Suamiku Perhitungan

Suamiku Perhitungan
Eps 30


__ADS_3

Zahra tersenyum ramah pada para pekerja yang menyapanya.


Beberapa menanyakan kabar Zahra, yang selalu di balas dengan sura halus nan mendayu manja itu.


" Neng.." Seseorang memanggil Zahra yang hendak masuk ke ruangannya, Ia menoleh lalu tersenyum hangat.


" Mamah." Fathimah memeluk menantunya dengan sayang, mengelus pashmina panjang yang menutupi kepalanya " Putri mamah yang cantik." Ucapnya sambil meneteskan air mata.


" Mamah apa kabar ?."


" Baik, neng gimana?." Masih memasang senyum dengan mata yang sudah berkaca kaca.


" Alhamdulillah mah, neng baik."


Fathimah sungguh merasa bersalah dengan senyum palsu yang menantu baiknya itu tunjukan.


Ia benar benar merasa gagal mendidik putra tunggalnya, Sungguh Arkhan akan menyesal sejadi jadinya melepaskan berlian indah seperti Zahra.


" Ayo mah kita ngobrol di dalam." Ajaknya sambil merangkul lengan mertuanya.


" Silahkan duduk mah."


" ... "


" Neng ke dapur dulu ya mah, buat minum."


" Neng disini saja yaa, mamah ingin bicara." Zahra mengannguk " Kalau gitu, neng izin telpon karyawan dulu ya mah."


" Hallo, Maaf, bisakah bawakan saya teh madu juga beberapa cemilan ?."


" .... "


" Baik, terimakasih."


Fathimah terus tersenyum memandangi Zahra, Zahra juga masih tersenyum sampai akhirnya mertuanya itu terisak meneteskan air mata.


Hiks... Hiks... Hiks....

__ADS_1


" Astaghfirullah, mah mamah kenapa ?." Mendekat sambil mengelus lengan mertuanya, raut cemas terpancar jelas.


Fathimah menggeleng sambil menggenggam erat kedua lengan Zahra.


" Maafkan mamah neng, mamah gagal hiks.. Hiks.."


" .... "


" Mamah sayang sama neng Zahra, Neng Zahra udah mamah anggap putri sendiri hiks."


" Masyaallah, iya mah terimakasih." Tersenyum lebar seolah dunianya baik baik saja.


" Neng.." Pangil Fathimah dengan serius.


" Iyaa."


" Pulang ya neng, maafkan Arkhan."


Deg


" Mah.." Tatapan mata indah itu menjadi sayu bulir air mata sudah menggenang di pelupuk " Maaf." Lalu menunduk sambil terisak lama kelamaan tangisan itu bertambah kencang, relung hatinya seolah tercabik cabik lagi setelah beberapa hari ini mencoba untuk berdamai.


Hiks... Hiks...


" Maaf mah, neng gak kuat, neng cape."


" .... "


" Neng bingung, salah neng apa ? Apa yang gak mas Arkhan suka dari neng ?."


" .... "


hiks.. Hiks .. Hiks...


" Neng harus apa mah ?." hiks...


" Neng, Maafkan mamah nak." Fathimah juga ikut terisak, seolah ia merasakan rasa sakit yang Zahra terima.

__ADS_1


" Neng sakit mah, hati neng sakit." Memukul dadanya sambil terus terisak.


Zahra melupakan keluh kesahnya pada sang mertua yang sudah menganggapnya putri sendiri, yang menyayanginya dengan tulus, memberi perhatian yang sama seperti uminya berikan.


Bukan, Zahra bukan ingin memperburuk suasana dengan mengeluhkan pada sang mertua, ia hanya ingin beban pikiran juga sakit hatinya berkurang.


" Maaf mah, neng tidak bermaksud menjelekkan mas Arkhan."


" Tidak apa apa, mamah mengerti." Tersenyum memberi pengertian.


" Maaf mah." Fathimah hanya mengangguk lalu memeluk Zahra dengan erat.


" Pulang ya nak, kembali pada Arkhan."


Zahra terus menunduk tidak memberi jawaban apapun, ia terlalu bingung.


perasaannya menginginkan pergi tapi hatinya berkata lain, Zahra hanya tidak enak pada Fathimah, wanita paruh baya itu sudah jauh jauh mengunjungi restorannya.


" Neng ?."


" Maaf mah, neng bingung." cicitnya tak enak.


" Neng, Mamah gak mau punya menantu lain selain Zahra." Tuturnya lembut.


" .... "


" Mamah sangat tahu Arkhan putra mamah yang salah." Zahra semakin menunduk, ia merasa bersalah atas ucapanya.


" Tapi mamah mohon sayang jangan menyerah yaa."


Ucap Fathimah dengan penuh pengharapan.


Fathimah sang ibunda jelas tahu mana yang baik mana yng tidak untuk putranya.


Ibu mana yang mau melihat anaknya terjerumus semakin dalam pada jurang dosa?


Fathimah hanya sedang berusaha mengembalikan Zahra agar Arkhan tak menyesal kemudian.

__ADS_1


__ADS_2