
"Ayo cepat tepati janjimu,aku sudah berikan jatahmu malam ini," ujar Anne sambil memainkan rambut halus di dada suaminya.
"Tidak ada yang istimewa dari diriku. Ayahku bekerja sebagai butuh bangunan. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Ayah meninggal karena serangan jantung saat aku masih kelas 1 SD. Ibu meninggal setahun kemudian karena terlalu kepikiran ayah. Aku dibesarkan di panti asuhan sampai usia SMP. Lalu, aku bekerja serabutan saat SMA, jadi pengamen, loper koran, penjual donat keliling, tukang semir sepatu, penjaga warnet, butuh bangunan, guru les anak sekolah, dll. Apa saja yang halal aku kerjakan supaya bisa menyambung hidup dan membayar biaya sekolah." Robert bercerita pada Anne, raut wajahnya terlihat tenang.
"Wah, kamu hebat sekali Rob. Lalu, selepas dari panti asuhan, kamu tinggal di mana saat SMA?" tanya Anne yang masih penasaran.
"Aku tinggal di kos murah meriah dekat panti asuhan. Kebetulan aku kenal dengan pemilik kos itu, jadi aku dikasih harga murah. Dari hasil kerja serabutan, aku bisa bayar kos-kosan itu. Kadang kalau ada waktu, aku juga bekerja menjadi pembantu di kos itu, menyapu dan mengepel kamar kos. Ada penghuni kos yang baik hati yang suka memberi uang tip dan membagi makanan." Robert diam sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. Dia sedang berpikir harus cerita sampai di mana, karena tidak mungkin mengakui semuanya pada Anne sekarang 'kan.
"Lalu apa lagi Rob?" tanya Anne penasaran.
__ADS_1
"Aku lulus SMA dengan nilai cukup bagus dan diterima di sebuah universitas sederhana. Aku tidak punya cukup uang sehingga aku pilih universitas yang biasa saja, yang masih bisa dijangkau dari segi biaya. Aku ambil jurusan IT, aku ambil kelas karyawan karena sambil bekerja sebagai buruh bangunan dan pekerjaan serabutan lainnya. Tidak ada yang spesial dari hidupku, sampai aku bertemu Kakek Thomas yang menjodohkan aku denganmu," ujar Robert pelan.
"Apa kamu bahagia menikah denganku, Rob?" tanya Anne lagi.
"Kenapa kamu tanya itu terus, Sayang?" sahut Robert sambil mencubit hidung istrinya.
Robert memeluk bahu Anne dan mengusap air matanya lembut. "Sstt, jangan menangis lagi, tidak apa-apa keluargamu begitu. Jika tidak ada mereka 'kan kamu tidak ada. Ayo, tugasmu sekarang adalah jaga kesehatan, agar kalau hamil nanti kamu dan bayi kita sehat selalu. Istirahatlah sejenak setelah cicilan rumah dan motor lunas bulan depan. Kamu bisa bernapas lega. Aku bangga padamu," ujar Robert senyum sambil memeluk Anne lembut.
"Oh ya dari mana kamu kenal Tuan Matt dan kenapa kamu juga mempelajari akupunktur?" tanya Anne lagi.
__ADS_1
"Aku jawab satu-satu dulu ya. Aku bertemu Matt di kampus. Dia adalah kakak kelasku, kami beda satu tahun saja. Dia banyak menolongku saat kuliah, misalnya memberikan makanan untukku. Info trading IT juga dari dia. Aku belajar akupunktur karena aku suka baca buku kesehatan. Aku mempraktekkan ilmu akupunktur itu awalnya pada hewan seperti ikan, kelinci, tikus putih, dll. Suatu kali pemilik kos sakit pusing parah, dia menderita sekali karena sering pingsan. Akhirnya aku mencoba menusukkan jarum akupunktur di titik sakitnya di kepala. Aku pun takut gagal, dan nyawa orang taruhannya 'kan. Tapi, karena situasi genting dan aku ingin membalas kebaikan pemilik kos, maka aku memberanikan diri untuk mengobatinya." Robert bercerita seadanya saja, hanya garis besarnya saja supaya Anne tidak curiga.
"Lalu, apa yang terjadi saat itu?" tanya Anne penasaran.
"Untungnya pemilik kos itu sembuh. Sejak saat itu aku makin percaya diri dan juga makin rajin membaca buku medis. Tapi, aku tidak memungut biaya alias gratis pada mereka yang minta tolong." Robert tersenyum saat mengingat satu per satu orang yang telah ditolongnya.
***
Yuk, dukung terus karya author dengan klik like, vote, favorit dan bagi koinnya jika kamu berkenan ya. Thanks
__ADS_1