Suamiku Perhitungan

Suamiku Perhitungan
Eps 23


__ADS_3

Setelah berbincang sesaat dengan Arfan, Zahra pun pulang ke rumah yang sayangnya seperti neraka untuknya.


Saat ia memasuki rumah, ia melihat begitu banyak tas belanjaan dari merk terkenal yang di letakan di atas meja, Tak lupa dengan pemandangan yang biasa ia lihat apalagi jika bukan dua sejoli yang sedang berciuman panas.


Ia sudah nengucap salam tapi tidak ada jawaban, mereka malah asyik dengan dunianya, ia pun hendak berlalu dan masuk ke kamarnya, baru juga ia memegang gagang pintu suara bariton itu sudah mencegahnya.


" Dari mana ?."


" panti."


" pulang gak ucap salam ?."


" Udah, tapi tidak di jawab."


Arkhan diam sesaat. " Ngapain ke panti ?."


" Nengokin anak anak ?."


" bawa makanan dan sembako ?." Zahra menaikan sebelah alisnya, kenapa Arkhan tahu ? ujarnya dalam hati.


" Sudah merasa kaya kamu ?."


Zahra diam, masih menunggu kelanjutannya.


" Belum mampu beli mobil mewah sok sokan berbagai."


Masih diam, sambil menatap Arkhan yang sedang mengelus rambut istri sirihnya.


" ingat, pendapatan restoran mu itu rendah, tidak usah sok berbagai jika ujungnya menyusahkan saya." Ucapnya tegas.


" Iya, maaf." Hanya itu yang Zahra ucapkan, ia terlalu malas meladeni suaminya.

__ADS_1


" kalau kamu belum mampu membeli semua ini, Tidak usah berbagi." Ucapnya lagi sambil melirik barang mewah yang ada di atas meja " Tidak usah belaga mampu !." Tegasnya sambil melirik Zahra sinis.


Zahra terus terusan beristighfar dalam hati, terus terusan meminta pengampunan atas rasa kesal dan rasa ingin mengumpat pada Suaminya itu pada Tuhan-Nya.


" Bismillahirrahmanirrahim." Gumamnya pelan, lalu menatap Arkhan cukup lama.


" Aku beliin mereka makanan, aku beliin meraka pakaian layak, aku kasih mereka bantuan apapun itu sama sekali tanpa uang kamu mas." Sedikit meninggikan suaranya.


Tidak ada balasan, Keduanya masih saling bertatapan dengan wajah menahan amarah.


" Uang yang kamu kasih, tersimpan rapih, Selama ini aku gak pernah pakai untuk beli barang barang mewah atau sejenisnya, bahkan untuk masalah berbagi sekali pun."


" ... "


Zahra mengobrak-abrik tasnya dan meraih dompet, mengeluarkan kartu ATM berwarna hitam yang pernah Arkhan berikan padanya, ia mengacungkan tinggi tinggi


" Ini mas, kamu bisa cek sendiri pengekuaray apa aja yang udah pernah aku pake buat ini."


" .... "


" .... "


" Aku gak ngerti kenapa kamu berubah, kamu punya wanita lain, bahkan kamu nikah sama wanita seperti dia." Sambil menunjuk pada Dewi dengan kilat amarah yang menggebu.


" Zahra, turunkan tanganmu." Ucap Arkhan tegas, bahkan ia seolah membentak Zahra.


Zahra tersenyum miris " BAHKAN KAMU BELAIN DIA, AKU KURANG APA MAS, AKU SALAH APA ?." berteriak dengan air mata yang malah semakin berderai.


" TURUNKAN SUARAMU, BERANINYA KAU MEMBENTAKU." ujar Arkhan dingin sambil melangkah lebar mengahampiri Zahra dan...


plak

__ADS_1


plak


Dua tamparan mendarat di pipi mulus Zahra, saking kuatnya sudut bibir wanita cantik itu mengeluarkan darah.


Bruk..


Zahra terduduk di lantai akibat tamparan Arkhan, Dewi yang menyaksikan itu hanya mengangga, ia terkejut dengan perlakuan Arkhan pada isterinya.


Zahra malah tertawa sambil memegangi dadanya " Hahahaha." terdiam sesaat, lalu mendongak menatap Arkhan dengan berang " Lagi ?, selau seperti ini." Di akhiri kekehaan, lalu kembali menunduk.


" KAU YANG MENANTANGKU, WANITA TIDAK TAHU DIRI." Bentaknya tepat depan wajah Zahra, Saat hendak kembali melayangkan tamparan, Dari arah pintu seseorang berteriak.


" NYONYA." Pekik Rama sambil berlari ke arah Zahra dan mendorong tubuh tegap Arkhan sampai bos nya itu tersungkur.


" Nyonya anda tidak apa apa ? mari saya bantu berdiri." Rama dengan ragu meraih lengan Zahra, tapi ia tepis " Saya bisa sendiri pak." Sambil berdiri sedikit tertatih.


" RAMA, APA APAAN KAU INI ? SAYA INI TUAN MU."


" Heh, Tuan ? maaf pak saya tidak bekerja pada laki laki bajingan." Menekankan setiap katanya.


Beberapa saat Zahra terdiam menyaksikan dua orang di depannya saling menatap satu sama lain dengan tatapan penuh amarah.


" Segera ceraikan saya, terimakasih untuk selama ini, saya pamit." Ujarnya seraya menyerahkan cincin nikah beserta kartu Atm milik Arkhan.


Setelahnya wanita itu benar benar pergi dari rumah megah yang selama satu tahun lebih itu menjadi tempatnya pulang.


Cukup sudah, kesabarannya sudah habis.


Rama menatap Arkhan murka lalu melirik Dewi yang terdiam di dekat sofa.


Dia tersenyum sinis " Anda akan menyesal membuang berlian demi pecahan keca."

__ADS_1


__ADS_2