
Mata yang sudah lama terpejam itu perlahan membuka, Mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk retina nya.
" Alhamdulillah, Abii Zahra sadar bii." Umi tersenyum cerah kearah Zahra yang juga memamerkan senyum tipisnya.
" Alhamdulillah, Gimana nak ada yang sakit hm ?." Tanya abbi sambil mengelus bergo Zahra, Zahra menggeleng lemah " Umii, haus." ucapnya pelan, Dengan sigap umi membantu Zahra minum
" Syukron umii."
" Abii panggilan dokter yaa.." Zahra dan umi mengangguk.
" Neng lain kali hati hati yaa ,Untung Arkhan cepet bawa kamu kesini."
Deg
Arkhan ?
Bawa ke sini ?
Zahra yang baru sadar masih ngeleg, ia bingung dengan situasi ini.
Cklek...
Pintu ruang rawat terbuka menampilkan Arkhan dengan kaos polos berwarna hitam juga jins yang senada.
" Sayang, udah sadar ? Hmm." Arkhan mendekat sambil memamerkan senyum termanisnya.
Deg
Zahra menggigil, matanya bergetar menatap Arkhan yang semakin mendekat, ia berusaha untuk beringsut dari tempatnya saat ini tapi keadaannya terlalu lemah paska pingsan terlalu lama itu.
" Masih ada yang sakit hm ?." Arkhan mengelus sayang rambut tertutup bergo polos itu.
Zahra meneteskan air mata, sambil meremas kuat tangan uminya, Umi ngerutkaan dahi ia bigung dengan sikap Zahra yang sedang ia tunjukan saat ini.
" Neng kenapa ?." Zahra menoleh cepat pada umi, genangan air mata itu makin banyak siap tumpah sambil menatap umi dengan tatapan memohon.
__ADS_1
Arkhan merengkuh tubuh Zahra, ia membalikan kepala Zahra mengadap dada bidangnya, Ia mengelus sayang kepala Zahra.
" Mas khawatir neng, Mas minta maaf yaa.."
" ... " Zahra hanya diam, ia berusaha berontak tapi pelukan Arkhan seolah membelitnya saat erat.
" Maafin mas ya, istri mas yang cantik ini sampai harus di rawat, pasti sakit yaa sayang ?." Sambil menekan jarum infus.
Zahra meringis, Arkhan menatap manik Zahra dengan intens, tatapan mengancam yang sudah sering Arkhan tunjukan pada Zahra akhir akhir ini.
Zahra menunduk sambil mendekatkan kembali wajahnya pada dada bidang Arkhan.
Umi tersenyum, Dari sudut pandangnya Arkhan terlihat sangat menyesal dan sangat mencintai Zahra, tatapan Arkhan pada Zahra seolah olah tatapan cinta yang tak mau kehilangan.
" Sayang, menurutlah." Ucap Arkhan sambil berbisik.
Arkhan melepas pelukannya lalu menatap Zahra sambil tersenyum manis, Mengelus tanganya dengan lembut.
" Neng, Makan dulu ya ?." Zahra hanya diam, hatinya benar benar tidak menentu ingin rasanya menjerit dan menceritakan semua kebusukan Arkhan pada umi dan abii nya tapi ia juga takut, Arkhan bukan sosok manusia yang bisa di anggap biasa saja, Kekuasaanya tidak perlu di ragukan lagi.
Umi tersenyum sambil menyerahkan semangkuk bubur hambar pada Arkhan.
" Kalau begitu umi tinggal dulu yaa neng, kasihan abii belum makan."
" Iya ummi." Ucap Zahra lemas, Umii mengecup kening Zahra singkat lalu berucapa salam di susul abi juga.
Ruang rawat VVIP itu sekarang sepi hanya ada Zahra juga Arkhan yang terus menatap Zahra dengan pandangan entahlah seperti merasa menyesal tapi gengsi mendominasi.
Zahra, Hendak kembali terpejam tapi suara intrupsi menghentikannya " Bangun, makanlah."
Zahra yang tidak mau ribut, berusaha untuk duduk dan tidak menolak saat Arkhan membantunya, Arkhan hendak menyuapi tapi sendoknya langsung di ambil alih olehnya " Saya bisa sendiri."
Zahra makan dengan diam, sesekali meringis akibat luka luka nya yang kadang terasa ngilu.
Cklek...
__ADS_1
Pintu terbuka, Ada Zeline dengan sekantung buah buahan segar di tangannya, ia masuk setelah mengucapkan salam, melewati Arkhan yang menatapnya garang, Zeline acuh ia lebih antusias pada Zahra yang akhirnya membuka mata.
" raa, Ya ampun, Gimana gimana udah lebih baik ?." Zahra mengangguk lalu menaruh mangkuk bubur yang masih tersisa banyak itu.
" Alhamdulillah, dih gue khawatir banget tau."
" Iya, Makasih dan maaf yaaa."
" Santai kitakan bestiee." Zahra tersenyum sambil curi curi pandang pada kantong yang Zeline bawa.
Zeline yang sadar pun tersenyum menggoda sambil menaruh kantong di atas nakaas dan mengeluarkan anggur hijau dari dalamnya, Zeline memakanya tanpa menawari Zahra.
" Ih ya ampun, ini anggur enak banget, Manis." Zahra meneguk ludahnya sendiri.
" Zee ... "
" hmm.." Dengan mulut yang masih mengunyah anggur
" Mauu.." Cicitnya sambil menunduk.
" Hah apaan gue gak denger."
" Ck, Zeze boleh minta anggurnya?." baiklah, Zahra akan menampilkan wajah memelas, ia tau tabiat sahabatnya yang sangat senang jika Zahra sudah menampilkan wajah memohon.
" Hahahahah, iya iya ini biat lo semua." Menaruh kresek di pangkuan Zahra.
Matanya langsung berbinar, Setelah membaca basmallah ia memakan anggur segar itu dengan berbinar seolah olah lukanya tak terasa lagi.
" masyaallah, manisnya."
" Aduduh makasih loohh.." Beberapa detik terdiam akhirnya mereka berdua saling pandang dan tertawa bersama.
Arkhan yang melihat senyum Zahra hatinya mendadak sakit, ada sesuatu yang entah apa namanya seolah tersentil dan menimbulkan rasa nyeuri tak jelas pada dirinya.
Melihat tawa lepas Zahra, mengingatkan ia pada momen momen tertentu, Zahra dengan segala kelembutan juga manjanya apakah ia masih sosok yang sama ?
__ADS_1
Ataukah orang yang sedang ia lihat tertawa bersama sahabatnya itu sudah mejadi orang yang berbeda.