
Kembali kerutinitas awal bekerja mengelola restorannya sambil tersenyum cerah mengawali langkah paginya sambil menyapa beberap pekerja.
" Assalamualaikum semua."
" Waalikumsalam, Aduh Bu Zahra akhirnya masuk juga." Ucap salah satu karyawan nya yang bernama Mia.
" Kangen pasti nih kalian sama saya." Ucapnya sedikit usil.
" Hehe ya jelas dong bu, Oh iya bu itu si Dito yang ibu tugasin buat ngawasin resto selama ibu gak masuk udah hampir gila kayaknya, dia sering kelimpungan sendiri masa bu." Ucap Mia memberi tahu sambil terkekeh gemas mengingat Dito rekannya yang setiap hari mengeluh bahkan tak jarang pria jangkung itu lembur untuk menyelesaikan laporannya.
" Segitunya ya, adu saya jadi tidak enak sama kalian, kalian juga pasti sama ya kaya Dito, maaf ya." diiringi ringisan tanda ia benar benar menyesal.
" Gak apa apa kok bu, santai aja ibu adalah boss terbaik yang pernah saya lihat." Ujar Mia sambil tersenyum.
" Terimakasih loh atas pujianya."
Dan serah terima pekerjaan pun sudah ia lakukan bersama Dito dan rekanya yang kadang suka membantu tak lupa Zahra juga memberikan bonus atas kerja keras Dito dan karyawannya, meski tak seberapa tapi ia sangat berterimakasih pada semua patner kerjanya yang sudah amanah menjaga nama baik restoran juga dirinya.
Saat ini wanita cantik yang sudah satu tahun lebih itu menikah dan belum di karuniai seorang anak sedang berkutat pada hasil penjualan juga omset yang ia dapat bulan ini tanpa menyadari seseorang yang sudah berulang kali mengetuk pintu.
" Permisi bu."
Zahra mendongak lalu menautkan kedua alisnya " Koh kok kamu tidak ketuk pintu dulu ?."
" Saya sudah melakukannya bu, tapi sepertinya ibu terlalu fokus sampai tidak mendengarnya."
" Oh begitu ya." Tersenyum canggung.
" Jadi ada apa ?."
" Itu bu, di luar ada yang ingin bertemu."
" Siapa ?."
__ADS_1
" Saya tidak menanyakannya."
" Baiklah, kembali bekerja dan terimakasih."
Zahra pun keluar ruangan, lalu pegawai yang tadi itu mengarahkan Zahra pada sebuah meja yang sudah di isi seorang pria yang, pria itu tersenyum sambil mempersilahkan Zahra duduk.
" Assalamualaikum, hay." Sapanya kaku sambil menggaruk tengkukny.
" Waalikumsalam, Hay juga Arfan." Tersenyum.
Ya Allah senyumnya, gak kuattt manis banget, bisa bisa gue diabetes liat senyumnya. Batin Arfan meronta, ia gemas sendiri dengan senyum cantik milik Zahra wanita yang selalu ia puja dari dulu hingga saat ini.
" Hey kenapa kok malah diem aja ?."
" Ah, Eh gak apa apa kok, oh iya kamu apa kabar ?."
" Alhamdulillah aku baik, kamu ?."
" Alhamdulillah aku juga baik baik aja, Udah lama ya gak ketemu hampir tiap hari loh aku kesini."
" Ya dua minggu belakangan ini gak pernah ketemu kamu."
" Oh iya, kamu kesini terus cuman buat nanyain aku bukan buat makan gitu ?." Tudingnya berusaha mengalihkan obrolan.
" Hahaha ya gak lah, aku sambil makan dong bahkan aku bungkus dan minta buat di anterin ke kantor buat para staf."
" Hemm, sombong ya anda." Sambil terkekeh dan melipat kedua lengannya.
" Hahaha gak gitu ra."
" Iya iya percaya, makasih loh udah sering borong makanan di sini, Jadi makin naik kan omset aku."
" Hahaha wah banyak uang dong sekarang, bolehlah kapan kapan traktir ?."
__ADS_1
" hehe boleh boleh." Balas Zahra sambil terkekeh tak lupa menutup mulutnya dengan lengan " Tapi gak deh, kamu kan CEO." Imbuhnya.
" Hahaha apaan sih."
" Tapi maaf nih ya kalau aku kepo tapi sumpah aku penasaran banget kok bisa yang tadinya ojol sekarang jadi CEO ?."
" Hahaha gimana ya aku ceritanya, ya pokonya waktu itu aku gabut banget sumpah jadi deh aku nyobain jadi ojol dan ya lumayan bikin fresh otak."
" Bentar bentar, jadi waktu itu juga kamu udah jadi CEO AF GRUP ?."
Arfan hanya mengangguk kecil sambil tersenyum.
" Waw keren." Ucap Zahra sambil berbinar.
" Heleh ke gak biasa aja, suamimu juga kan seorang CEO."
Kata Suami yang di lontarkan Arfan sukses membuat mood Zahra kembali down, mendadak ia tidak berselera nengobrol lagi.
Padahal entah sejak kapan dan dari mana keduanya sudah mulai santai tidak sekaku dahulu, Arfan yang meliat raut Zahra yang tiba tiba murung pun merutuki ucapnya yang begitu saja tanpa fikir panjang, ya efek sudah terlalu nyaman pada sosok istri orang itu.
" Aduh mendadak laper deh, mau pesen makanan dong ibu boss resto." Ucapnya berusaha mengalihkan fikiran Zahra dengan sedikit guyonan di nadanya.
Tapi empunya terus saja menunduk sambil memainkan jari jarinya di atas meja.
Sungguh tak tega rasanya melihat raut sedih terpatri di muka cantiknya itu, Dengan sedikit ragu Arfan menarik lengan baju itu yang sedikit mengembung, ingat ! hanya sebagian lengan baju ya yang berarti kain " Ra." Sentuhan tak langsung itu berhasil menyadarkan Zahra.
" Ya, Kenapa ?." Sambil menarik tanganya di atas meja beralih ke dalam pangkuannya.
" Aku laper, mau pesen makan ibu boss."
" ok ok, mau pesen apa Bapak CEO ?."
" Hmm, kayaknya udang saos tiram enak deh sama cah kangkung nya ya sekalian."
__ADS_1
" Ok, di mohon tunggu sebentar ya." Setelahnya Zahra pergi meninggalkan Arfan yang masih menatap punggung juga hijab yang berkibar cantik tertiup angin sedang.
Arfan tahu ini salah, Mencintai wanita pria lain tapi apa boleh buat Cinta datang begitu saja tanpa paksaan, Bahkan hatinya dengan kurang ajar berani melabuhkan pilihan pada wanita itu, wanita cantik dan mandiri sekali lagi ia tertampar oleh keadaan.