Suami Yang Tak Biasa

Suami Yang Tak Biasa
Part 65


__ADS_3

Sesudah Anne menulis email kepada Denise, tak lama kemudian Denise membalas singkat, dia minta dikirimkan sampel snack tempe dengan standard spec pabrik. Anne pun segera menghubungi kepala pabrik, yaitu Tuan Frans Howitzer untuk menyiapkan sampel tersebut. Semoga saja Denise tidak meminta banyak modifikasi lagi. Anne sudah sakit kepala karena tekanan dari Tuan Andres yang menanyakan kapan order dikirim. Oh my God, Anne 'kan cuma sales admin. Hanya Denise lah yang bisa meng-approve orderan dikirim atau tidak.


"Tuan Frans, tolong sampelnya dikirim segera ya ke alamat DD Group yang tadi saya email. Kalau bisa gol order, wah ini semua karena Tuan Frans nih yang pintar menyiapkan sampelnya. Lumayan lho kalau bisa shipped out, menambah profit pabrik," ujar Anne memuji Tuan Frans.


"Ah, kamu bisa saja Anne. Kalau tidak ada tim sales admin, juga tidak akan ada PO 'kan? Semoga saja PO DD Group ini bisa dikirim ya," ujar Tuan Frans senang. Beliau berusia sekitar empat puluhan dan sudah mengabdi sekitar dua puluh tahun di pabrik Era Mas, jadi tentu saja sudah tahu cara menghandel orderan new customer.


"Oke Tuan Frans, nanti aku kabari ya, terima kasih," ujar Anne mengakhiri pembicaraan di telepon.

__ADS_1


***


Hasil MRI Nyonya Sandra akhirnya keluar juga. Nyonya Sandra dan Tuan Ridhan datang lagi ke RS Mayabharata dan menemui dr. Harris Lauw lagi.


"Nyonya Sandra, hasil MRI lutut Anda sudah keluar. Terdapat cedera ligamen lutut, yaitu lutut kiri Anda robek dan harus segera dioperasi. Bila tidak segera dioperasi, lutut Anda akan semakin sakit dan akan semakin lebar area yang robek. Bagaimana Nyonya? Silakan berdiskusi dengan suami dan keluarga terlebih dahulu karena operasi ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit." Penjelasan dr. Harris Lauw begitu rinci. Sejenak Nyonya Sandra sangat syok dan diam saja.


"Apakah bisa sembuh sendiri, dokter? Misalnya, dengan minum obat dan oles obat luar seperti emulgel? Atau tidak ada pilihan lain selain harus tetap dioperasi, dokter?" tanya Tuan Ridhan cemas.

__ADS_1


"Ini hasil MRI istri Anda. Coba lihat area yang saya lingkari ini. Robek di area ini sekitar 7 cm, sangat riskan bila Nyonya Sandra paksa berjalan dengan kondisi lutut seperti ini. Semakin ditunda lama operasinha, semakin besar kemungkinan robek ligamen bertambah luas. Risiko akhirnya adalah tidak bisa berjalan lagi selamanya. Jangan dianggap remeh cedera semacam ini ya Tuan Ridhan," ujar dr. Harris panjang lebar.


"Sebenarnya yang saya khawatirkan bukan hanya masalah biaya, tapi juga faktor usia istri saya, dokter. Dia sudah lima puluh tahunan. Saya takut operasi ini berisiko fatal buat dia. Selain itu, kami harus merawat ibunya yang stroke. Kami tidak punya pembantu. Saya tentu tidak kuat bila harus mengurus ibunya sendirian." Akhirnya, Tuan Ridhan mengatakan segala kecemasannya.


"Baik, Tuan. Mengenai efek operasi, Anda tidak perlu takut. Justru keadaan istri Anda akan semakin baik dan bisa berjalan dengan baik seperti semula. Operasi ini cukup sering dilakukan dan tingkat keberhasilannya pun sangat tinggi. Tapi, saya mengerti pemikiran Anda. Saya sarankan Anda berdiskusi dengan istri dan anak-anak Anda dulu. Saya tunggu kabar baik dari Anda, oke?" Penjelasan dr. Harris Lauw cukup jelas, tapi pasangan suami istri ini masih galau mengenai perlu tidaknya operasi lutut itu.


***

__ADS_1


Yuk dukung terus karya author dengan klik like, vote, favorit ya. Terima kasih semuanya.


__ADS_2