
Anne dan Robert pun terbawa suasana dan berciuman mesra, layaknya pasangan muda-mudi yang berpacaran di dalam mobil. Tangan Robert merayapi kancing kemeja Anne dan melepaskannya cepat. Anne pun membuka kaos dan celana Robert dengan sigap.
Seakan tahu apa yang akan mereka lakukan berikutnya, Robert segera menghidupkan mobil dan menyalakan AC. Lalu, keduanya segera berpindah ke kursi tengah dan melanjutkan aktifitas gulatnya. Robert membuka tali pengait pakaian dalam Anne, lalu membuka celana panjang Anne dengan tidak sabar. Setelah beberapa menit, keduanya sudah tampil polos dan siap bergulat intens. Posisi Robert memangku Anne dengan gaya kuda favoritnya. Tangan mereka berdua sudah tidak bisa dikontrol lagi saat melihat tubuh polos pasangannya. Suara *******, kecupan dan lenguhan memenuhi mobil.
Senja berganti malam. Pasangan yang dimabuk asmara itu telah menyatu dan melepaskan gairahnya dengan puas. Mobil bergoyang karena goyangan indah keduanya.
Tubuh mereka dibasahi keringat akibat kerja rodi tadi. Aroma lahar pandan menyeruak di bagian inti keduanya. Anne bersandar manja di dada suaminya, sedangkan tangan suaminya aktif memerah bukit kesayangannya.
"Sayang, terima kasih ya mobil barunya dan juga untuk kenikmatan cinta barusan. Sensasi baru, Sayang. Bercinta di dalam mobil. Kamu perkasa sekali, Sayang. Untung lampu garasi sudah kamu matikan sehingga tidak ada yang mengintip kita. Kamu nakal sekali, Rob, nafsumu itu besar sekali," ucap Anne lembut seraya mengelus bagian bawah suaminya dengan intens.
"Ayo kita lanjut di kamar mandi, Sayang. Dia sudah bangun lagi nih karena kamu elus-elus. Ayo kita keluar pelan-pelan," bisik Robert parau sambil mengecup kening Anne.
Sepasang suami istri mesum tanpa sehelai benang pun itu nekat mengendap-endap keluar dari mobil terburu-buru. Memang ketika mereka sedang fully on, seringkali lupa dengan norma yang berlaku. Untungnya, jalanan perumahan itu sepi dan tetangganya cuek-cuek saja.
Mereka pun masuk ke rumah dengan cepat dan segera menuju kamar mandi. Mandi malam terasa lebih lama karena keduanya asyik melanjutkan ronde kedua. Anne duduk di meja wastafel sambil membuka kedua pahanya, memberi kesempatan kepada tonggak pusaka suaminya untuk menerobos masuk. Penyatuan terjadi begitu cepat karena kondisi Robert yang sudah tidak tahan lagi untuk mendobrak istrinya. Kaki Anne melingkar kuat di pinggang suaminya.
Anne sebentar-sebentar memeluk leher suaminya, lalu ganti mengusap punggungnya dan memegang erat kedua bemper belakang suaminya. Sementara Robert asyik menggenjot maju mundur, sembari aktif mengeklaim jatah perah dan minum susu dari pabrik besar istrinya.
"Uuuh ahhh uhhhh aaahh Anne, Sayang, kamu bisa rasakan dia kah, sudah masuk semua belum?" tanya Robert terengah-engah.
__ADS_1
"Sudah masuk semua kok, Sayang. Kerassss ohhhhh ahhh," jawab Anne terengah-engah juga.
"Sayangggg, aku mau keluar sekarang, ohhhhh, ahhhh," jerit Robert sambil menembakkan cairan pandan lengket ke area favoritnya. Mereka berpelukan erat saat pelepasan itu terjadi.
Malam itu keduanya menuntaskan gairah dengan penuh semangat. Selesai mandi, mereka menyantap makan malam menu Jepang dengan lahap.
***
Beberapa hari berikutnya.
Matt mengirim laporan berupa rekaman video percakapan mata-matanya (sebut saja Nyonya Kelly) dengan Nyonya Sandra.
"Siang, Nyonya. Saya mau beli kuas cat kecil dan semen 5 sak. Lalu, order pasir 1 mobil, ini alamat saya, biss tolong diantar 'kan?" tanya Nyonya Kelly ramah.
"Bisa diantar, tapi tunggu sebentar ya, duduk dulu. Saya hubungi suami dan sopir saya dulu. Saya buatkan nota dulu ya. Tolong ditulis di kertas ini nama, alamat rumah dan nomor telepon yang bisa dihubungi ya, dan bayarnya cash ya, saya tidak mau utang dulu." Nyonya Sandra menyodorkan kertas dan bolpoin.
"Oh ya, Nyonya sendirian di toko ini? Ke mana anak Nyonya? Hehehe," tanya Nyonya Kelly berbasa-basi.
