Suami Yang Tak Biasa

Suami Yang Tak Biasa
Part 41


__ADS_3

Anne dan Robert tiba di rumah pukul tiga sore ini. Mereka segera membereskan koper dan mencuci setumpuk baju kotornya.


Keduanya tampak asyik membereskan oleh-oleh hingga tiba-tiba Anne berceletuk, "Robert, sepertinya ada yang aneh dengan rumah ini, masak seminggu ditinggal, tapi tetap bersih semua. Lantainya mengkilap licin seperti habis dipel. Dapur bersih, tak ada sampah. Pokoknya kinclong sekali rumah kita. Apa ada yang masuk kemari ya? Tapi, siapa yang berani masuk, kalaupun maling, masak maling bersih-bersih rumah?"


"Hmm, sudah jangan berpikir yang aneh-aneh. Itu artinya rumah kita tidak kemasukan debu karena pintu tertutup rapat selalu." Robert berusaha mengalihkan pikiran istrinya.


"Ya, sepertinya begitu sih. Oh ya, aku sepertinya mau masak sayur asem, ayam goreng, dan sambal matah dulu. Kamu tolong jemur baju ya, Sayang." Anne semangat mau masak makan sore dan malam.


Anne jarang masak karena selama ini Robert yang masak, atau chef dari mansion Anderson yang mengirim makanan saat Robert sedang sibuk kerja. Namun, masakan Anne juga tak kalah enak dari masakan Robert.


Kesibukan keduanya terus berlanjut hingga tak terasa sudah pukul enam sore. Makanan sudah siap.


"Sayang, aku sudah beres masak, tolong bantu cuci wajannya ya, tadi sepertinya aku lupa balik ayamnya, ada yang nempel berkerak deh di dasar wajan," ujar Anne sambil menyeka keringat di dahinya.


"Oke, aku rendam dulu ya, nanti baru kucuci. Sayang, mandi bareng yuk," ajak Robert penuh semangat.


"Ah, tadi pagi 'kan sudah dua ronde, Sayang. Aku capek ah," sahut Anne pura-pura cemberut padahal hatinya sudah berdebar senang.

__ADS_1


"Sini aku gendong hehe. Nanti aku yang mandikan kamu," ujar Robert sembari menggendong Anne ala bridal style.


Tak perlu ditanya lagi, keduanya segera larut dalam kehangatan ekspresi kasih di dalam kamar mandi. Sehabis mandi sambil enak-enak tadi, keduanya segera makan dengan lahap.


***


Di kamar Anne.


Keduanya sedang berbaring di ranjang. Suasana adem membuat mereka mengobrol dengan nyaman sambil melihat foto liburan mereka di ponsel.


Robert segera memijit kaki dan betisnya. Anne merasa sakit pada awalnya lalu beberapa menit kemudian lebih lega.


"Rob, aku terpikir sesuatu. Seandainya kamu orang kaya dan punya perusahaan, lalu kita punya dua orang anak, misalnya anak pertama laki-laki dan anak kedua perempuan. Bagaimana kamu akan membagi warisanmu kepada anak-anak kita nanti?" tanya Anne tiba-tiba.


"Aku akan membaginya sama adil. Tidak ingin ada keributan di antara anak-anak kita. Tapi, memang penerus perusahaan keluarga haruslah anak laki-laki. Atau bisa juga bagian anak laki-laki lebih besar sedikit daripada anak perempuan, karena 'kan anak laki-laki adalah penerus nama marga keluarga. Tapi yang jelas aku tidak akan membiarkan anak perempuan kita pergi keluar dari rumah (menikah) tanpa harta sedikit pun, takutnya nanti dia dipandang remeh oleh mertuanya dan suaminya. Kalau kita orang berada alias sanggup membiayai anak kita, menurutku wajar dan sah-sah saja kita memodali anak-anak kita. Lain halnya, jika kita bukan orang berada, maaf kata misalnya kita hanya orang biasa atau miskin, tidak punya uang dan rumah apapun untuk dibagi ke anak-anak kita, maka tidak apa-apa jika kita tidak wariskan apa-apa. Tapi, setidaknya kita sudah menyekolahkan mereka sampai sarjana. Maka, menurutku penting kita les kan anak-anak kita skill, itulah warisan kita yang sesungguhnya, sesudah kita tiada, mereka bisa cari uang sendiri." Robert menjelaskan panjang lebar sambil memijit.


