
" La la la la... " Nyanyian asal Arkhan saat pertama masuk rumah di pagi buta.
Nyanyian kegembiraannya terhenti saat melihat Zahra tertidur di atas shofa.
Ngapain dia tidur di situ ?."
Arkhan mendekati Zahra.
" Hoy bangun."
" .... "
" Hoy bangun." mulai meninggi.
" Eh, mas.." Berusaha bangun dari tidurnya dan terseyum pada sang suami.
" Baru pulang ? lembur ya mas ?."
" Hemm." Menatap sinis.
" Mau mandi dulu, Atau langsung istirahat ?."
" Mandi, siapin air hangat."
" Iya mas." Zahra mendahuli Arkhan berlalu ke kamarnya dan menyiapkan segala sesuatu untuk Arkhan mandi.
Setelah beberapa saat Arkhan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
Zahra yang baru selesai merapihkan pakaian, Memperhatikan beberapa bercak merah di dada bidang suaminya.
degg...
Hatinya seketika merasa sakit bahkan sangat sesak, ia tahu betul bercak merah seperti itu.
Tapi secepatnya ia menangkis semua pikiran negatif untuk sang suami.
" Mas, ini apa ?." Menyentuh bercak merah yang sedikit samar.
" Hanya gatal." Jawab asal Arkhan.
Zahra merasakan kebohongan di mata Arkhan.
Tapi Zahra tidak bisa berbuat banyak dia hanya bisa tersenyum hambar menanggapi sang suami, Ia butuh lebih banyak bukti tidak hanya pra duga seperti ini.
" Mas sebentar lagi subuh, mas sholat aja dulu ya ?."
" Gak, aku cape." Merebahkan diri di atas kasur setelah berpakaian lengkap.
__ADS_1
" Loh, sesibuk apapun jangan tinggalkan sholat mas."
" ...."
" mas, tuh denger gak udah adzan ?."
" Hemm."
" Ayo mas, sholat dulu baru tidur."
" Ish berisik, Kalau mau ceramah sono di mesjid." Bentak Arkhan sambil melempar bantal ke arah Zahra yang masih berdiri di sampingnya.
deg..
sakit ?
Apa perlu di tanyakan ?
Zahra menghela nafas lalu keluar dari kamar sambil berlinang air mata, Menutupnya kembali dan seketika itu ia ambruk bersandar di depan pintu kamarnya sambil memeluk kedua lututnya, ia menangis sesenggukan.
Hatinya merasa sakit di perlakukan seperti itu oleh sang suami, padahal ia sudah menunggunya semalaman sampai tertidur d shofa dalam cuaca dingin karena hujan.
hiks... Ya Allah, Kuatkan hamba.
Matahari mulai menunjukkan sinarnya, Zahra sudah kembali tegar setelah satu jam setengah menangis, Ia menuju dapur dan membuat masakan untuk sang suami di bantu oleh para pelayan di sana.
Zahra tidak fokus saat memotong sayuran, al hasil bukan sayuran yang ia potong, ia malah melulai jari nya lagi.
" Aw.. Astagfirullah."
" Ya ampun nyonya, biar saya saja." Ucap meid.
salah satu meid membawa obat juga plester untuk membalut luka Zahra.
" Terimakasih."
" Nyonya, sebaiknya kami saja yang menyiapkan sarapan, nyonya istirahat saja."
Zahra mengangguk.
Zahra kembali ke kamar berusaha membangunkan sang suami untuk meminta izin hari ini ia juga ingin mengunjungi orang tuanya.
" Mas."
" ...."
" Mas."
__ADS_1
" ishh, apa sih ? Ganggu mulu."
" Mas, aku mau izin, aku mau nginep di rumah umi abi ya."
" Ya udah sono, tinggal pergi aja gak usah bangunin aku." Mulai meradang.
Deg..
" Iya maaf mas, Assalamualaikum." Ucap Zahra sambil berjalan keluar kamar.
" Reseh banget." Lalu kembali tertidur.
Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tuanya, Zahra tak henti hentinya menyeka air mata yang jatuh ke pipi mulusnya.
Sang supir pak Warna yang melihat kesedihan mendalam pada majikannya hanya bisa memperhatikan dari balik sepion mobil.
Nyona sepertinya sangat tertekan, Kasihan sekali. Batin Pak Warno.
" Nyonya kita sudah sampai."
" Oh, terimakasih pak." Menarik nafas, Memperhatikan penampilan lalu melukis senyum paksa di bibirnya.
Zahra mengetuk pintu, Dan Keluarlah teh Zizah.
" Neng Zahra ?."
" Teteh.." Mereka berpelukan.
" Teteh belum di jemput mas Daniel ?."
" Mas Daniel masih ada kerjaan di sana jadi belum sempet jemput."
" oh."
" Ayo masuk dulu." Zizah terus memperhatikan Zahra yang melukis senyum tapi beraura kesedihan.
" Teh, Umi abi kemana ?."
" Baru aja berangkat ke toko."
" Ohh, Oh iya aku mau nginep di sini loh teh."
" Alhamdulillah, teteh ada temen nonton drakor."
" he he he, Iya neng juga udah lama gk nonton drakor."
Mereka terus mengobrol dan memasak bersama dan juga membersihkan rumah.
__ADS_1
Sore pun tiba, Zahra terus mengecek ponselnya menunggu kabar bahkan kalau dia tamak ia menginginkan sang Suami menelponnya.