
ikatan batin antara seorang anak dan ibunya tidaklah bisa di ragukan lagi, Umi ibunda Zahra tercinta, wanita paruh baya itu akhir akhir ini terus memikir putri bungsunya.
Ada apa ?
Apakah Zahra baik baik saja ?
Apakah ia makan dengan benar ?
Apakah putrinya sehat ?
Tidak hanya seputar itu, ibunda Zahra bahkan berseudzhon pada Arkhan apalagi setelah melihat ada wanita selain Zahra di rumah mereka bahkan duduk satu shofa dengan Arkhan.
" Abi, neng kenapa yaa ko udah lama gak main kesini?.".
" husnudzhon aja ummi, Neng mungkin sibuk."
" Tapi perasaan umi gak enak bi."
Di rumah sederhana tapi cukup besar itu di huni oleh orang tua Zahra, Zizah dengan putrinya sudah kembali ikut bersana suaminya.
Tak berselang lama telpon rumah mereka berbunyi, Umi dengan segap mengangkatnya ia berharap Zahra lah yang menelpon.
" Assalamualaikum."
" ..... "
" Oh iya, Neng Zeze nyaa ?."
" ..... "
" Alhamdulillah, ummi baik,Neng gimana?."
" ..... "
__ADS_1
" Iyaa kenapa Ze ?."
" ..... "
" Astaghfirullah, Ya Allah neng Zahra."
" ..... "
" Iya iya, Umi sama abi langsung kesana, makasih ya ze, Assalamualaikum."
Dengar tergopoh-gopoh Umi berjalan cepat menuju abi, Ia langsung menerjang tubuh abi memeluknya sambil menangis tersedu sedu.
" Hiks... Abii hiks... Zahra bii.."
" Astaghfirullah, Umi kenapa ? Neng Kenapa ?."
" Neng masuk Rs bii hiks ..."
tanpa babibu lagi, Mereka bedua mengendarai mobilnya menuju rumah sakit yang sudah Zeline berikan.
" Ra bangun raa, lo bikin gue takut hiks.."
Rasa takut, khawatir lebih mendominasi ketimbang rasa lapar yang ia derita saat ini, Meskipun perutnya meronta ronta minta diisi tapi tidak mungkin kan meninggal Zahra sendiri dengan keadaan tk berdaya seperti itu.
" Assalamualaikum." Zeline menoleh sambil menjawab salam " Umi, Abi." Menyalimi mereka berdua.
Umi mendekat pada Zahra yang berbaring lemah, ia sampai menurup mulutnya, Umi syok dengan keadaan Zahra yang sangat sangat memprihatikan.
" Ya Allah .. Astaghfirullah haladdzim neng hiks, Ya Allah neng kenapa neng ? Hiks.."
" Umii tenang." Abi berusaha menenangkan istrinya.
Zeline terus menunduk, ia juga bingung akan menjelaskan seperti apa pada kedua orang tua Zahra.
__ADS_1
" Zeline?."
" Iya bii.."
" Kamu tau Zahra kenapa ?." Zeline menggeleng, Abi menghela nafas " Umi sebaiknya kita tunggu Zahra sampai bangun dulu yaa." Umi mengangguk lalu duduk di samping Zahra sambil terus menciumi tangan putrinya.
" Cepat sembuh putri umi."
" Hmm umi abi, Sebenarnya Zeline tidak tau apa yang terjadi tapi tadi pagi...
Zeline menceritakan Zahra yang meminta bantuannya, juga menangis meraung-raung terus mengatakan sakit, dan tak sanggup.
" Astaghfirullah, Putri kita Abii hiks.. Hikks.."
" Lalu kemana Arkhan, Suaminya ?."
" Disini abii." Sambil membuka pintu, Ia berjalan dan menyalimi lengan mertuanya.
Zeline membelalakkan matanya, ia juga heran sejak kapan pria itu ada disini, seingatnya Ia tidak memberitahu siapapun hanya orang tua Zahra.
Beberapa bodyguard Arkhan, mereka membuntuti dan sudah mengintai Orang tua Zahra sejak lama, makanya informasi ini bisa tembus pada Arkhan.
Zeline hendak membuka suara tapi sudah lebih dulu mendapat tatapan datar dan mengintimidasi dari Arkhan, Akhirnya wanita sedikit gempal itupun hanya terdiam.
" Apa yang terjadi Arkhan?."
" Zahra tidak hati hati saat menuruni tangga umi, abi maaf ini salah Arkhan."
" Bukan nak, ini namanya musibah."
" Maaf umi, abii Arkhan tidak merawat Zahra dengan baik." Menunduk seolah merasa bersalah.
" Tidak nak, semua yang terjadi pada Zahra adalah kecelakaan."
__ADS_1
Arkhan tersenyum sambil menatap Zahra, Senyum setengah yang menunjukan kesan seram itulah yang Zeline tangkap.
kayaknya ini nih orangnya yang bikin sahabat gue sakit. Batin Zeline, ia bertekat kuat membongkar semua kebusukan Arkhan yang katanya SUAMI zahra.