
"Halo, selamat siang, Dokter Dewa. Ini saya Pak Keith. Apa kabarnya? Saya menelepon karena membutuhkan bantuan Anda. Ada kenalan saya yang cedera ligamen lutut. Apa bisa Anda datang dan memeriksa kondisi teman saya serta mengobatinya? Dia sangat takut dioperasi, jadi dia berharap bisa sembuh melalui pengobatan Anda," ujar Tuan Keith panjang lebar.
Robert tersenyum lebar saat menjawab panggilan telepon dari Tuan Keith saat ini. Dia sudah menduga bahwa ibu mertuanya yang penakut operasi dan pelit itu pasti akan tertarik menghubungi sosok Dokter Dewa.
"Halo, Pak Keith, baik Pak. Oke saya akan datang. Wah, untung saya pas lagi di Karawaci. Tolong kirim alamatnya ke WhatsApp saya ya. Sampai ketemu di sana ya Pak," ujar Robert serius dan mengakhiri percakapan di telepon.
Robert menoleh pada Anne yang sedang asyik memakan yoghurt buah kesukaannya. Mereka harus bergegas menuju ruko Keluarga Halinger.
"Anne, ayo kita pergi dari sini. Kita harus segera bertemu Pak Keith, katanya ada kenalannya yang cedera dan butuh bantuanku. Lokasinya sekitar setengah jam dari sini bila tidak macet." Robert berkata serius pada Anne.
"Oh, begitu. Bisa pas begini ya? Ya sudah baiklah, ayo kita menuju tempat kenalan Pak Keith." Anne pun segera ikut dengan Robert tanpa banyak bertanya lagi. Keduanya segera menuju tempat parkir.
__ADS_1
***
Ruko Perusahaan Matrial Halinger.
"Jadi, bagaimana Tuan Keith, apa Dokter Dewa bersedia datang ke sini untuk mengobati istri saya?" tanya Tuan Ridhan penuh harap.
"Anda beruntung sekali, kebetulan Dokter Dewa sedang ada di Karawaci, dan sedang dalam perjalanan menuju kemari. Sabar ya Tuan, tunggu sekitar setengah jam, bila tidak macet, beliau akan segera tiba di sini." Tuan Keith tersenyum ramah.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu ya, Tuan Ridhan dan Nyonya Sandra. Saya harus mengawasi tukang yang bekerja di rumah saya. Jika waktunya masih cukup, saya akan datang kembali nanti sore, sekalian hendak berkenalan langsung dengan Dokter Dewa. Yuk, semuanya, saya pulang ya." Nyonya Mary segera beranjak pergi dari ruang tengah itu.
"Terima kasih, Nyonya Mary atas bantuan Anda," ujar Tuan Ridhan ramah sambil mengsntar Nyonya Mary ke pagar depan rukonya.
__ADS_1
Spencer pun tampak berusaha mencari info lebih lengkap tentang Dokter Dewa di internet. Namun, tidak ada berita tentang kehidupan pribadi Dokter Dewa. Wajahnya saja tidak pernah difoto. Sosok Dokter Dewa tidak pernah kelihatan karena tidak suka publikasi. Semua yang dilakukannya murni demi tujuan medis dan amal.
"Sepertinya sosok Dokter Dewa ini memang baik dan bukan penipu, Bu. Media memberitakan semua amal kebaikannya dan pengobatannya yang mujarab bagi para pasien tidak mampu. Bila ada pasien kaya yang mau berobat padanya pun, tetap harus mengantre dan tidak dipungut biaya juga. Bila pasien kaya itu tetap bersikeras mau membayar, maka uangnya akan disumbangkan untuk pengobatan pasien tidak mampu dj Panti Jompo Welas Asih." Spencer membaca artikel di internet via ponselnya.
"Wah, Ibu senang sekali mendengarnya. Semoga saja cedera Ibu ini bisa ditangani dengan mudah sampai sembuh total ya." Nyonya Sandra semakin menaruh harapan yang besar pada Dokter Dewa tersebut.
"Kita harus bayar berapa ya Bu? Setidaknya kita ganti biaya transportnya ke sini. Atau kita kasih angpao saja?" tanya Tuan Ridhan.
"Ya kita lihat nanti saja Ayah. Bila Dokter Dewa itu baik, tentu dia tidak akan meminta dan menerima angpao dari kita," ujar Spencer congkak. Dasar pelit sekali. Kaya, tapi pelit. Sunggu memalukan. Nyonya Sandra pun diam saja.
***
__ADS_1
Yuk, ikuti terus karya author dengan cara klik like, vote, favorit ya, Terima kasih.