
Saat ini, Zahra tengah bersiap membuat bekal makan siang untuk Arkhan, Ia ingin mengunjungi kantor suaminya itu untuk memberi kejutan padanya, Entah bagaimana reaksi yang akan di tampilkan Arkhan padanya yang jelas ia begitu antusias dengan masakannya.
Biasanya Zahra akan memberitahukan Arkhan terkebih dahulu jika hendak berkunjung ke perusahaannya, Tapi kali ini ia ingin membuat momen Spesial dengan kedatangannya yang tiba tiba.
Saat sudah sampai di kantor, satpam maupun resepsionis memberi hormat dengan membungkuk pada Zahra yang ia balas d gan senyuman, Wanita cantik itu di sapa dengan oenuh ramah tamah oleh beberapa karyawan.
" selamat siang nyonya Zahra."
" Siang."
" Pak Arkhan ada ?."
" Tuan ada di ruangannya nyonya."
" terimakasih."
Kaki kecil itu melangkah menaiki lift, Ia sudah menghapal jalan menuju ruangan suaminya itu meski ia jarang sekali berkunjung tapi tidak sedikitpun ingatannya luntur akan kantor megah suaminya ini.
Sesampainya di lorong, Zahra mendapati sekitar tampak sepi, ia berfikir karena ini jam makan siang jadi para karyawan yang lain pun sedang mengisi perutnya untuk menambah energi dan kembali bekerja nantinya.
Tapi, Saat wanita cantik itu melewati meja sekretaris, meja itu pun tampak sepi, Alisnya pun sedikit terangkat ia heran akan lenggangnya lorong di sekitar ruangan suaminya itu.
Zahra terdiam, ia mematung dengan keadaan yang ia lihat di tengah ruangan yang terus berlangsung. Zahra terkejut pada dua hal secara bersamaan.
Pertama, Ia terkejut dengan apa yang ia lihat di dalam ruangan, Kedua, Ia kagum pada dirinya sendiri atas ketenangan yang ia alami saat melihat dua sejoli berbeda jenis sedang asyik memberi sentuhan.
Mereka berdua yang berada di tengah ruangan tampak menikmati adegan panas yang berlangsung tanpa menghiraukan sekitar, meski samar ia lihat tapi suara erangan dan desahan terdengar jelas dari celah pintu yang sedikit terbuka.
__ADS_1
Zahra melirik sekitar ruangan, ia menemukan pakaian yang berserakan tak beraturan tergeletak begitu saja di lantai, Ia ia mengenali jaz juga kemeja yang tergeletak sembarang itu, Pagi tadi ia yang menyiapkannya untuk sang suami.
Terdengar jelas di telinga yang di turupi kerudung cantik itu, suara si wanita yang terus meminta lebih dalam pada sang laki laki, jangan lupakan juga, laki laki itu yang terus mengerang dan terus mengatakan bahwa milik wanita itu begitu nikmat dan begitu sempit, Jelas sangat melukai hati Zahra.
Zahra pergi meninggalkan ruangan itu dengan tidak menurup rapat kembali pintu yang tadi ia buka sedikit, kenapa ? toh ia yakin tidak akan ada yang melihatnya, tapi meskipun ada yang melihat apakah mereka akan merasa risih dan terganggu tentu tidak saat keduanya sama sama di landa kenikmatan yang sudah menembus awang awang itu.
Zahra berlalu begitu saja, ia masuk kedalam bilik toilet dan berusaha menenangkan hatinya, Ia terus memegangi dadanya yang terasa begitu nyeri, Ia mengamil ponsel dalam tasnya lalu ia menekan tombol hijau.
tut... tut...
Cukup lama wanita itu menunggu, Sesaat kemudian panggilan nya pun di angkat.
" Mas."
Terdengar deru nafas yang terengah-engah seperti ia sudah berlari sangat jauh.
" Lagi di mana ?." Menahan sesak.
" Kantor."
" Aku mau anterin bekal makan siang."
" Gak usah."
" Kenapa ?."
" Aku udah makan siang."
__ADS_1
" Kamu lagi apa mas ?."
" Bekerja."
" Aku ke kantor ya mas."
" Tidak perlu, bisa tidak jangan menggangguku saat jam kerja ?."
" Mas..."
Tut.... sambungan telpon di putus secara sepihak dengan begitu cepat, Jari jemari Zahra bergetar, namun ia sudah mengetik pesan pada nomer yang tadi ia hubungi, tapi setelah beberapa detik jari jempolnya membeku, ia tidak mampu mrngirim pesan itu, al hasil pesan itu hanya bisa ia simpan di dalam draf.
Bukannya menangis, Zahra malah tersenyum miris sambil menatap cermin, ia meledek hidupnya sendiri yang sudah susah payah mencintai tapi tidak terbalaskan.
ponselnya masih menyapa dengan pesan yang tidak jadi ia kirimkan itu, seakan meledeknya yang tidak memiliki kekuatan atas ketidak adilan yang menimpanya.
Dear mas Arkhan.
You have everything in your life, but you can't hear and you can't see sincerity
Tapi, Dua insan yang berbeda jenis itu masih asyik berbagai ruangan setelah si pria memutuskan sambungan teleponnya.
" Ssshh... siapa mas ?."
" Zahra."
" Kenapa dia mas ?."
__ADS_1
" Sudah diam." Arkhan kembali menghentakkan miliknya k dalam sekretarisnya itu berulang kali tanpa ampun dan tanpa perasaan, permainannya kali ini begitu kasar di rasakan oleh wanita yang berada di bawah Kungkungan Arkhan yang berbaring di atas meja kerja itu.