
Ingin menyalahkan seseorang tapi tidak bisa ? Pilihannya tetaplah pilihan, Setitik rasa penyesalan menyeruak dalam hatinya, Meski belum terbukati rasa khawatir tentang pernikahannya pun selalu menghantui, Di sela sela angin malam yang menusuk tulang hingga sakit yang ia rasa menusuk jantung.
Seperti malam yang sudah, Arkhan tidak pulang, Ia akan pulang di saat matahari mulai terbit, Hanya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Kenapa ? Ada apa dengan suaminya ? Ingin bertanya tapi apalah daya rasa takutnya begitu besar pada sang suami.
Seperti saat ini, Waktu sudah menunjukan pukul lima pagi dan Arkhan baru saja pulang, Zahra menunggunya di ruang tamu.
" Mas, Udah pulang." Zahra menghampiri Arkhan yang baru masuk ke rumahnya, lalu ia menyalami tangan Arkhan.
" Hemm."
" Aku siapin ari hangat ya buat mandi."
Arkhan hanya mengangguk.
Saat Arkhan mandi, Zahra membuatkan sarapan.
" Mas, Sarapan dulu."
Arkhan makan dengan lahap, seolah tenaganya terkuras setelah semalaman bergumul dengan Dewi yang sekarang menjadi istri sirihnya.
" Mas." Zahra menguatkan hatinya untuk bertanya pada suaminya itu, Belakangan ini ia jarang bisa mengobrol bahkan sekedar basa basi pun tidak.
" ..... " Selesai makan, ia meminum teh buatan Zahra yang selalu pas untuknya.
" Mas, belakangan ini mas sering lembur ya."
Hanya mengangguk.
" Perusahaan lagi kenapa mas, kok sering lembur ?."
" Biasa."
" Mas, mas gak ada bohong kan sama neng ?."
" Maksudmu."
" Ya neng cuman tanya aja mas."
Brak
Arkhan memukul meja lalu membanting cangkir tehnya tepat mengenai kaki Zahra.
" Gak usah banyak tanya, Bisa gak ?." Teriak Arkhan pada Zahra.
Zahra hanya mampu menunduk sambil menangis.
hiks....hiks... hiks...
" Kamu cukup duduk diam di rumah, nikmati kemewahan yang aku berikan, Kurang hah ?." Bentak Arkhan.
Hiks...hiks...hiks...
" Jawab.."
hiks... hiks... hiks...
plakk
__ADS_1
Arkhan menampar pipi Zahra sampai sudut bibir wanita cantik itu mengeluarkan darah, Ia juga hingga tersungkur ke lantai.
Para meid yang tidak sengaja lewat dan menyaksikan kekasaran majikannya hanya bisa menunduk dan langsung pergi dari situ sebelum tuan nya melihat.
hiks... hiks....hiks...
" Maaf mas." Lirih Zahra.
Arkhan seperti kesetanan, tidak puas dengan menampar bibir Zahra, Arkhan melepas paksa kerudung yang Zahra kenakan.
" Buat apa lu pake kerudung, kalau lu curiga mulu sama suami."
hiks... hiks..
Zahra hanya menangis sambil terduduk tanpa peduli rasa sakit di ujung bibir, kaki juga seluruh tubuhnya.
Arkhan yang sudah dikuasai setan pun menyeret Zahra ke kamar mandi, ia menenggelamkan kepala Zahra dalam bak mandi berulang ulang kali.
" Ampun mas..."
" a a..." Nafas Zahra tersenggal senggal.
terakhir Zahra di dorong sampai kepalanya terkena pinggiran closet
bruk..
" Sshhh...aw." Darah segar mengalir di pelipisnya, Zahra terus meringis sambil terus meminta ampun saat dirinya hendak di pukul menggunakan gagang sower.
" makanya lu jadi bini gak usah kepo."
Brak..
hiks... hiks... hiks...
Detik berikutnya Zahra tak sadarkan diri, Lelah menangis dan menahan sakit di saat hati pun merasa rapuh.
Para meid yang tadi melihat Arkhan sudah pergi, langsung menolong Zahra, Mereka membawanya ke kamar lalu mereka juga nengobati luka Zahra sebisa mereka.
Sudah dua jam berlalu tapi Zahra tak kunjung bangun dari tidur panjangnya, Para meid sudah memakaikan selimut tebal untuk membungkus tubuh Zahra yang terus menggigil mereka juga sudah mengompresnya.
" Mba, Kasihan sekali nona Zahra ya."
" iya, Saya gak nyangka tuan Arkhan sekarang berubah."
" Kasar banget ya."
Setelah cukup lama, Zahra pun terbangun dari tidurnya, Ia memegang kepalanya yang terasa sakit.
Lalu tak lama Zahra kembali menangis, Ia tidak menyangka Arkhan suaminya akan sekasar ini padanya, Kemana Arkhan yang dulu ? Kemana Cintanya ?
hiks... hiks..hiks...
Mengabaikan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Saat Zahra menangis sambil menutup wajahnya, Arkhan masuk ke dalam kamar dengan wajah penuh penyesalan.
" Sayang." Panggil Arkhan sambil mendekat.
Zahra mendongakkan kepalanya, Lalu rasa takut pun muncul ia terus mundur perlahan hingga punggungnya menyentuh kepala kasur.
__ADS_1
" Ampun mas." Bergetar penuh ketakutan.
" Sayang, Maafkan mas." Ucap Arkhan sambil membelai rambut panjang Zahra.
" .... "
" Maaf, mas hilaf sayang." Sambil berkaca kaca memperhatikan wajah lebam isterinya.
" ....."
" Maaf, mas janji gak akan ulangi lagi ya, mau kan maafin mas ?."
Zahra mengangguk, Sebenarnya ia masih takut pada Arkhan tapi ia berusaha percaya dengan kata kata suaminya di tambah lagi dengan expresi wajah yang seperti itu, sedikit tersentuh oleh kata kata sang suami yang menyesal telah berlaku kasar.
" Makasih." Arkhan memeluk Zahra sambil terus membelai rambutnya.
" Makan ya, mas suapin."
Zahra mengangguk, Setelah beberapa suap ponsel Arkhan pun berdering.
" Bentar ya,mas angkat telpon dulu." Arkhan langsung Keluar kamar dan nenerima panggilan.
Zahra menaruh curiga pada suaminya, tidak biasanya ia menelpon seperti itu hingga harus jauh jauh darinya seolah orang yang menelponnya adalah orang yang sangat penting, hingga ia sendiri tidak boleh tahu dia siapa.
............
" Hallo."
" Mas di mana ?."
" Di rumah, ada apa ?."
" Ih kok pulang, katanya mau tidur sama aku malem ini."
" Iya, kita main lima ronde ok, mas langsung kesana sekarang."
" Bener."
" Kamu gak usah pakai baju ya."
" Ok, aku udah sewa kamar hotel nya juga kok mas, nanti aku kirim ya nomer kamarnya."
" Ok cantik."
Siapa lagi yang menghubungi jika bukan Dewi, si isteri sirih yang seolah olah sangat berkuasa akan Arkhan.
...........
Arkhan kembali ke dalam kamar, ia tersenyum pada Zahra.
" Sayang, Maaf ya mas gak bisa nemenin kamu malem ini,mas harus keluar kota sekrang juga." Dengan wajah menyesal.
" Iya mas gak papa." Zahra tulus.
Cup
menciumn kening Zahra.
" Maaf."
__ADS_1
Lalu pergi meninggalkan rumahnya sendiri dan pergi menemui istri sirihnya.