"Saya punya dua anak, Nyonya Kelly. Yang pertama laki-laki dan yang kecil perempuan. Semua sudah menikah. Yang besar belum mau meneruskan toko ini, masih seneng kerja kantoran. Padahal saya mau kasih semua untuk dia. Kalau anak saya yang kecil, dia sudah ikut suaminya. Sayang, suaminya kerjanya tidak pasti gajinya." Nyonya Sandra bercerita demikian pada Nyonya Kelly. Dari pengamatan Nyonya Kelly, sepertinya Nyonya Sandra adalah sosok yang suka mengobrol apa saja dengan para customer tokonya. Maklum, karena Nyonya Sandra merangkap sales, marketing, dan kasir juga.
__ADS_1
"Oh begitu. Kalau anak perempuan Nyonya tinggal di mana sekarang? Apa dia sering kemari atau Nyonya yang sering ke rumahnya?" tanya Nyonya Kelly lagi.
"Dia ikut suaminya ke Jakarta Pusat. Kadang dia yang datang ke sini. Saya tidak pernah ke rumahnya, saya sibuk dagang dan menjaga ibu saya yang stroke. Lagi pula, ada suaminya yang menjaganya, saya tidak perlu cemas, 'kan?" ujar Nyonya Sandra tersenyum.
"Tapi, Nyonya apa tidak khawatir dengan anak perempuan Nyonya? Apakah suaminya sayang padanya, memperlakukannya dengan baik kah, apakah dia baik-baik sajakah, sehat atau sakit kah, pekerjaannya bagaimana dan sebagainya? Biasanya anak perempuan itu akan mencari ibunya bila ada apa-apa, seperti anak perempuan saya, dia yang merawat saya di hari tua saya. Saya tidak bisa berharap banyak pada anak laki-laki saya, habis nikah ya ikut istrinya deh, untung saja istrinya ya baik, tidak pelit, tapi yah beda lah, namanya juga menantu perempuan ketemu kita pas sudah besar, tidak akan pernah bisa disamakan dengan anak perempuan sendiri 'kan?" tutur Nyonya Kelly panjang lebar.
"Anak perempuan saya tidak pernah cari saya tuh. Dia dan suaminya yang tidak berguna itu, sepertinya mereka bahagia-bahagia saja. Saya tidak mau menantu laki-laki saya itu menjadi benalu menyedot harta saya, mereka harus kerja sendiri, semua kerja keras saya dan suami saya hanya untuk putra kami," sahut Nyonya Sandra acuh tak acuh.
"Mungkin dia tidak pernah bercerita karena merasa malu dan tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya, atau memang dia tidak dekat dengan ibunya dari sejak kecil, maaf saya sok tahu, hanya asal tebak saja. Satu lagi Nyonya, Anda beruntung sekali mendapatkan menantu laki-laki itu, karena dia menerima putri Anda apa adanya walaupun Anda tidak memperhatikan putri Anda baik itu secara harta maupun support moral," balas Nyonya Kelly sambil tersenyum lembut.
"Kok Anda sepertinya lebih pengalaman dari saya, Nyonya Kelly. Memangnya apa gunanya mempertahankan anak perempuan, 'kan yang jadi penerus nama marga adalah anak laki-laki?" tanya Nyonya Sandra lagi.
"Sebetulnya tidak ada yang salah dengan pandangan Nyonya. Memang betul bahwa anak laki-laki adalah penerus nama marga. Hanya saja, kalau saya dengar dari cerita Nyonya, sepertinya menurut tebakan saya, Anda tidak menyukai putri Anda, dan tidak memperhatikannya seperti anak laki-laki Anda. Sayangilah putri Anda, Nyonya. Dia tidak pernah minta dilahirkan dari rahim Anda, dia tidak bisa memilih mau lahir jadi anak laki-laki atau perempuan 'kan. Mana tahu di masa depan hidupnya meningkat, Anda akan menyesal telah memperlakukannya tidak adil atau berat sebelah. Nyonya pernah dengar tentang reinkarnasi? Nyonya tidak takut kah karma akan Anda bayar di kehidupan reinkarnasi? Saat ini Anda memperlakukan putri Anda tidak baik, siapa tahu nanti Anda akan memperoleh nasib buruk di kehidupan reinkarnasi?" Nyonya Kelly berkata pelan sambil menghela napas. Betul kata Tuan Matt, susah menasihati orang kaya yang jahat begini.
Ekspresi wajah Nyonya Sandra datar saja, alisnya berkerut. Putrinya? Dia penganut patrilineal. Karena dia melahirkan Spencer-lah makanya hidupnya terangkat dan bisa dipercaya Kakek Thomas untuk mengelola Perusahaan Matrial Halinger. Anak perempuan hanya akan jadi ibu rumah tangga saja. Anne adalah sosok yang tidak disukainya, terlebih karena mengandungnya, Tuan Ridhan jadi menyakitinya.
***
Yuk, dukung terus karya author dengan klik like, vote dan favorit, serta bagi koinnya jika kamu suka ya, thanks.
__ADS_1