Suami Yang Tak Biasa

Suami Yang Tak Biasa
Part 52


__ADS_3

Waktu pun berlalu dengan cepat. Tak terasa akhirnya cicilan rumah dan motor Anne sudah lunas. Anne dan Robert berencana mengunjungi panti asuhan tempat Robert dulu tinggal.


"Rob, ayo jalan, aku sudah siap. Naik motor saja biar cepat. Kita 'kan tidak bawa banyak barang ini. Aku tunggu di depan ya." Anne sudah siap pakai helm dan jaketnya.


"Oke, aku kunci pintu rumah dulu ya." Robert segera memakai jaket dan mengunci pintu rumahnya.


Sesampainya di Panti Asuhan Hati Ibu, Robert dan Anne segera masuk dan membagikan camilan biskuit sekantong besar pada anak-anak. Mereka pun juga menyampaikan sedikit bantuan uang kepada panti itu sebagai wujud ucapan syukur lunasnya cicilan rumah dan motor Anne.


"Terima kasih, Nak Robert dan Nak Anne untuk sumbangannya ya. Semoga Tuhan balas kebaikan kalian berdua. Ibu doakan agar kalian cepat punya anak juga," ujar Ibu Nina, kepala panti asuhan itu.


"Amin Bu Nina, terima kasih banyak ya Bu," ucap Anne sambil tersenyum bahagia.


"Apa boleh kami lihat-lihat panti ini Bu sebelum kami pulang?" tanya Robert.


"Oh ya, tentu boleh. Silakan Nak Robert," ujar Bu Nina ramah.

__ADS_1


Kemudian, Robert dan Anne masuk ke ruang anak bayi. Ada sekitar lima bayi di sana. Dua bayi baru lahir, dan tiga lainnya berusia enam bulan ke atas. Menurut Bu Nina, bayi-bayi ini ditinggalkan orang tuanya sejak lahir. Ada yang karena tidak sanggup membiayai bayinya, ada juga yang karena ibunya meninggal saat melahirkan, dan ada yang karena orang tuanya kecelakaan dan meninggal dunia. Sungguh miris sekali.


"Wah, bayinya lucu sekali, aku mau gendong satu ah, sini aunty gendong ya, siapa nama kamu?" ujar Anne pada salah satu bayi laki-laki gembul.


"Oaa oaa he he he," celoteh si bayi kecil riang.


"Sini sini, uncle saja yang gendong kamu, hehehe," ujar Robert sambil mengulurkan tangannya kepada si bayi lucu itu.


"Wah kalian berdua sudah cocok jadi orang tua nih," ujar Bu Nina tersenyum hangat.


"Bayangkan bila kita punya lima bayi seperti ini, wah bakal ramai sekali rumah kita, sepertinya kita harus cari rumah baru deh haha," ujar Robert sambil tertawa lebar.


Anne dan Robert tertawa bersama. Ya, inilah suasana mereka bila suatu saat punya anak.


Berikutnya mereka melihat ruang makan, dapur, kamar anak laki-laki, kamar anak perempuan, dan halaman belakang panti asuhan. Setelah itu, mereka pulang ke rumah.

__ADS_1


***


Di ruko Nyonya Sandra.


"Spencer, cepat urus rumah kos di belakang toko ini ya. Jangan lupa tagih uang kos bulanan. Suruh istrimu cek klikBCA apa ada uang masuk dari Nyonya Kelly, dia pesan pasir dua mobil tadi." Nyonya Sandra rupanya sedang menelepon Spencer.


Begitulah dia dan Tuan Ridhan mengendalikan perusahaan mereka belakangan ini. Karena mereka tidak bisa menggunakan internet banking atau kurang up to date pada perkembangan teknologi dan juga takut salah pencet serta takut penipuan, makanya mereka lebih memilih cara konvensional, yaitu tabung dan tarik manual di bank. Namun, karena tuntutan zaman dan mau tidak mau harus beradaptasi dengan teknologi perbankan. Bayangkan bila ada penghuni kos yang transfer pada malam hari atau pagi hari di luar jam operasional kantor cabang bank atau pelanggan toko.


Semua keputusan Nyonya Sandra untuk menyuruh anak dan menantunya memeriksa klikBCA adalah idenya sendiri dan tentu saja tidak perlu melibatkan Anne dan tidak perlu juga memberitahunya.


Malang sekali Anne. Dia tidak pernah memilih untuk dilahirkan ke dunia ini dari rahim seorang ibu seperti Nyonya Sandra. Seandainya saja nasib bisa diubah. Namun, itu semua hanya di mimpi Anne saja.


***


Yuk, dukung terus karya author dengan klik like, vote, favorit dan bagi koinnya jika kamu suka ya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2