
" Pelayanan, ini gimana sih kenapa baju saya belum di setrika yang ini ?." Ucapnya dengan nada tinggi.
" Maaf mba saya belum sempat." Ucap salah satu maid yang bertugas tebtang pakaian.
" Apa mba ? kamu panggil aku mba ? you crazy ?."
Pelayanan itu hanya bisa menunduk.
" Panggil saya nyonya, NYONYA DEWI." Tekannya lagi, ya dia berusaha memperjelas bahwa derajatnya.
" udahlah pokoknya saya gak mau tahu, setrika baju saya cepet." Bentaknya lagi.
" Baik nyonya." Meid itu langsung terburu buru pergi untuk menyelesaikan tugasnya.
"Oh begini ya enaknya jadi nyonya, bisa memerintah seenaknya." Fikirnya, Sambil tersenyum licik.
Di halaman belakang dekat dengan kolam renang, Zahra sedang asyik mengurui beberapa tanamnya, Ya wanita cantik itu senang bercocok tanam bahkan bukan cuman bunga yang ia tanam, seperti sayur mayur pun ia tanam seperti saat ini, Ia sedang menggeluti beberapa pohon cabai dan tomat yang sudah mulai berbuah, Katanya biar kalau ingin sambal tinggal petik bahanya di belakang padahal stok bahan makanan dalam lemari es nya tidak pernah kosong.
" Neng ?." Panggil Arkhan.
" Hem, kenapa mas ?." Tersenyum manis.
" Lagi apa ?.," berusaha tidak canggung, ya dia ingin memperbaiki hubungan keduanya.
" Lagi berkebun." Jawaban fakta dan singkat tanpa vasa basi " Kenapa, mas perlu sesuatu ?."
" Ah gak, Mas cuman pengen tau aja neng Zahra lagi apa sore sore gini." Tersenyum sambil membelai kepala Zahra yang tertutup hijab.
__ADS_1
" Hmm, mau berenang bareng ?." ajak Arkhan.
" Hah ? Berenang? sore sore sini mas ?."
" Iya, kenapa ?."
" Mas tapikan jam segini masih banyak pekerja yang lalu lalang, nanti gimna kalau merak lihat aku yang ya mas tahu lah." Ucapnya cemas.
" Hmmm, urusan gampang itu si, biar mas yang atur ya, kamu tunggu di sini ok."
Dengan pasrah Zahra hanya mengangguk.
Dalam hati ia bertanya-tanya ada apakah gerangan? kenapa tiba tiba mas Arkhan manis padanya? Entah kenapa debaran dulu saat suami tercinta bersikap manis sudah tidak terasa, Entah kemana debaran jantung itu saat bersama mas Arkhan.
Tapi sekuat hati, membiarkan nya tetap di sisi, lagi dan lagi Zahra memaafkan kesalahan Arkhan, Meski sudah berulang kali melakukan kesalahan yang sama, Tapi Zahra tetap yakin suaminya itu mau berubah, bisa !
" Nah udah sepikan ?." Zahra mengedarkan pandangannya dan ya rumah megah itu sudah tampak sepi "Jadi, ayo kita berenang." Zahra hanya mengangguk.
Zahra mengikuti langkah Arkhan hingga bibir kolam, dengan perlahan Arkhan membuka hijab Zahra lalu membuangnya asal dan tak lupa juga tangan kekarnya sudah membelai lembut punggung indah Zahra sambil menurunkan Zipper nya.
Perlahan namun pasti sekarang Zahra hanya terbalut pakaian dalam saja, dengan rambut yang tergerai indah tertiup angin sore, di tambah cahaya remang orange saat natahy mulai lelah menyinari siangnya.
Sungguh di pandang berapa lamapun tibuh isterinya itu menanglah sangat indah dengan kukitt yang putih mulus terawat sempurna, bibir pink alami dan tak lupa wangi tubuhnya yang sangat khas padahal wanita itu jarang menggunakan wewangian, Arkhan terus menatap Zahra tanpa henti hingga membuat Zahra malu.
" Mas."
" Ah iya, kenapa neng ?."
__ADS_1
" Kok di liatin terus, malu tahu." Ucapnya manja.
" Hehehe, kenapa harus malu, neng Zahra istrinya mas itu cantik badanya bagus."
" Ih, apa sih." Semuran merah terlihat nyata di kedua pipinya " Ayo ih nyebur, malu mas." Rengeknya.
" Iya iya." Sambil melepas kaosnya, Setelahnya dengan perlahan menuruni tangga kolam renang itu mereka melanjutkan aktifitas berenangnya ya, Zahra memang bisa berenang dan sesekali mereka tertawa, Sejenak Zahra melupakan fakta besar yang ia hadapi.
" Neng, Isterinya mas cantik banget sih." Pujinya sambil memeluk mesra Zahra di dalam kolam renang.
" Hehehe, mas baru sadar."
" Gak juga sih, udah lama mas nyadarnya." Sambil terkekeh dan mengekus punggung mulus Zahra.
" Maafin semua kesalahan mas ya neng, maaf sudah buat neng luka, pasti sakit ya ?." di elusnya surai panjang itu sambil menatapnya intens, Zahra yang mendengar penuturan suaminya itu agak tersentak setelahnya ia menelisik sorot mata Arkhan ya yang memancarkan penyesalan, itu yang sejauh ini Zahra tangkap.
" Gak apa apa mas, Neng ngerti, Tapi neng juga minta maaf ya mas kalau belum bisa jadi istri terbaik buat mas." Arkhan hanya mengangguk lalu menarik tengkuk Zahra dan mulai menciumnya lembut.
Cup
Cukup lama mereka saling bergulat lidah hingga Zagra memukul dada suaminya tanda ia sudah kekurangan oksigen.
" Huh...hah... ." Zahra menarik nafas sebanyak mungkin, Arkhan hanya terkekeh gemas melihat istrinya yang sudah memerah.
Tidak ada kelanjutannya intim setelahnya, Mereka berdua hanya saling tertawa sambil bermain air, Begitu pun dengan Arkhan ia seolah lupa dengan kehadiran Dewi, dunianya kembali terfokus akan sosok cantik di hadapannya sekarang, Seseorang yang pernah menjadi dunia indahnya sesaat sebelum ia sendiri yang meruntuhkan nya.
Di balik tembok pembatas ada Dewi yang mengintip interaksi keduanya, Dia tidak masalah atau merasa cemburu pada Zahra, yang ia takuti semua fasilitas yang ia miliki sekarang bisa saja sewaktu waktu Zahra renggut karna kembali menjadi istri satu satunya. "Impossible, dan tidak akan pernah terjadi." Dewi bermonolog geram.
__ADS_1