
Mungkin beberapa hari ini adalah kebahagiaan bagi Zahra dan suaminya, Pasutri itu sedang duduk di ruang tv dengan kepala Zahra yang bersandar di dada bidang suaminya.
Mereka tertawa bersama saat layar tv itu menampilkan adegan yang cukup mengocok perut.
" Hahhaahah." Tawa mereka bersama.
" Sayangnya mas Arkhan." Panggil Arkhan pada Zahra sambil mengelus pipinya.
" iya mas." Jawab Zahra sambil bersemu.
" kamar yuk, mas kangeun banget." Cup tak lupa memberi kecupan singkat di bibir manis istrinya, Zahra hanya mengangguk sambil tertunduk entahlah ia mendadak malu mendengar penuturan suaminya padahal dulu mereka sering melakukannya.
Di dalam kamar yang sekarang Zahra tempati, Arkhan terus memberi kecupan memabukkan untuk Zahra " Sayang, mas buka ya." Lagi lagi Zahra menganggubk, Kancing piama panjang Zahra sudah terbuka sempurna tapi kegiatan mereka tertahan.
tok...tok..tok...
" Mas, kamu di dalam ?."
" .... "
" Mas Arkhan." Panggilnya lagi.
Arkhan dan Zahra saling pandang beberapa saat Setelahnya Arkhan bangkit dari atas tubuh Zahra.
cklek..
" Ada apa ?."
" Ih mas ko malah di sini si ? takut tau ada petir." Ujarnya manja sambil memeluk tubuh tegap Arkhan, Dengan sedikit drama terisak-isak.
" Cup cup cup, iya maaf ya, ya udah ayoo ke kamar, mas temani." Tanpa menoleh lagi ke belakang sekedar menatap Zahra pun tidak, ia berlalu setelah menutup pintu.
Di atas ranjang, lagi dan lagi air mata wanita cantik itu menetes, rasanya begitu menyesakkan.
" Bila memang mas Arkhan bukan jodohku, biarkan aku bahagia." Ucapnya sambil mengusap air mata yang terus-menerus keluar sekuat apapun Zahra menahannya.
🍍🍍🍍🍍🍍
Pagi ini, Wanita cantik yang biasa di panggil Zahra itu keluar dari kamar dengan menggunakan gamis cream dengan hijab senada meski bercorak, Gamis yang dikenakan Zahra sangat kontras pas sekali terlihat di kulit mulus putihnya.
" Assalamualaikum, selamat pagi." Ucapnya pada para pelayan yang sedang menata sarapan ataupun yang hanya sekedar lewat untuk bebenah tempat lainnya.
" waalikumsalam, pagi juga nyonya."
" Sarapan apa pagi ini ?."
" Ini nyonya, Cream sup sama roti panggang."
" Hemm, wanginya harum banget ya bi."
pelayanan itu hanya tersenyum.
Lihatlah wajah cantik itu, lagi dan lagi ia berhasil terlihat baik baik saja di depan orang lain.
Entahlah terbuat dari apa hati wanita itu.
" Pagi neng Zahra." sapa Arkhan yang masih merangkul pinggang Dewi.
" Pagi." Singkat tanpa menoleh dari layar ponsel sedikit pun.
__ADS_1
" Tumben neng, gak pake warna hitam lagi ?." Setelah duduk di depan meja makan.
" Enggak."
" Gitu dong, cantik tahu kelihatannya."
" makasih."
Bukan Zahra yang menyiapkan sarapan di piring Arkhan, tapi para pelayan, mereka bertiga hanya tinggal memakannya saja.
" Mas, aku gak mau sarapan ini." Ujar wanita itu sambil mengerucutkan bibirnya.
" Emangnya mau sarapan apa sayang ?."
" Yang lain, aku gak suka cream sup."
Arkhan melirik pada koki masaknya, Koki masak nya itu peka dan berlalu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan yang lain.
" Aku udah selesai." Bangkit dari duduknya " Makasih untuk sarapan pagi ini." Ucapnya tulus pada para pelayan.
Setelah menyalami punggung tangan Arkhan, Ia pun keluar rumah dengan mobil pribadinya, Selama setahun ini ia berhasil menyisihkan uang untuk membeli mobil yang ia inginkan.
Hari berganti minggu,minggu berganti bulan selama itu Zahra hanya di jadikan pemuas Arkhan saat wanita yang di panggil Dewi itu sedang datang bulan, selama itu pula Zahra menerimanya.
Bulan ini, Zahra berhasil membuka dua cabang restorannya sekali gus, ia bersyukur atas pencapaiannya, dengan penambahan cabang otomatis omset yang ia dapatpun meningkatkan.
Wanita itu tak henti henti bersyukur tak lupa ia juga selalu berbagi pada sesama yang lebih membutuhkan.
