
" Sayang."
" Iya mas." Jawab Zahra masih di depan cermin membersihkan riasan naturalnya.
" Sayang."
" Iya, apa mas ?." Masih menghadap cermin.
" Sayang."
" Iya mas." Zahra pun barbalik dan memperhatikan Arkhan yang menahan kepala dengan tangannya sambil berbaring.
" Sayang."
" Masyaallah, Apa sih mas ?." Zahra mulai kesal.
" Sayang."
" ... " Zahra tidak menjawab, Ia malah menghampiri Arkhan dan duduk di atas ranjang.
" Iya mas, Ada apa ?." Sabar Zahra.
" Lima rounde ya." Pinta Arkhan tiba tiba.
Zahra yang kaget pun langsung berusaha menjauh dari Arkhan, Tapi sayang Arkhan lebih dulu meraih tangan Zahra lalu menariknya hingga berbaring di dalam pelukannya.
" Mau ya ?." Masih memohon sambil mengelus punggung Zahra.
" Mas."
" Mas gak mau kamu nolak sayang."
" Mas."
" Ingat ! Surga istri ada pada suami ?."
" Iya benar mas."
" Mau ya ?." Mencium kening Zahra singkat.
" Mas."
Arkhan sudah memposisikan diri menghisap leher Zahra seperti drakula hingga Zahra mendesah.
" Aahh, Mas."
" sayang, Mas udah gak kuat."
Arkhan langsung membuka pakaian yang menutupi tubuh istrinya itu dan juga melepas pakaian yang ia kenakan.
Tangan nakal Arkhan mulai merambat ke bagian belakang punggung Zahra untuk membuka pengait yang menutupi keindahan Zahra, Saat sudah terlepas Zahra langsung menutup dengan kedua tangannya.
" Kenapa sayang?." tanya Arkhan heran.
" Mas."
" mas udah gak kuat neng."
" Ta ta tapi mas.."
Arkhan membuka paksa lengan Zahra yang menghalanginya, Tapi saat itu juga Zahra memberanikan diri berbicara di sela sela desahannya.
" M mas.."
" ... " tidak menjawab, masih asyik dengan kesukaannya.
" Aku lagi datang bulan."
Dwuuarr....
Seperti kesambar petir, Arkhan menghentikan kegiatannya lalu menatap mata Zahra.
" apa tadi kamu ngomong apa ?."
" Aku lagi datang bulan mas." Cicit Zahra
__ADS_1
" Aisshh.." Arkhan langsung bangkit dari atas tubuh Zahra sambil berusaha menahan hasratnya untuk tidak memakan Zahra.
Zahra langsung menarik selimut dan menutup tubuhnya.
" Mas." Zahra merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi memang kodratnya wanita seperti ini.
" Mas, Marah ya ?." Tanya Zahra hati hati.
Arkhan tidak menjawab ia malah pergi ke kamar mandi, Terpaksa hari hari berikutnya selama satu minggu ia harus bermain solo di kamar mandi, Pasalnya ia tidak bisa berhenti melakukannya dengan Zahra barang satu hari pun.
Zahra merasa bersalah pada Arkhan, Tapi ia tidak bisa berbuat apa apa, Akhirnya ia memakai piyama tidurnya lalu masuk ke kamar mandi dan membantu Arkhan.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya, Zahra seperti biasa sudah menyiapkan sarapan dan keperluan Arkhan dan seperti biasa pula tidak ada mesra di antara mereka rau morning kiss karena Zahra sedang kedatangan tamu bulanan.
" Mas ini sarapannya." Arkhan tidak menjawab, ia langsung menyantap sarapannya dan berpamitan untuk pergi ke kantor.
Terkadang Zahra merasa hanya seperti pemuas nafsu suaminya saja, Jika sedang tidak bisa ia di acuhkan tapi saat dia sedang bisa Arkhan akan terus terusan memujanya, bersikap mesra pada Zahra.
Tapi Zahra hanya bisa menghela nafas dan bersabar, Bagaimana pun ini pilihan hidupnya, Memilih Arkhan menjadi imamnya pun pilihannya sendiri.
.
.
.
Di kantor, Arkhan terus uring uringan dan sering marah marah pada Rama juga setiap orang yang menurutnya sangat menganggu.
Saat rapat pun sama, Semua karyawan di marahi habis habisan hanya gara gara tidak membawa pena.
" Dewi, ke ruanganku sekarang." Arkhan menelpon
" Baik tuan."
tok..tok.. tok..
" Permisi tuan."
" Kunci pintu."
Dewi hanya menurut.
" Kemarilah."
Dewi berdiri dekat di depan meja kerja Arkhan.
" Kemarilah." mengisyaratkan untuk lebih mendekat.
Dewi pun hanya menurut.
" A ada apa tuan ?."
" Apa kamu sudah menikah ?."
" Belum tuan."
