
Tuan Ridhan menelepon Anne dan menceritakan musibah yang menimpa Nyonya Sandra. Anne yang panik segera meminta Robert mengantarnya ke ruko orang tuanya.
"Rob, ibuku jatuh tertimpa pagar. Ayo, kita tengok Ibu ya. Bawa buah, obat dan lainnya untuk Ibu." Anne langsung bersiap-siap. Untungnya, hari ini Sabtu pagi, jadi waktu mereka lebih fleksibel. Mereka akan memakai mobil barunya ke Tangerang untuk pertama kalinya.
Barang sembako yang disiapkan cukup untuk Nyonya Sandra saja karena Oma Tinka ada di rumah Tuan Handri. Anne selalu cemas sejak mendengar kabar dari ayahnya. Sebenarnya tidak perlu mengkhawatirkan ibunya terlalu berlebihan. Mungkin karena perasaannya terlalu halus atau terlalu baik, dia jadi memikirkan ibunya terus. Padahal, ada Spencer dan Renita di sana, bukan?
"Ibumu sudah pergi ke dokter? Kenapa jadi kamu yang panik ya? Bukannya di sana ada ayah dan kakakmu ya?" tanya Robert sebal.
Bukan tanpa sebab dia kesal. Ini 'kan hari Sabtu, dia mau ajak istrinya jalan-jalan ke mal, bukan malah mengurusi masalah ini. Namun, mau bagaimana lagi, Nyonya Sandra tetap ibu kandung Anne yang harus ditengok.
"Aku tidak tahu juga ya, tapi kita jalan saja ke sana sekarang, biar siang nanti kita bisa cepat pulang ke rumah," ujar Anne terburu-buru.
__ADS_1
"Oke, ayo kita jalan sekarang, pastikan tidak ada barang yang tertinggal ya, bawa kartu e-money dulu untuk bayar tol ya," kata Robert lugas.
"Oh iya kamu benar, aku hampir saja lupa bawa kartu e-money, berikutnya taruh di mobil saja Rob, lalu kita beli dua lagi untuk ditaruh di dompet kita masing-masing," sahut Anne sambil menepuk dahinya.
"Ya sudah, ayo kita jalan. Matikan lampu dan kunci pintunya. Ayo cepat, supaya kita bisa pulang cepat," kata Robert sambil mendengus kesal. Robert sebetulnya malas kalau harus berkunjung ke rumah mertuanya. Bukan hanya masalah jaraknya, juga karena sikap mertuanya yang selalu meremehkannya dan munafik. Sebenarnya jarak sejauh apa pun akan ditempuhnya demi istrinya, tapi masalahnya begitu sampai di sana, mereka tidak peduli pada Anne dan bahkan merendahkannya. Anne selalu murung setelah pulang dari ruko orang tuanya. Yah karena kali ini ibu mertuanya sedang cedera, mau tidak mau dia harus ikhlas mengantar istrinya.
"Iya sudah kulakukan semua, ayo jalan," sahut Anne cepat.
Sesampainya di toko orang tuanya, Anne segera menyapa ayahnya dan menurunkan barang oleh-olehnya, yaitu sembako dan uang bulanan orang tuanya.
"Halo Ayah, ini sembako dan uang bulanan seperti biasa. Ibu di mana dan bagaimana kondisinya, Ayah?" tanya Anne berbasa-basi. Dia canggung bila ada di rumah orang tuanya, mungkin karena tidak akrab dengan keluarganya. Demi sebuah kesopanan, dia pun harus tetap datang dan memperhatikan orang tuanya.
__ADS_1
"Ayo masuklah dulu, ibumu ada di ruang tengah, dia tidur di lantai satu karena kondisi lututnya tidak memungkinkannya untuk naik turun tangga terus." Tuan Ridhan mengangkat barang oleh-oleh dari bagasi mobil Anne.
"Halo, Ayah," sapa Robert seadanya. Dia tidak mau banyak bicara di depan pakar politik keluarga seperti mertuanya ini.
Pakar politik?
Iya, karena orang tua Anne gemar sekali melakukan sesuatu tanpa melibatkan Anne, semua berdasarkan like and dislike, all precious things is for Spencer only. Malas sekali berurusan dengan orang-orang ini, tidak menyayangi anaknya dengan tulus.
***
Yuk dukung terus karya pertama author, klik like, vote dan favorit ya, terima kasih.
__ADS_1