
Massa iddah pun akhirnya selesai, Senyum cerah terpancar dari bibir manisnya setelah empat puluh hari suntuk hanya berdiam diri di rumah tanpa menginjakaan kaki di teras depan pun.
Diperlukannya iddah bagi perempuan yang bercerai dengan suaminya, baik karena cerai mati atau hidup, salah satu manfaatnya adalah untuk mengetahui kekosongan rahim seorang wanita dari kehamilan.
Pagi yang cerah dan semangat yang kuat, Zahra keluar rumah dengan gamis berwarna biru langit yang di padukan pashmina senada, ia berjalan anggun memasuki restoran yang baru beberapa karyawan saja yang masuk.
" Zahraa..." Zeline berteriak, lalu menghambur memeluk Zahra, Cukup kaget tapi tak urung ia membalas sahabat baiknya itu.
" Huhuhu Akhirnya kamu masuk juga." Zahra hanya tersenyum sambil menyodorkan coffe pada Zahra dan membaginya pada beberapa staf yang ada.
" Kelimpungan yaa ?." Zeline mengangguk cepat.
" Gak liat apa nih aku kurusan."
" Hihihi ia iya, maaf yaa."
" Gak papa deh yang pentingkan gajinya sesuai hahhhaa." Mereka berdua tertawa bersama.
Dengan mengucap bismillah hari ini Zahra memulai harinya, Ia tersenyum ramah di balik meja kasir melayani tamu.
Arfan yang sudah sebulan lebih uring uringan tetap menjadi langganan setia restoran itu pun pada akhirnya bertemu kembali dengan pujaan hatinya.
" Ekhem, Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
" Apa kabar ?."
" Alhamdulillah baik, kamu gimana ?."
" aku ? sejauh ini, hari ini yang paling baik." Sambil tersenyum manis menatap Zahra.
__ADS_1
" Mau pesen apa ? Biar nanti di buatin."
" Rekomendasi bbu boss aja."
" Ok, kalau gitu silahkan duduk yaa nanti di antar pesannanya."
Arfan dan Tobby duduk di meja depan pas meja kasir. Tadinya ada sepasang anak muda yang duduk tapi dengan mudahnya pasangan itu berpindah tempat setelah di tatap tajam Tobby.
" Boss ini gimana proyek di kota B ?."
" ... " Arfan hanya diam sambil terus tersenyum menatap Zahra.
" boss." Sedikit menggoyang lengan Arfan.
" ck, apa ganggu saja." Ucapnya ketus.
" Tentang proyek di kota B boss."
Tobby menghela nafas, salah lagi dan salah, Boss nya itu memang rada ngeselin kalau tak di ingatkan salah, di ingatkan pun juga salah.
" Tuhan, percepatlah satukan mereka, saya sudah tidak kuat." Batinnya berdoa, sambil menatap Zahra dan Arfan bergantian.
Arkhan juga asisten barunya di tambah Dewi memasuki restoran Zahra, Ia tertegun sejenak melihat Zahra yang makin cantik dengan dress panjang biru langitnya, pipi bersih mulus dan sedikit kemerahan di tambah lesung pipi yang timbul saat ia tersenyum menambah kesan manis pada pandangan pertama.
Salah satu staf menghampiri meja Arkhan dan mencatat pesanan mereka.
" aku ingin wanita di kasir itu yang menghantarkan makanannya."
" Hmm mohon màaf pak tapii... " Belum selesai staf itu melanjutkan kata katanya sudah lebih dulu di tepuk pundaknya oleh asisten pribadi Arkhan " tidak usah membantah." Ucapnya penuh penekanan, Staf wanita itu hanya bisa mengangguk takut.
" Mas kenapa kita makan di sini si ? Aku kan mau shusi." Dewi merajuk dengan kata kata manjanya yang mendayu.
__ADS_1
" Diam." balas Arkhan dingin.
Setelah beberapa menit makanan pun siap di hidangkan, staf wanita itu pun sudah memberitahu perihal keinginan yang tadi, Zahra menyanggupinya, ia di bantu staf wanita tadi membawa nampan.
" Permisi ini pesananya tuan." Sambil menata makanan itu di atas meja. Arkhan mendongak dan tatapan mereka pun bertemu.
Zahra kaget tapi tetap berusaha profesional, ia tetap tersenyum " Silahkan panggil kami jika butuh sesuatu."
" Yaa, aku butuh kau duduk di sana." Sambil menunjuk kursi depanya, Asisten pribadi yang tadinya duduk menjadi berdiri mengelap kursi dengan tissu basah dan kering, mempersilahkan Zahra untuk duduk.
Tapi Zahra hanya terdiam sambil melirik meja kasir yang kosong.
" Duduk, atau ku beri penilaian buruk." Zahra pun menurut, ia cukup tahu koneksi mantan suaminya memang luas.
Arkhan tersenyum smirk, ia beralih menatap Dewi, membelai rambutnya sayang lalu mengecup ujung rambut istri sirihnya.
" Mau mas suapi sayang ?." Dewi yang tadinya hanya diam meringis sambil menatap Arkhan.
Arkhan menginjak kaki Dewi agar sang mpunya peka, dengan adegan romantis yang akan mereka lakoni, Dengan di tatap tajam, Dewi mengangguk dan melahap lauk nasi yang di sodorkan Arkhan.
Arkhan mengecup pipi, hidung kadang juga bibir Dewi, hal itu ia tunjukan untuk Zahra.
Tapi sayang Zahra hanya duduk dan tak goyah, ia malah melirik ke luar restoran memperhstikan mobil dan motor yang beralu lalang.
" Braakk..." Arkhan menggebrak meja sambil menatap Zahra marah " Harusnya kau memperhatikanku." Zahra hanya terdiam ia kaget di sela lamunanya tadi.
" Ck, Awas kau." Menuding hidung Zahra dengan jarinya, Zahra hanya mampu memasang wajah kaget bercampur heran dengan mantan suaminya.
Arkhan berjalan cepat meninggalkan Dewi yang terus memanggil namanya.
Di meja lain Arfan tertawa tertahan, ia mentertawakan sikap konyol mantan suami Zahra.
__ADS_1
" Hahaha hiburan makan siang yang seru sekali."