
"Aku sudah bercerita tentang masa kecilku, bagaimana menurutmu? Menarik tidak?" tanya Robert sambil mengelus punggung polos istrinya.
"Menarik kok Sayang. Aku suka dengar cerita masa kecilmu, sungguh tough sekali." Anne memeluk leher Robert dan mengecup bibir tebalnya dengan manja. Keduanya larut dalam ciuman yang makin ganas.
"Hmm Rob, aku juga butuh ditusuk akupunktur, di sini," ujar Anne sambil membawa tangan suaminya ke area inti kesukaannya.
"Boleh, Sayang, tapi jarumnya besar, tumpul, keras dan bisa bikin kamu gemetar, kamu masih mau coba?" ujar Robert absurd.
"Iya, dong Sayang," sahut Anne sambil berbaring di ranjang. Matanya memandang Robert sayu seakan pasrah menerima tusukan akupunktur yang bisa membuatnya tremor di ranjang. Kedua pahanya sudah terbuka lebar, kode keras siap diobati suaminya sekarang.
__ADS_1
Sementara Robert memandang Anne dengan penuh semangat, aktris plus-plus favoritnya tentu saja adalah istrinya sendiri. Tak perlu lama, keduanya segera menyatu cepat tanpa pemanasan lama-lama.
Malam berlalu dengan indah bagi keduanya. Anne sangat senang karena suaminya bercerita tentang masa lalunya kepadanya sehingga ia merasa lebih mengenal dekat pribadi suaminya.
***
"Robert, Kakek memanggilmu ke sini untuk menanyakan pendapatmu bila Kakek jual rumah ini. Kakek sudah tua dan entah kenapa Kakek punya firasat kalau Kakek akan tiada sebentar lagi. Kakek ingin menjual rumah ini, biar uangnya bisa dibagi ke orang tua Anne, Spencer dan Anne tentunya. Kakek tidak mungkin menghibahkan rumah ini pada salah satu dari kalian untuk mencegah konflik keluarga. Kalau dijual 'kan Kakek bisa langsung bagi-bagi uangnya sesuka Kakek dan kalian semua pasti kebagian uangnya. Bagaimana menurutmu? Apa kamu ada kenalan yang mau beli rumah besar di daerah strategis ini?" tanya Kakek Ridhan setelah bercerita panjang lebar.
"Ya, ada baiknya juga pemikiran Kakek di atas. Begini saja Kek, rumah ini 'kan bersejarah bagi Kakek dan keluarga. Biar rumah ini aku saja yang beli, Kakek tidak usah cemas dengan harganya, karena aku pasti memberikan harga yang bagus untuk Kakek. Matt juga akan bantu mengurus untuk notaris, biaya balik nama SHM, dan lain-lain. Kakek tetap tinggal di sini saja, sesukanya Kakek saja. Kakek bisa atur untuk pembagian uang warisan hasil jual rumah ini nanti, terserah Kakek. Tapi, aku ada satu permintaan agar Kakek jangan bilang-bilang pada siapapun bahwa aku adalah pembeli rumah ini. Bagaimana menurut Kakek?" tanya Robert.
__ADS_1
Setelah berpikir sebentar, Kakek Thomas berkata, "Baiklah, Kakek setuju dengan usulmu, Rob. Tolong bantu urus surat-suratnya ya. Kakek akan berikan nomor rekening bank Kakek. Oh ya, Kakek akan depositokan saja uang hasil penjualan rumah ini. Lumayan 'kan buat tabungan Kakek. Sekalian tolong urus notaris untuk ahli waris hasil penjualan rumah ini dibagi rata sebesar 33,3% untuk Ridhan, Spencer dan Anne. Aku tidak mau seperti Ridhan dan Sandra yang tidak adil pada anak. Rumah ini adalah harta terakhirku. Perusahaan Matrial Halinger sudah kuserahkan pada Ridhan dan Sandra. Satu per satu urusan beres sebelum aku mati nanti. Tinggal menunggu kelahiran buyut saja hehehe," ujar Kakek Thomas ceria seakan tiada beban pikiran lagi.
"Baik, Kek. Aku akan menyuruh Matt mengurus transfer uang senilai 150 miliar rupiah untuk Kakek serta mengurus printilan surat-surat rumah, dan mengatur pertemuan Kakek dengan notaris untuk mengurus pembagian uang warisan hasil penjualan rumah ini," sahut Robert tersenyum.
Matt segera mencatat semua tugasnya dengan sigap dan segera mengirim WhatsApp chat ke notaris Black Diamond Group. Bertambah lagi aset bosnya ini yang artinya menambah deretan pekerjaannya.
***
Yuk, dukung terus karya author dengan cara klik like, vote, favorit dan bagi koinnya jika kamu suka ya. Terima kasih.
__ADS_1