" Mau jadi istri sirih ku ?." Tawar Arkhan, sambil menggenggam tangan Dewi.
Dewi kaget atas penuturan Arkhan yang tiba tiba tanpa basa basi terlebih dahulu.
" Ta tapi tuan, Saya sudah punya kekasih."
" Kau memilih menjadi istri sirihku atau tetap dengan kekasihmu tapi kau aku pecat." Ancam Arkhan.
Dewi diam Beberapa saat, Ia memikirkan bagaimana caranya untuk menolak tapi di sisi lain ia juga ingin merasakan kekayaan yang tuannya miliki.
__ADS_1
" Bagaimana ?."
" Sa sa saya.." Perkataan Dewi terpotong.
" Pulang kerja aku tunggu d parkiran, Kita harus segera menemui penghulu."
" Ta tapi."
" Kamu boleh keluar."
Dewi tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa menuruti kemauan gila atasanya itu.
Ia pun berfikir untuk menerima Arkhan tanpa harus melepas kekasihnya, Kekasih yang sangat ia cintai, kekasih yang sudah menemaninya saat suka maupun duka.
Lagi pula mahkotanya sudah di berikan pada Doni, Kekasih tercintanya itu.
Saat pulang kantor, Dan para karyawan pun sudah berlalu meninggalkan kantor, Dewi berjalan menghalpiri mobil Arkhan dan langsung masuk setelah melihat Arkhan membuka sedikit kaca mobilnya.
" Tuan."
" Kau membuang waktuku." Arkhan langsung melajukan kendaraannya. Ia melesat menuju rumah salah satu ustadz untuk memulai akad nikah.
Sesampainya di rumah ustadz itu, Ia langsung menggenggam lengan Dewi setengah menariknya agar cepat masuk dan duduk di sampingnya.
" Pak Daffa, Apa yang membawa anda ke mari ?."
" Pak, Saya ingin menikahi wanita ini." Ucap Arkhan langsung.
" Tapi, bukanya anda sudah menikah ?."
" Dia akan ku jadikan istri sirihku."
" Apa istri anda sudah tahu."
" tidak."
" Astagfirullah, Itu bisa membuat istri anda sakit hati pak." Pak ustad berusaha menasehati, Meskipun ia tahu bahwa seorang pria di perbolehkan berpoligami.
" Nikahkan saja kami." ucapnya sambil memberikan amplop coklat tebal pada pak ustadz.
" ta tapi tuan."...
" Ini mas kawinya. " Arkhan memberikan kotak yang isinya kalung berlian, Tadinya kalung itu akan ia beri pada Zahra sebagai permintaan maaf tapi karena Zahra sedang datang bulan jadi ia urungkan.
Dalam hati Dewi, Ia bersorak ria karena melihat kalung yang indah juga di jamin mahal untuk di jadikan mas kawinnya.
" saya tidak apa apa pak, Silahkan nikahkan saya." Ucap Dewi berusaha meyakinkan sang ustadz.
Dengan sangat terpaksa, Pak ustad itu pun menikahkan kedua pasangan itu.
Setelah acara akad nikah selesai, Arkhan membawa Dewi kesebuah hotel bintang lima, Ia memesan kamar yang paling mahal untuk malam panas mereka.
" Dewi, di kantor kau tetap memanggilku tuan, tapi saat kita berhubungan kau harus memanggilu mas."
" Baik tuan."
Arkhan yang sudah menahan hasratnya dari semalam pun langsung menerkam Dewi dan langsung menyetubuhinya tanpa ampun dan tanpa pemanasan sebelumnya, Membuat Dewi kesakitan dan sama sekali tidak merasakan kenikmatan dari hubungan badan dengan sang boss.
" ahh.. sa sakit mas. " Dewi terus merintih.
Sedangkan di rumah megah istri sah Arkhan, Zahra tidak sengaja menjatuhkan cangkir teh yang ia bawa.
prrang...
" astagfirullah..." Zahra memunguti pecahan cangkir dan hatinya mendadak sakit ia juga mengingat Arkhan yang sudah sangat malam tidak kunjung pulang.
" Mas Arkhan." Lirih Zahra sambil memegangi dadanya yang terasa sakit seperti tertujuk tapi tidak berdarah.
Dan tak sengaja, pecahan cangkir itu mengenai salah satu jarinya.
" Aw.." jari Zahra mengeluarkan banyak darah, karena goresan itu cukup dalam.
Rintihan sakit di luka jari Zahra tepat saat petir terdengar dan hujan deras pun mulai turun.
Hati seorang istri yang di duakan pasti akan selalu merasakannya, Zahra terus berusaha menghubungi Arkhan, Tapi suaminya itu tidak menjawab panggilannya.
__ADS_1
Zahra hanya bisa berdoa agar sang suami di jauhkan dari segala macam bahaya yang ada, Dan semoga Allah selalu melindunginya.