Suami Yang Tak Biasa

Suami Yang Tak Biasa
Part 58


__ADS_3

"Rob, kita pulang ke rumah saja yuk, aku capek dan mau tidur saja," ujar Anne ketika sudah tiba di lampu merah Tomang.


"Oke," sahut Robert tenang. Dia pun ingin segera beristirahat setelah capek menyetir pulang pergi.


"Senin nanti aku ingin ke mansionku, istirahat sambil makan enak, berenang, main piano, biola, dll. Seperti biasanya kalau aku lagi kangen mansionku," ujar Robert dalam hatinya.


Yah, begitulah. Tanpa sepengetahuan Anne tentunya, Robert kadang pergi ke mansionnya dan beristirahat menikmati segala fasilitas di sana, seperti berenang dan gym. Kadang juga karena dia ingin menginspeksi kerja para pelayan mansion, apakah mereka malas-malasan atau tidak. Untungnya, ada Matt dan Kepala Pelayan Su yang bisa diandalkan sehingga keadaan mansion selalu rapi terkendali. Pelayan yang bekerja di mansion adalah orang-orang yang setia, mereka sudah bertahun-tahun mengabdi padanya. Hanya sedikit sekali pelayan yang error dan sudah dikeluarkan, ini pun jarang terjadi.


Robert tahun bagaimana memperlakukan para pelayannya dengan naik sehingga mereka betah bekerja bertahun-tahun dengannya. Dia membayar gaji empat kali lebih besar daripada gaji pelayan pada umumnya. Dia juga memberikan beasiswa pendidikan bagi anak-anak pelayannya dari SD sampai kuliah, dan bila sudah lulus sarjana mereka akan bekerja di Black Diamond Group. Selain itu, para pelayan ini juga mendapatkan tunjangan kesehatan, tunjangan melahirkan, pensiun, transportasi, THR, dan bonus, yang disesuaikan dengan masa kerja dan prestasi kerjanya masing-masing. Bayaran sepadan dengan beban kerja di mansion itu. Luas mansion itu ada sekitar 5.000 meter persegi dengan segala fasilitasnya, tentu saja membutuhkan puluhan pelayan untuk merawatnya. Jumlah pelayan mansion Anderson tentu saja lebih banyak daripada pelayan di mansion Kakek Thomas karena beliau mengirit biaya gaji pelayan demi biaya hidup di hari tuanya.

__ADS_1


"Ibuku sepertinya tidak pergi berobat ke dokter deh, cuma berbaring dan pakai arak gosok saja. Lecetnya sih sudah sembuh, tapi lututnya itu masih nyeri-nyeri. Bagaimana menurutmu, Rob?" tanya Anne. Lamunan Robert buyar saat mendengar suara Anne.


"Yah, biarkan saja. Kita tidak usah ikut campur apalah banyak berkomentar, kamu tahu kan tabiat orang tuamu. Terserah mereka sajalah mau berobat ke dokter atau tidak, Spencer dan istrinya bisa bantu mengurus mereka, bukan?" celoteh Robert. Dia sudah tidak mau pusing dengan mertuanya. Toh selama ini mereka pun juga tidak mau pusing dan tidak cemas pada keadaan Anne dan dirinya.


Robert menerima laporan dari mata-matanya bahwa mertuanya sekarang menyerahkan pengelolaan kos-kosan pada Spencer, sedangkan mereka hanya mengontrol saja. Uang bulanan dari penghuni kos dibagi ke Spencer juga karena dia sedang membutuhkan uang untuk membayar cicilan rumahnya dan pengobatan kesuburan agar memperoleh keturunan.


Apakah Robert iri? Tidak, hartanya jauh lebih banyak.


Lalu, apa yang akan Robert lakukan? Just wait and see. Keadilan akan datang pada waktunya. Kebenaran akan terbuka suatu saat nanti. Anak yang disayang belum tentu sebaik itu.

__ADS_1


Akhirnya mereka tiba juga di rumah. Anne sudah ingin mandi dan memasak makan siang sekaligus untuk makan malam nanti.


"Rob, ayo masuk. Kamu mandi dulu, lalu bantu aku masak ya," kata Anne dengan semangat.


"Oke, Nyonya cantik, tapi mandikan aku dulu dong," ujar si bayi besar dengan tatapan nakalnya.


Sang Nyonya hanya tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya.


***

__ADS_1


Yuk dukung terus karya author dengan klik like, vote dan favorit ya, terima kasih.


__ADS_2