Seperti saat ini ia membawa sebuah truk kontainer besar yang berisi beberapa kotak makanan juga bahan sembako lainya, ia menuju sebuah panti asuhan yang sudah sering ia kunjungi.
" Assalamualaikum."
Anak anak itu berlari, berebut memeluk Zahra, Zahra terkekeh ia gemas dengan semua anak anak ini.
" Aduh, Udah udah kasihan nanti mommy Zahra gak bisa nafas loh." Ujar ibu panti yang sering di sebut ibu melati.
" Hehehe, gak papa bu, Zahra seneng mereka nyambut aku heboh banget begitu."
Ibu melati hanya tersenyum sambil menerima uluran tangan dari Zahra.
" Oh iya bu, aku bawa sedikit bahan pokok buat anak anak." Sambil beralih menatap truk kontainer yang sudah menurunkan barang barangnya.
" masyaallah, tabarokallah terimakasih banyak mbak Zahra, ini semua sangat membantu."
" Sama sama ibu."
" Oh iya , anak anak mommy, mommy juga bawain box bento loh buat kalian, Tuh di sana." Tunjuk Zahra pada seseorang yang sedang menata kotak makanan di atas meja.
" Asyik makan enak, Makasih mommy."
" sama sama, makan yang banyak ya kalian, jangan rebutan ok."
" Ok mommy." Jawab mereka serentak.
Zahra dan bu Melati pun berbincang bincang di sofa ruang tamu, sedangkan para anak anak makan bento mereka di taman depan rumah.
" Hallo semuanya."
" Papih afan." Teriak salah satu balita, ia langsung memeluk Arfan dengan erat.
__ADS_1
" Papih bawa apa ?."
" Bawa apa ya ?? Taraaa..." memamerkan beberapa mainan dalam paper bag yang ia bawa, Sontak mereka semua berlari mengerubungi Arfan, sambil terus berucap terimakasih.
" Papih, buat Lala mana ?." ujar balita itu, Ia paling kecil di antara yang lain, Lala juga sangat manja pada Arfan.
" Nih spesial buat Lala dari papih." Sambil menyerahkan kotak rumah mainan Barbie juga tak lupa dengan Barbie cantik di dalamnya.
" Wah, bagus banget, makasih papih, Lala sayang papaih." Sambil mengecup kedua pipi Arfan.
" Di dalam ada siapa ?."
" Ada mommy." Lala jawab dengan asyik membuka mainan barunya.
" Mommy ?." Alisnya menyatu, ia bingung dan penasatan siapa itu mommy yang mereka maksud.
" Papih, tunggu ya, Lala panggilan mommy dulu." Setelahnya balita itu pun berlari masuk.
Ia terlihat menggenggam tangan wanita berhijab dengan sedikit berlari kearah Arfan.
" Aduh pelan pelan cantik, nanti jatoh loh."
" Tenang mommy, Lala kan kuat." setelah berucap seperti itu balita itu pun kembali berlali hingga..
Brukk..
Ia terjatuh tengkurap, Lututnya berdarah mengenai batu yang ia sandung.
" Lala." Ujar Zahra dan Arfan bersama, Arfan berlari ke arah Lala yang Sudah berada di pangkuan seorang wanita berhijab.
" Aduh cantiknya Papih, sakit ya ?." Mengelus rambut Lala, Lala tidak mejawab ia terus terisak dalam pelukan Zahra.
Merasa familiar dengan suara itu, Zahra pun mendongak
" Zahra ?."
" Arfan ?." Ucap mereka berbarengan, mereka berdua saling pandang beberapa saat.
Tapi tangisan Lala membuyarkan semuanya.
" Cup tenang kita obatin ya, Sini papih gendong."
Lala menggeleng ia malah mempererat pelukannya pada Zahra " Hiks.. hiks.. mommy sakit."
" Iya iya sabar ya sayang, ayo mommy obatin." Zahra berusaha bangkit, dengan sangat kesusahan balita itu bertubuh gempal dan ya cukup berat, Arfan yang melihat itu pun tak tega.
" Lala cantik, sapa papih ya kasihan hmmm mommy." Ujarnya sedikit tidak enak, padahal hatinya berdebar saat memanggil Zahra dengan sebutan mommy." Keberatan." Sambungnya.
Lala menatap Zahra, Zahra hanya tersenyum sambil mengangguk, ia pun merentangkan tangannya ke arah Arfan.
" Hiks.. hiks.. mommy maaf."
" Gak apa apa cantik."
" Kita obatin dulu ya luka nya." Lala hanya mengangguk.
Arfan yang memangku Lala di teras panti dengan Zahra di sampingnya yang sedang mengobati luka Lala.
Arfan terus tersenyum sambil menatap Zahra yang sangat keibuan, ia jadi membayangkan bisa berumah tangga dengan Zahra suatu hari nanti pasti hidupnya akan sangat bahagia.
__ADS_1