Suami Yang Tak Biasa

Suami Yang Tak Biasa
Part 57


__ADS_3

Si kucing Keto akhirnya pergi ke sudut ruangan dan berbaring di sana. Dia seolah tahu bahwa dua tamu majikannya ini terkejut dengan kelakuannya naik ke meja makan tadi.


Tuan Ridhan tiba-tiba masuk ke ruangan itu dan ikut mengobrol bersama anak dan menantunya.


"Itu mobil baru? Berapa harganya? Beli cash ya? Banyak uang ya sekarang sudah bisa beli mobil?" tanya Tuan Ridhan.


"Ya, itu Robert ambil kredit, Ayah. Itu Toyota Avanza tipe termurah, jadi tidak sebagus mobil Toyota Calya punya Spencer, Ayah tenang saja," jawab Anne sekenanya. Dia dan Robert merasa risih dengan pertanyaan Tuan Ridhan. Pertanyaannya terlalu mau tahu sekali dan terasa kesan iri dan takut tersaingi. Sebenarnya wajar saja jika orang tua bertanya pada anaknya mengenai hal-hal pribadi seperti berapa gajinya, berapa harga rumah dan mobilnya, dll. Hanya saja, tipe orang tua Anne ini iri dengki dan tidak suka melihat Anne punya ini itu, mungkin takut Spencer tersaingi. Padahal, mau saingan apa coba? Beli pun dengan uang Anne dan Robert sendiri, bukan karena di-support (dibelikan) orang tua Anne.


"Memang kamu sudah punya pekerjaan tetap sekarang atau masih tidak jelas kerjanya? Kok bisa beli mobil sih? Gajimu berapa?" tanya Nyonya Sandra pada Robert. Aduh, pertanyaannya terlalu dan sungguh terlalu sekali. Tentu saja bisa beli mobil, 'kan bayarnya pakai uang, masak hasil mencuri?? Pertanyaannya seperti orang yang tidak pernah sekolah saja, bodoh sekali. Iri boleh, dungu jangan dong.

__ADS_1


"Pekerjaanku masih sama, Bu. Trading forex. Ini uang mukanya dari tabunganku, sisanya kredit." Robert malas bicara, takut salah bicara malah memancing pertanyaan yang menyudutkan mereka nantinya.


Anne melihat suasana sudah makin tidak nyaman, sebaiknya mereka segera pulang saja ke rumah.


"Ayah, Ibu, kami pulang dulu ya. Semoga Ibu lekas sehat, kabari ya bila ada apa-apa." Anne dan Robert segera beranjak ke luar dari ruangan itu.


"Bye Ayah dan Ibu mertua," ujar Robert.


"Mobilnya matic atau manual?" tanya Tuan Ridhan sambil melongok ke dalam mobil.

__ADS_1


"Oh, ini matic, Ayah. Jarang dipakai karena sehari-hari kami lebih sering naik motor." Anne betul-betul berusaha merendah dan tidak mau menjawab lagi. Robert sudah menyalakan mobil dan AC, sudah tidak sabar mau pergi dari ruko itu secepatnya.


"Oh gitu. Jangan lupa harus rutin dipanaskan, takutnya akinya mati," ujar Tuan Ridhan.


"Iya Ayah, terima kasih infonya ya, kami jalan dulu ya," sahut Robert cepat-cepat sambil menginjak pedal gas. Anne pun ikut melambaikan tangannya. Mobil segera melaju cepat ke jalan tol menuju Jakarta.


"Aku malas sekali dengan Ayah dan ibumu, kalau bertanya terlalu mau tahu dan kesannya iri sekali, padahal mereka jelas-jelas jauh lebih berada daripada kita. Mereka taat beribadah, tapi perkataan dan tingkah lakunya betul-betul tidak baik. Aku tahu aku tidak boleh menghakimi orang lain, tapi aku kesal sekali. Aku masih tahan mulutku tadi, ingin cepat pulang saja deh," ujar Robert panjang lebar sambil menyetir.


***

__ADS_1


Yuk dukung terus karya author ya dengan klik like, vote, favorit dan bagi koinnya ya jika kamu suka. Terima kasih.


__ADS_2