
Anne awalnya sedih dan hatinya bagai tersayat sembilu saat tahu ibunya mempercayakan KlikBCA-nya pada Spencer dan istrinya. Dia tahu secara tak sengaja saat ibunya bercerita bahwa uang bulanan dari anne sudah masuk saat dicek Renita. Ibunya gemar menyembunyikan apapun darinya. Anne hanya bisa diam pasrah saja. Toh, itu hak ibunya mau mempercayakan uang kepada siapapun 'kan? Pelan tapi pasti Anne sudah melupakan keinginannya untuk kasih sayang sebuah keluarga.
Nyonya Sandra dan Tuan Ridhan tidak merasa bersalah sedikitpun pada Anne. Mereka merasa wajar saja bila mempercayakan semua hartanya pada Spencer dan istrinya.
Anne menceritakan hal ini pada Robert dengan nada sedikit kesal dan iri.
"Rob, tadi 'kan aku telepon ibuku. Aku mau kasih tahu kalau aku sudah kirim uang bulanan ke rekening ayahku seperti biasa. Lalu, dia bilang nanti dia akan suruh Renita mengeceknya via internet banking karena dia tidak mau repot bolak-balik ke bank. Itu artinya dia sudah mempercayakan semua bisnisnya dan keuangannya pada Spencer dan istrinya. Sedih aku Rob. Ibuku tidak meninggalkan apapun untukku, tidak juga membukakanku bisnis apapun. Pengelolaan hartanya saja dia tidak percaya padaku." Anne sepertinya sedang iri sekali.
"Sudahlah Anne. Lepaskan saja. Lupakan mereka. Orang yang tidak ada pada saat kita susah, dan tidak ikut senang ketika kamu berhasil, berarti mereka bukan teman sejatimu. Mereka hanya ditakdirkan lewat dalam hidupmu saja sebagai pengalaman hidup." Robert mencoba menenangkan Anne. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mengakui jati dirinya pada Anne, dia ingin menunggu sampai Anne bisa memaafkan orang tuanya dan kakaknya, karena saat itulah Anne betul-betul siap menerima berkat melimpah dalam hidupnya. Robert tahu pasti bahwa kekayaannya jauh lebih banyak daripada keluarga Halinger.
"Ya, Rob. Kamu benar. Kalau hatiku selalu iri, bagaimana aku bisa diberkati dalam segala hal, sehat misalnya. Kalau aku terlalu memikirkan mereka, aku bisa stress pikiran dan sakit badanku. Terima kasih ya karena kamu selalu menguatkanku di saat aku kesal," ujar Anne pelan.
__ADS_1
"Lupakan saja orang-orang itu. Kamu sudah kutarik keluar dari sana. Harusnya kamu berbahagia dong. Tunjukkan pada mereka kalau kamu bisa sukses dengan usaha sendiri, walaupun orang tua tidak mensupport kamu. Love you my wife," ujar Robert sambil mengelus rambut Anne lembut.
"Terima kasih Rob, Sayangku, sini kiss dulu," kata Anne sambil memeluk Robert erat.
Selanjutnya mereka saling memadu kasih; sebuah kegiatan rutin mereka setiap hari. Robert membaringkan Anne di kasur dengan posisi telentang. Malam ini entah kenapa dia begitu bersemangat dan langsung membuka lingerie-nya. Netra suaminya tampak sayu oleh kabut gairah. Yang ada di kepala atas dan bawah Robert hanyalah Anne, Anne dan Anne
Dengan sigap Robert membuka paha Anne hingga sang inti terpapar lebar. Tanpa ragu lagi, Robert segera menundukkan kepalanya di bagian bawah Anne, sedangkan milik pusakanya menancap di mulut Anne yang langsung asyik menyesapnya bak lolipop jumbo.
Anne sudah kecanduan dengan semua sentuhan Robert, menusuk raga hingga menyentuh kalbunya sampai dalam.
"Rob, auhhhh ahhhhh, enakkkk Sayang, iya di situhhh Sayang, ayo lagi Sayang, ahhhh," desah Anne parau. Dia melampiaskan kekesalannya tentang keluarganya melalui kegiatan gulat rutin ini. Dia betul-betul haus akan kasih sayang, tapi bedanya adalah dia juga membutuhkan kenikmatan biologis bersama suaminya.
__ADS_1
"Sayangggg, hmmppp slurpppp," bisik Robert seraya menjilati kacang almond istrinya. Sampai akhirnya, Anne mencapai pelepasannya, cairannya keluar deras, tubuhnya menggelepar lemas. Teriakannya menggema di kamar dan Robert pun segera merubah posisi dan tanpa minta izin lagi, sosis jumbonya segera masuk ke Anne tanpa ampun lagi.
Robert tahu Anne harus dialihkan pikirannya dari kesedihannya, salah satunya dengan gulat plus-plus ini. Apalagi Anne memang memiliki gairah yang tinggi.
Anne menjadi pihak yang pasif malam ini karena sang suami sedang memuaskannya. Betapa hangat perasaannya saat berdekapan dengan suaminya kala mereka menyatu. Keduanya saling membisikkan kalimat cinta. Anne merasa dimiliki seutuhnya oleh Robert. Kepalanya bersembunyi di dada suaminya dan tangannya mendekap leher suaminya.
"Anne aku sayang kamu, hmmm ahhhhh," serunya saat pelepasan itu tiba. Tanpa pengaman apa pun karena mereka ingin segera memiliki buah hati.
"Terima kasih Sayang, aku bahagia sekali, kamu selalu menghibur aku," tutur Anne lembut. Robert segera mencabut miliknya yang penuh dengan cairan putih lengketnya. Lalu, dia segera berbaring di sepasang bukit kesayangannya dan menyesapnya rakus. Malam panas keduanya masih berlanjut, dengan tujuan membuat Anne tidak sedih lagi.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote nya ya. Terima kasih readers.