Suami Yang Tak Biasa

Suami Yang Tak Biasa
Part 66


__ADS_3

"Ayah, bagaimana ya menurutmu, apa aku dioperasi saja atau tidak ya? Aku ragu dan takut juga. Dokter sih enak saja suruh aku operasi, tapi biaya dan risikonya bagaimana?" ucap Nyonya Sandra putus asa.


"Ibu tenangkan diri dulu, nanti baru ambil keputusan. Kita bisa tanya pendapat Spencer dan Anne juga, Bu." Tuan Ridhan mencoba menenangkan istrinya.


"Baik Ayah, aku makan dulu. Oh ya, aku akan telepon Handri sehabis ini apa dia bisa jaga Oma Tinka lebih lama karena aku lagi cedera begini," ujar Nyonya Sandra pelan. Yah, di saat-saat begini, hanya adiknya yang bisa membantunya menjaga Oma Tinka.


Keadaan Nyonya Sandra saat ini membuatnya susah beraktivitas. Kebanyakan dia hanya berada di ranjang saja dan itu membuatnya stres karena biasanya dia aktif melakukan berbagai aktivitas, tidak diam saja.

__ADS_1


"Soal biaya, kita punya tabungan, Bu. Jangan takut. Apalagi ini soal kesehatan Ibu yang paling penting. Jangan ditunda lagi. Kita bisa tutup toko dan anggap saja sedang liburan. Toh, selama ini kita jarang liburan 'kan? Uang tidak akan ke mana-mana Bu, jangan takut pelanggan kabur. Mereka pasti mengerti karena Ibu sedang sakit dan harus dioperasi. Lagi pula, dr. Harris tadi bilang operasi jahit ligamen ini sudah sering dilakukan dan tingkat keberhasilannya sangat tinggi. Jadi Ibu jangan ragu untuk dioperasi ya." Tuan Ridhan berusaha membesarkan hati istrinya agar mau dioperasi. Mau bagaimana lagi, kesehatan nomor satu 'kan? Kalau tidak sehat, mana bisa bekerja?


"Uang tetap uang, Ayah. Hiks hiks," sahut Nyonya Sandra.


"Aku jadi makin bingung. Sebenarnya apa yang ditakutkannya, uang untuk operasi, atau karena harus dioperasi, sih? Dia itu mau sembuh sendiri karena mukjizat ya? Mana mungkin? Tuhan juga 'kan bisa bekerja melalui dokter, obat dan operasi?" batin Tuan Ridhan kesal karena ucapan istrinya tadi. Namun, dia hanya berani komentar dalam hati saja, daripada runyam nanti karena Nyonya Sandra sangat pemarah dan pendendam.


Tuan Ridhan pun segera memapah istrinya menuju kamar mandi. Namun, tiba-tiba saja keduanya terjatuh ke lantai. Sepertinya karena lutut Nyonya Sandra yang sakit, jadi susah berdiri, sedangkan tubuh kurus Tuan Ridhan yang tidak makan pagi, jadilah dia juga tidak kuat memapah istrinya.

__ADS_1


"Ahhh Ayahhh di mana matamu??? Ahhh, sakittttt, oh tidakkkk," seru Nyonya Sandra. Tubuhnya jatuh miring ke kanan saat ini. Jadilah, dua kaki dan lututnya cedera semua. Oh, betapa malang nasibnya sekarang!


"Ahhh, maafkan Ayah ya Bu, Ayah tidak sengaja Bu, mungkin karena tadi pagi Ayah tidak makan pagi, badan Ayah jadi lemas dan tidak kuat memapah Ibu tadi," kata Tuan Ridhan ketakutan. Dia takut kepada amarah istrinya yang sulit terkontrol bila sudah meledak. Aura kebencian bisa terasa dari tubuh istrinya kepadanya. Tuan Ridhan pun diam saja dan segera mengumpulkan tenaganya yang tersisa sekuat-kuatnya dan memapah Nyonya Sandra ke kamar mandi.


Selesai buang air kecil, Nyonya Sandra semakin kesulitan ketika berdiri, berjalan dan duduk. Akhirnya, dia meminum obat anti nyeri dari resep dokter. Sesaat saja rasa sakit itu reda, tapi berikutnya sakitnya muncul lagi. Hari pun berlalu, Nyonya Sandra dan Tuan Ridhan beristirahat dan berharap ada keputusan final mengenai jadi tidaknya operasi ligamen lutut itu.


***

__ADS_1


Yuk dukung terus karya pertama author dengan klik like, vote, favorit ya. Thank you.


__ADS_2