Suami Yang Tak Biasa

Suami Yang Tak Biasa
Part 63


__ADS_3

Pagi harinya di ruko Nyonya Sandra.


"Aduhhh, lututku tambah sakit, rasanya makin parah dan sekarang aku tidak bisa berjalan, oh Tuhan, aku mesti bagaimana ini? Aku terpaksa harus ke dokter kalau begini. Huhuuuu jadi buang-buang uang saja." Nyonya Sandra masih saja mementingkan uang saat kondisi kakinya makin parah sekarang.


"Bu, bagaimana lututmu Bu?" tanya Tuan Ridhan panik. Tentu saja dia panik, kalau istrinya pasti akan memarahinya habis-habisan. Niatnya untuk membantu istrinya sembuh, ternyata lutut kiri istrinya malah tambah parah.


"Ini semua gara-gara Ayah. Aku jadi jatuh ketimpa pagar, lalu karena Ayah pijit lututku keras-keras kemaren, lututku jadi makin parahhh ahhhhhh!!!" teriak Nyonya Sandra frustrasi dan marah kepada suaminya.


"Ma-maafkan Ayah ya Bu, Ayah tidak mengira akan begini jadinya, Bu, maaf Bu," ujar Tuan Ridhan putus asa.


"Maaf, maaf. Maaf saja tidak akan menyembuhkan kakiku, Ayah. Lakukan sesuatu yang benar kali ini. Sepertinya kita memang harus ke rumah sakit. Ahhh, kesal sekali aku. Seandainya saja aku tidak menganggap remeh cedera lutut ini, seandainya aku tidak meminta Ayah memijitku huuuuu," tangis Nyonya Sandra kesal sambil memukul kasur tempatnya berbaring.

__ADS_1


"Sabar Bu, ayo kita ke rumah sakit sekarang. Ayah tutup toko dulu ya Bu," kata Tuan Ridhan terburu-buru sambil menuju ruang dagang dan menarik rolling door serta menguncinya.


"Ibu, masih bisa tahan 'kan? Kita naik motor saja ya biar cepat sampai. Kita tidak bisa minta tolong Spencer, dia tidak akan mau karena sedang kerja di kantornya. Anne juga jauh di Jakarta, semua anak kita tidak bisa menolong kita. Huuhuu, ayo kita jalan sekarang. Tolong pegang tanganku, Yah," ujar Nyonya Sandra sambil terisak. Perlahan dia pun mengambil tas kain berisi dompet, kartu identitas, dan ponselnya.


Tuan Ridhan memapah istrinya berjalan tertatih-tatih menuju motornya.


"Iya, Bu. Jalannya pelan-pelan saja ya Bu. Pegang tanganku, ya," ujar Tuan Ridhan sangat cemas sambil menaiki motornya dan satu tangannya memegang erat tangan istrinya.


"Pegangan yang erat ya Bu, kita jalan sekarang. Nanti kita daftar atas pribadi saja, Bu. Tidak usah pakai BPJS karena akan mengantri lama sekali, lebih ribet pula untuk dokumen yang dibutuhkan bila mau berobat pakai BPJS, 'kan?" ujar Tuan Ridhan panik. Yah ampun, dua orang antik ini di saat sakit parah seperti ini tetap saja memikirkan uang padahal mereka tidak pernah kekurangan uang.


"Iya, Bu. Kita bayar cash saja lah biar cepat ditangani dokter. Ayah bingung, Bu. Tidak ada luka memar lagi, tapi Ibu kesakitan terus bahkan susah berjalan. Kita mesti ke dokter mana ya Bu? Apa kita ke UGD saja ya? Ayah bingung Bu, bantu Ayah berpikir ya Bu." Tuan Ridhan yang panik jadi meracau sendirian, sedangkan Nyonya Sandra meringis kesakitan sepanjang jalan.

__ADS_1


"Ayah berisik sekali! Kita ke UGD saja, bilang saja kondisi darurat sebab Ibu sudah tidak kuat lagi, nyeri sekali, takutnya ada apa-apa, huuuu huuuu," ujar Nyonya Sandra sambil menangis lagi.


Setelah beberapa saat, mereka berdua tiba di RS Mayabharata di Tangerang Kota. Mereka pun segera menuju bagian pendaftaran dan ke UGD. Nyonya Sandra duduk di kursi roda karena kondisinya yang tidak bisa berjalan.


"Suster. Tolong istri saya kesakitan, tidak bisa jalan Sus." Tuan Ridhan segera menghampiri suster, sedangkan Nyonya Sandra masih di kursi roda.


"Baik, Tuan. Saya cek dulu untuk tekanan darah, suhu, dan lainnya ya. Mohon ditunggu sebentar ya." Suster menjawab dengan singkat dan segera memeriksa Nyonya Sandra.


***


Yuk dukung terus karya author dengan klik like, vote, favorit ya Terima kasih semua.

__ADS_1


__ADS_2