
Suhu tubuh dan ringisan pelan dari tubuh wanita yang berbaring lemas di brangkas rumah sakit itu terus saja terdengar, beberapa kali asisten rumah tangganya itu mendapati sang majikan menitikkan air mata sambil terus terpejam.
Gumaman kecil terus terusan ia lontarkan, beberapa kali dokter datang karna panggilan bi jina yang terlalu panik oleh kondisi majikannya itu, Tapi rintihan yang terdengar jelas begitu pedih itu hanya sesekali terdiam karena obat penenang, saat efeknya hilang semuanya terjadi kembali.
" Nyonya, sadar nya, maafkan bibi, bibi tidak bisa menolong nyonya hiks...hiks.." Bi Jina, wanita empat puluh tahunan lebih itu memang sudah menganggap Zahra bagai putrinya sendiri, beliau tidak memiliki seorang anak bahkan suaminya pun meninggalkannya karena dokter memvonis bi Jina mandul waktu itu, Sebab itulah ia pergi mencari peruntungan di kota dan ya keluarga pasutri muda itu Zahra dan Arkhan yang menerimanya.
Sayup sayup kedua mata cantik itu pun perlahan terbuka di smbarengi dengan ringisan ngilu dari bibirnya.
" Sshhhtt..." Berusaha menggapai kepalnya dengan lengan yang tertancap infus.
Bi Jina yang baru keluar dari kamar mandi, tampak kaget dan lega secara bersamaan karena Zahra sudah sadar setelah semalaman ia tidak sadarkan diri.
" Nyonya, bagaimana apa masih banyak yang terasa sakit ?."
Zahra hanya tersenyum sambil menggeleng.
" Bibi panggilkan dokter ya nya."
" Tidak perlu bi, terimakasih." Tersenyum tipis karena masih kaku untuk tersenyum.
Setelah menyuapi Zahra, Bi Jina pamit untuk pulang karena beberapa pekerjaan belum selesai, ia juga tidak mau majikan laki laki nya marah akibat ia lalai akan tugasnya.
" Nya, bibi minta maaf tapi bibi harus pulang, pekerjaan bibi masih banyak."
" Iya bi, gak apa apa bibi pulang aja, makasih ya bi." Tersenyum.
Setelah bi Jina pulang, Suasana ruang inap itu sangat hening terdengar hanya helaan nafas Zahra yang terus menatap jendela sambil berusaha tidak menangis.
__ADS_1
Kilas bailk malam kemarin terngiang jelas dalam ingatanya, Semua perkataan suami nya jelas teringat dalam benaknya.
" Astaghfirullah,, Ya Allah aku harus gimana ? Mas Arkhan akan bawa istri sirihnya ke rumah, ya Allah aku harus gimana ? apa aku sanggup ?." batinya berperang.
🍍🍍🍍🍍
" Abi, Umi mau ke rumah neng Zahra ya ?."
" Tapi abi gak bisa antar, toko gak ada yang tunggu."
" Gak apa bi, Umi sendiri aja."
" Ya udah hati hati ya umi."
" Iya, abi juga."
Baru saja ibu dari Zahra itu ingin mengucap salam, Dari dalam rumah berpintu besar itu terdengar suara wanita dan pria yang sedang bergurau tertawa begitu renyah tapi ia yakin, suara itu jelas bukan milik putri bungsunya.
" Assalamualaikum." Ucap Umi.
Dua insan yang sedang bersenda gurau di ruang tamu tepatnya di sofa panjang dengan tangan saling mengekus satu sama lain itu terperanjat lalu dengan refleks membenahi pakaiannya.
" Wa waalikumsalam." Ucap Arkhan sedikit gugup.
" Umi, Masuk mi." Setelah menghampiri Uminya Zahra.
Mereka bertiga sudah duduk di ruang tamu,Umi memandang Arkhan dan Dewi dengan tatapan curiga tapi secepatnya fikiran negatif itu ia tepis ia yakin pilihan putrinya itu tepat.
__ADS_1
" Apa kabar nak Arkhan ?." Tersenyum lembut.
" Ba baik umi, Umi apa kabar ?." Berusaha menetralkan degup jantungnya.
" Alhamdulillah umi baik,Oh iya neng Zahra mana ?."
Deg
bingung, Arkhan terdiam sesaat sambil menyiapkan kata bohongnya pada umi.
" Nak Arkhan ?."
" Ah iya umi, Kenapa ?."
" Neng Zahra kemana ?."
" Hmm, Zahra di restoran iya umi di restoran." Jawabnya asal sambil tersenyum.
Umi mengerutkan dahinya, ia bisa membaca gestur tubuh Arkhan yang mencurigakan tapi ia hanya diam.
" Oh, ya udah nanti umi ke resto aja, Oh iya dia siapa ?."
" di dia ? hmm..." Arkhan bingung mau jawab apa, ia pun melirik Dewi meminta pertolongan.
" Oh hay bu nama saya Dewi, saya sekretarisnya pak Arkhan." Tersenyum sambil menjulurkan lenganya.
Umi tersenyum, tidak ada obrolan yang berarti setelah di rasa cukup lama untuk kesopanan Umi pun berpamitan pada Arkhan.
__ADS_1
Umi akan mengunjungi Zahra di restorannya.