Suamiku Perhitungan

Suamiku Perhitungan
Eps 19


__ADS_3

Perihal Umi nya Zahra yang sudah mengunjungi rumah juga restorannya tapi tak kunjung ia temukan sosok putri bungsunya itu, sudah selesai.


Ya meski dengan banyak kebohongan untuk menutupi kebohongan kebohongan lainya yang Zahra ucapkan lewat sambungan telepon tempo lalu pada ibu tercintanya, sepenggal luka menggores hatinya ketika ia terus terusan berbohong pada sang ibu, Cukup simple dan klasik alasanya ya hanya tidak mau membuat sang ibu kepikiran lalu mengkhawatirkannya bukankah memang semua anak akan seperti itu ? terlihat selalu baik baik saja meski gelombang sunami sedang menerjang ?


Sudah terhitung empat belas hari lamanya proses penyembuhan luka luka yang ia terima, Zahra bercermin pada kaca kamar mandi ruang inapnya lalu tersenyum, ya dia cukup mengagumi dirinya yang masih tampak kuat dengan segala perangkai yang ia buat, seperti sekarang luka luka itu tidak menimbulkan trauma yang berat untuknya, Zahra menganggap itu sebuah angin lalu? sesimpel itu ? tentu tidak, Tapi apakah ia masih memiliki hati ? entahlah perasaannya sedang mati.


" Assalamualaikum." Ucap Zahra sambil menenteng tas besar memasuki rumah, hari ini wanita cantik berhijab hitam itu sudah di nyatakan sembuh dan di perbolehkan pulang, hanya tersisa luka yang susah menghilang tapi tenang semuanya tertutupi oleh gamis dan hijab lebarnya.


Kaki jenjang itu perlahan memasuki rumah, sambil sesekali membalas sapaan para pekeja di rumah itu, bagaimana pun Arkhan tetap suaminya jadi ia harus pulang kan ?


Netra hitam pekat itu beberapa saat tersentak, ia kaget dengan keadaan yang sekarang sedang di perlihatkan, Dua insan berbeda jenis itu sedang saling berciuman panas di sofa ruang tengah tanpa memperhatikan sekitar.


para meid yang juga melihat lalu melirik Zahra yang hanya menampilkan raut datar itu hanya meringis tipis, pasalnya mereka tidak pernah melihat Zahra dengan ekspresi seperti itu.


" Ekhem, Assalamualaikum."


meraka yang sedang panas pun refleks menjauh dan membenahi pakaian masing-masing.

__ADS_1


Zahra duduk di single sofa dengan begitu anggunya sambil tersenyum.


" Assalamualaikum." Ulangnya.


" Wa waalikumsalam." Ucap mereka kompak sambil terbata.


" Mas ada di rumah ?." Masih tersenyum.


" Hemm." Jawabnya singkat.


Wanita itu memakai dress kurang bahan menurut Zahra yang menampilkan setengah dari dadanya bahkan sekiat dua inci lagi baju itu bisa menampilkan boba kembar miliknya dan lihat bawahnya hanya menutupi sejengkal dari pangkal pahanya.


" Hmmm hay, istri sirihnya mas Arkhan ya ?." Tanya Zahra sambil menekankan kata ISTRI SIRIH pada wanita itu, seolah ia sedang memperjelas posisinya.


" I iya mba, A aku Dewi." Ucapnya gugup sambil melepas pelukannya pada lengan kokoh itu.


Nyutt

__ADS_1


Ada yang sakit tapi tak berdarah, ya hatinya meski sudah mempersiapkan diri nyatanya Zahra tetap seorang perempuan, tetap seorang istri yang tidak mau membagi apaun itu menyangkut suaminya.


Tapi, Zahra dengan benteng tebalnya masih tetap tersenyum meski senyum miris yang ia suguhkan tanpa mengurai kekehaan di sela senyumnya.


" Sudah kenal saya kan ?." Tanya Zahra bersahabat mungkin.


Dewi hanya mengangguk " Ok, kalau gitu selamat datang di rumah Mas Arkhan." Ya dengan sangat memperjelas nama suaminya atas kepemilikan unit ini, bukan tanpa alasan, Suaminya itu memang tidak suka jika Zahra mengakui rumah megah ini juga menjadi miliknya.


" Ya dan anggap saja ini juga rumahmu ya sayang." Tambah Arkhan sambil mengusap pelan belahan dada Dewi langsung di hadapan Zahra. Hati wanita itu sang istri sah langsung nencleos sakit rasanya di perlakukan seperti ini ya dan Zahra tanpa sengaja malah terkekeh sambil tersenyum miring.


" Dan kau Az Zahra Fathimah mulai hari ini kau pindah kamar, kamarmu di bawah, aku akan satu kamar dengan Dewi."


lagi dan lagi ucapan oh bukan, bahkan perintah itu berhasil membuat hati Zahra remuk seremuk remuknya, dengan menahan air mata Zahra bernjak dari duduknya berlalu dari ruangan yang menyesakan itu, Memasuki kamar barunya yang di pimpin oleh salah satu meid atas suruhan Arkhan.


Dan saat Zahra membuka pintu, ia di suguhkan dengan segala barang barangnya yang sudah tertata rapih di tempatnya ya Arkhan suami laknat itu sudah benar benar merencanakan pengusirannya itu jauh jauh hari.


Zahra menarik nafas dan membuangnya kasar " Baiklah Az Zahra nikmati kesabaranmu." Ucapnya bermonolog

__ADS_1


__ADS_2