Tiba-tiba saja Anne menangis pelan dan berkata sambil terisak, "Huuu huuu tapi orang tuaku tidak begitu Rob, mereka tidak punya pemikiran sepertimu. Setidaknya jika aku memang tidak dapat apapun, tidak dimodali usaha apapun, perlakukanlah aku dengan perhatian. Secuil saja perhatian tidak ada, tapi kalau tidak dikasih uang, ibuku marah, dan nengutukiku. Aku hanya berharap mereka menyayangiku Rob, tapi itu seperti sangat mustahil sekali. Kamu tahu Rob, aku pernah baca ramalan nasib di internet bahwa hidupku selalu dipenuhi kekecewaan, semakin besar harapan, maka aku akan semakin kecewa, Rob. Kalau begitu, untuk apa aku hidup di dunia? Hidup tanpa harapan adalah hidup yang paling mengerikan dan menyedihkan. Sebanyak apapun aku menyumbang rumah ibadah dan anak yatim, tapi sepertinya semua kebaikanku sia-sia. Aku tahu kalau kita tidak boleh pamrih ketika berbuat baik, tapi tetap saja Rob,aku ada rasa seperti itu. Mata dan telinga Tuhan seperti tertutup padaku. Aku lelah Rob. Aku benar-benar berharap bahwa di kehidupan reinkarnasi aku tidak bertemu lagi dengan orang-orang yang membuatku sedih seperti ayah, ibu dan kakakku." Anne tidak bisa menahan kesedihan hatinya.

__ADS_1


"Huss kamu tidak boleh berkata seperti itu. Mereka melahirkan, membesarkan, menyekolahkan kamu sampai sarjana, itu sudah suatu bentuk tanggung Jawa mereka sebagai orang tua. Kalaupun mereka tidak membagimu atau kita apapun, tidak apa-apa Anne. Aku tetap di sisimu, mencintaimu sampai akhir. Aku menikahimu lengkap dengan dirimu apa adanya. Menerimamu apa apa adanya. Seharusnya ayah dan ibumu bersyukur punya menantu sepertiku, aku menerima kalian apa adanya, walau ibumu sangat materialistik dan sering mem-bully kita." Robert membesarkan hati Anne sambil terus memijit telapak kaki Anne.


"Tapi, Rob. Aku betul-betul malu denganmu. Aku tidak bawa apa-apa saat aku menikah denganmu, aku seperti dijual kepadamu. Bahkan ibuku mengambil semua amplop uang susu saat lamaran dulu, itu 'kan uang darah, aku sudah dijual padamu Rob. Untung kamu baik, kalau kamu jahat, kamu pasti sudah meninggalkanku setelah tahu aku sakit saraf dan keluargaku yang materialistik itu. Rob, kalau kita punya anak perempuan nanti, kalau dia dilamar, kita jangan ambil uang susu ya. Kalau ada apa-apa, dia masih bisa pulang ke rumah kita. Kalau dia lelah, sakit, atau dia butuh bantuan kota menjaga/mengawasi anaknya, dia bisa ke sini Rob, huuuuu," isak tangis Anne terdengar.


Itulah isi hati Anne yang sesungguhnya, kekhawatirannya terutama bila mereka punya anak perempuan nanti.


"Iya, Anne tenang, aku sudah paham apa maksudmu. Kita akan perlakukan anak laki-laki dan anak perempuan dengan sama baiknya dan adilnya. Aku tidak mau kita sama seperti ayah dan ibumu itu. Satu lagi yang paling penting yang harus kamu tahu adalah, kita kaya dari hasil usaha kita sendiri, capek ya capek sendiri, tapi kita tidak ada utang budi dengan siapapun termasuk dengan keluarga kamu." Robert menghela napas pelan, dia tahu ini tidak mudah ke depannya dengan kondisi Anne yang sakit saraf dan skoliosis saja, adalah suatu keajaiban jika dia bisa hamil pun. Melahirkan pun sudah pasti harus dengan operasi caesar karena kondisi saraf Anne dan skoliosisnya.


"Huuuu huuu, iya Rob iya, hiksss," ujar Anne sesenggukan. Lama keduanya terdiam.


Anne sudah terdiam sekarang, perlahan dia pun tertidur setelah dipijit Robert. Hatinya agak lega setelah berbicara dengan suaminya.


***


Yuk dukung terus karya pertama author dengan klik like, vote, favorit dan bagi koinnya juga ya, Terima kasih semua.


Ikuti terus novel Suami yang Tak Biasa ini ya teman-teman. Author mau fokus pada konflik batin Anne dan bagaimana Robert mendampinginya sebagai suaminya di chapter seterusnya hingga selesai. Novel ini mungkin tidak akan panjang chapternya karena kesibukan sehari-hari bersama anak-anak saya. Thanks untuk dukungannya ya.

__ADS_1


__ADS_2