
Arkhan terbangun dari tidurnya seperti biasa jam enam pagi, Pagi pagi sebelumnya ia selalu terbangun seorang diri di kasur atau biasanya istri Sholehah lnya yang selalu membangunkan.
Pagi yang lalu, Saat bangun tidur hendak mandi sudah ada handuk, pakaian ganti, dasi, jam tangan juga sepatu yang sudah istri cantiknya persiapkan
Tapi lihat pagi ini, Ia terbangun dan di sampingnya masih ada Dewi si istri sirih yng masih terlelap tidur seperti putri dongeng.
Arkhan membiarkannya, dan saat selesai mandi pun Dewi masih bergelung dengan selimut, alhasil pagi ini ia menyiapkan keperluannya sendiri.
Memakai kemeja putih dipadukan jaz abu abu tua tanpa dasi, kenapa ? Ia tidak pernah mengikat dasinya sendiri selalu Zahra yang mengerjakannya.
Turun ke bawah hendak sarapan, Di meja makan tidak tersedia apapun ia menggeram kesal, menatap sekeliling Sampai matanya menemukan salah satu maid yang sedang mengelap guci besar.
" Kesinj kau."
Merasa terpnggil, meid itupun bergegas menghampiri sambil menunduk.
" Kenapa tidak ada sarapan ?."
" Maaf tuan, Saya beserta yang lain belum hapal apa kesuaan tuan."
Brakk...
Arkhan memukul meja, ia kesal sungguh pagi ini di awali dengan emosi yang membara.
" Buatkan kopi dengan satu sendok teh gula."
" baik tuan."
Dari arah tangga, Dewi turun dengan tergesa bahkan kancing bajunya belum terpasang, rambut berantakan dan tas makeup yang sedang ia tenteng.
__ADS_1
" Duh mas ko gak bangunin aku sih ?." Sambil mengancing kemeja kerjanya.
Arkhan hanya meliriknya sekilas lalu kembali menikmati secangkir kopi dengan bermain tablet.
" Ini ko gk ada sarapan si mas ?."
" .... "
" HALLO, PEMBANTU."
Arkhan hanya menurup kuping saat suara Dewi kembali lagi menggelegar.
" INI PEMBANTU PADA KEMANA SIH ?."
Salah satu meid dengan kerja terlama kedua setelah bi Jina menghampiri majikannya yang berteriak.
" iya nyonya,mohon maaf tadi saya si belakang."
" .... " Meid itu hanya menunduk, bingung mu jawab apa, karna itu bukan tugasnya.
" KAU TIDAK LIHAT, MAJIKANMU INI HENDAK SARAPAN."
Dengan perasaan takut dan tubuh gemetar,meid itu menjawab dengan sangat pelan.
" Mo..hon maaf nyonya, bukan tugas saya untuk membuat sarapan."
" TERUS, KAU BIARKAN KAMI KELAPARAN, ARE YOU KIDDING ME?."
Meid itu terus nenunduk denggan bahu yang bergetar.
__ADS_1
Arkhan geram, ia tidak suka dengan perubahan suasa seperti ini, Ia tidak suka pagi nya berantakan, ia tidak suka kebisingan.
" Kau, kembali."
" Baik tuan."
" Loh, mas ko di suruh balik sii ? Aku belum puas ya marahin dia, bisa bisanya dia malah santai santai, gak buat sarapan." Dewi kesal, ia belum puas memarahi orang lain.
Dengan menahan emosi, Arkhan berdiri lalu pergi meninggalkan Dewi yang terus memanggil manggil sambil berempong ria dengan alat makeup juga sisirnya.
" Ih mas tunggu."
" ... "
" Cepet banget jalanya, mana aku panggilin gak nyaut."Tampaklah wajah kesalnya.
" Kau, naik taksi." Singkat, lalu berlalu dari pekarangan rumah menaiki mobil mewahnya.
Dewi melongo, sampai sampai sisir yang di genggamnya terjatuh.
Hah gimana? Ini serius gue di tinggal? Seorang dewi ? berbicara dengan dirinya sendiri.
" Ck, sumpahnya kalau gk karna duitnya, Ogah banget gw tidur sama orang arogan ke gitu."
....... ....
Arkhan masuk kantor pagi ini tidak seperti biasanya, hari ini tak ada kesan rapih pada dirinya yang ada suram dan amarah yang terasa.
Mengela nafas berat,memandangi wajahnya di cermin lalu mengacak rambutnya kesal " Aaarrrgghhh."
__ADS_1
Dia tidak merasa bersalah atas perlakuannya pada Zahra, yang ia butuhkan hanya Zahra yang selalu siap sedia kapanpun di manapun, yang melayaninya dengan sangat telaten.
Ia tidak bisa, mengurus dirinya sendiri tanpa Zahra.