hanya dengan istrinya. Menantu Opa awalnya terlihat baik sebelum menikah, tapi lama-lama berubah jadi culas sejak menikah. Frandy meminta hak warisannya dan menjual rumah kami, ludes semua. Dia dan Lia pindah ke Amerika, Opa ditaruh di sini, katanya dia mau kerja di sana, jadi tidak bisa urus Opa. Itulah, Nak. Mau itu anak laki-laki dan perempuan, walaupun sudah kita didik sebaik apa pun, tetap harus hati-hati saat cari menantu. Oh ya satu lagi, kalau bisa, punya anak jangan cuma satu seperti Opa. Kalau satu anakmu error, masih ada anakmu yang kain yang bisa kamu harapkan." Opa Yan menghela napas panjang.


"Ya, Opa betul," sahut Anne.

__ADS_1


Robert memijat lutut kanan Opa Yan yang sakit, sambil lanjut bercerita ini dan itu. Tak terasa hari sudah pukul dua siang, Anne dan Robert berpamitan pulang.


Setibanya di rumah, mereka segera mandi bersama tentunya dan menyiapkan makanan sore, yang lagi-lagi dimsum enak.


"Hari ini kita dapat banyak pelajaran berharga dari Opa Yan ya Rob. Jangan lupa kasih tahu aku username, pin, password ATM kamu, juga semua tabungan dan deposito kamu bila ada ya," ujar Anne serius. Dia betul-betul takut terjadi musibah seperti tetangga Opa Yan tadi.


Robert langsung kebingungan saldo bank mana yang harus ditunjukkan kepada istrinya karena saldo sebenarnya bernilai fantastis ratusan digit dengan berbagai mata uang asing dan rupiah. Sepertinya dia harus minta Matt membuat rekening buku tabungan rupiah dengan saldo masuk akal supaya Anne tidak curiga.


"Oh ada, tapi aku cek dulu ya, ada di mana buku tabungan aku itu, tapi tenang saja, uangku ya uangmu, uangmu yang uang kita bersama," ujar Robert sambil bercanda. Anne langsung mencubit pinggangnya dan ikut tertawa juga.


"Eh ada temanku lho, uangnya disimpan sendiri saja, sedangkan uang suaminya ya tentunya dipakai untuk pengeluaran ini itu juga untuk dia beli baju dan ke salon juga. Ya bagus sih, dia menabung untuk masa tuanya, tapi kasihan suaminya. Ya kalau suaminya pengusaha sukses, lah ini suaminya juga sesama karyawan juga. Menurutmu bagaimana Rob?" tanya Anne.


"Tergantung kesepakatan suami istri itu juga sih. Kalau mau saling berbagi pun tidak apa. Sama-sama bekerja, uangnya dipakai bersama, alias tidak hitungan juga bagus. Tapi, ya harus lihat juga pasangannya itu konsumtif sekali kah, shopaholic kah, jika iya, berarti garut ada salah satu dari mereka yang menjadi pintu rem pengeluaran. Aku pernah baca artikel, pasangan calon pengantin membuat perjanjian pranikah. Salah satu isinya adalah mengenai uang, ya seperti itu tadi, misalnya gaji suami untuk bayar uang sekolah anak, uang belanja, bayar air listrik dll yang sifatnya primer dan urgent. Lalu, uang bulanan orang tua masing-masing ya ditanggung masing-masing bila keduanya sama-sama bekerja. Bila hanya suaminya yang bekerja, uang bulanan orang tua dan mertua seikhlasnya dan semampunya saja. Perihal memberi uang kepada orang tua ya balik lagi ke hati dan kesadaran masing-masing." Robert jadi ceramah panjang lebar sore ini.


***

__ADS_1


Yuk dukung terus karya pertama author dengan klik like, vote dan favorit ya, dan bagi koinnya jika kamu suka. Terima kasih.


__ADS_2