Suamiku Perhitungan

Suamiku Perhitungan
Eps 24


__ADS_3

Dengan perasaan tak menentu, Arkhan mekbanting apapun yang berada di dekatnya setelah kepergian Rama.


" AARRRRHHH..."


*pyar...


buk...


duk..*


pyar..


Guci, vas bunga, frame foto apaun itu hancur tak tersisa oleh kemurkaan Arkhan, Dewi yang melihat bagaimana mengerikannya Arkhan, gemetar ia takut tapi sebisa mungkin ia mendekati Arkhan lalu mendekap tubuh kokohnya dari arah belakang.


Grep..


" Mas, Udah mas." Arkhan terdiam sesaat, sambil mengatur nafasnya, Ia pun berbalik dan menatap Dewi tejam, dengan muka yang memerah, Arkhan menarik lengan Dewi keras, Dengan langkah lebar ia menaiki tangga, tak perduli dengan Dewi yang terus terusan berontak karena merasa terseret oleh pangkah panjang Arkhan.


Sesampainya di kamar, Arkhan membanting Dewi di atas kasur, merobek pakaiannya hingga Dewi tidak mengenakan apapun.


Dengan emosi yang masih memuncak, Arkhan membuka celana bahanya dan langsung memasukan intinya pada Inti Dewi dengan begitu keras.


" Aah,, ssakit mas."


" DIAM."


" Mas sakit.. pelan pelan hiks..." Dewi mulai terisak, tidak ada kenikmatan hanya ada rasa perih bahkan ia merasakan intinya lecet.


" AARRRRHHH.. BANGSATT." umpat Arkhan sampai pelepasannya, Lagi dan lagi Arkhan tanpa hati menyetubuhi Dewi, Fikiranya kacau hatinya berdeyut nyeri saat kata CERAI terlontar mulus dari Zahra.


Dewi sudah pingsan, dan bagian intinya sudah berdarah tak lupa kedua kembarnya juga lecet, Arkhan benar benar buat menyetubuhi istri sirihnya itu.


🍍🍍🍍🍍🍍


Wanita cantik berhijab itu sedang menangis tersedu sedu sambil mengendari mobilnya membelah jalanan lengang malam hari.


Dia melupakan sudut bibirnya yang sobek, Hatinya lebih sakit saat ini.


Hiks.. hiks... " Ya Allah kenapa sesakit ini ?." monolognya.


Malam ini ia akan menginap di hotel sambil berserah diri pada sang pencipta, ia tidak mungkin pulang ke rumah orangtuanya dengan keadaan mengenaskan? ia tidak mau membuat umi dan abinya khawatir.


*drett...*


drett...


" Hallo, Assalamu'alaikum ?."


" waalikumsalam, Neng Zahra ?."


" Iya teh ?." Jawab Zahra sedikit parau, ia berusaha mungkin baik baik saja.


" Loh, neng kenapa ?."


" Ah , neng gak papa kok teh."

__ADS_1


" Neng jangan pendem masalah sendirinya, cerita sama tteh, teteh itu kakak kamu, kita saudara."


" Iya teteh."


" oh iya teteh sampe lupa kan, mau nanyain paket udah sampe belum ?."


" Paket apa teh ?."


" Teteh beli gamis sama koko buat Abi,Umi, dan neng."


" Ya ampun teteh, gak usah ngerepotin."


" Inilah Azza yang ngerengek katanya biar kita sarimbitan gitu bajunya."


Zahra terkekeh kecil, ia jadi mengingat wajah gembul Azza saat sedang merajuk " Iya, bilangin Azza ya teh, Makasih."


" Ya udah teteh tutup ya."


Singkat, tapi cukup untuk menyadarkan Zahra bahwa ia masih memiliki keluarga yang menjadi kekuatannya.


Zahra, wanita itu masih enggan memberitahukan masalahnya.


malam itu ia habiskan dengan berkeluh kesah pada sang pencipta, meminta pengampunan dan berserah diri.


🍄🍄🍄🍄🍄


" Assalamualaikum, selamat pagi." Seorang paruh baya dengan gamis syari juga aksesoris yang melekat di tubuhnya memasuki rumah megah tersebut sambil menenteng beberapa paper bag.


" Waalikumsalam." Balas bi Jina sambil menghampiri wanita bergamis syari itu " Wah, ibu marih masuk bu."


" Bibi apa kabarnya ?."


" Alhmdulillah, baik bu." Tersenyum " Sebentar ya bu, saya buatkan minum." Khodijah hanya mengangguk.


" Silahkan bu."


" terimakasih ya bi." menyeruput teh di atas meja lalu menggenggam nya sambil menatap bi Jina " Zahra sama Arkhan ada kan bi ?."


" Hmmm tuan Arkhan ada bu." Di sertai rasa gugup, ia takut salah bicara pada ibu majikannya.


" Zahra nya ?."


" Hemmm.. i ituuu bu,, a anu.." Belum sempat Bi Jina melanjutkan ucapannya dari arah tangga terdengar suara obrolan serta kekehaan.


Khadijah pun langsung berdiri, ia sudah sangat rindu dengan menantu Sholehah nya itu, paruh baya itu tersenyum cerah sambil menunggu pasangan itu menghampirinya.


" Ih ya gimana gak sakit, mas kasar banget tahu." Rajuknya sambil melipat kedua tangan di dadanya.


" Hahahha ia maaf ya sayangkuh." Mengelus rambut panjang itu sambil tersenyum.


" ARKHAN." Panggil Khodijah sambil berterik.


deg..


Arkhan dan Dewi menoleh bersama, Arkhan mematung ia kaget dengan kedatangan ibunya yang tiba tiba itu, dan tatapan Khodijah yang penuh dengan emosi.

__ADS_1


" Ma- ma- mamah ?." Arkhan menghampiri ibunya hendak merah punggung tangan itu, tapi di tepis kasar oleh sang ibu.


" Siapa ?."


Arkhan berbalik, menoleh pada Dewi menelisik dari atas sampai bawah, pakaiannya sangat buruk untuk bertemu dengan sang mamah.


" Hmmm... di dia.." Arkhan ragu, lalu menatap ibunya.


" SIAPA ?." bentaknya.


" Istri sirih Arkhan mah." Ucapnya pelan sambil menunduk.


Plak ....


Satu tamparan mendarat di pipi Arkhan menyapa pagi ini.


" Zahra setuju ?." Arkhan jujur, ia menggeleng.


" Astagfirullah hal adzim, Nyebut nak, istighfar." Kedua bola mata itu berlinang air mata, Khodijah mengusap bahu Arkhan sedikit mengguncangnya agar ia sadar.


" Sekarang mana Zahra ?."


" Dia udah pergi mah."


Kedua bola mata Khodijah membulat, ia menutup mulutnya yang menganga sambil terus beristighfar dalam hati.


" Jadi kamu lebih memilih dia ?." Menujuk pada Dewi dengan pandangan sinis.


Dewi yang di tatap seperti itu hanya bisa menunduk, jujur ia takut di usir bahkan di hempas dari rumah ini, Bukan apa apa ia hanya tidak mau kehilangan ATM berjalanya itu.


" Mah, Tapi Arkhan puas sama Dewi, Arkhan suka sama Dewi." Ucapnya.


Khodijah menatap Arkhan berang, kedua kebganya terkepal "KURANG APA ISTRIMU HAH ? LUPA KAMU ? DULU KAMH YANG NGEMIS NGEMIS RESTU KE MAMH BUAT NIKAHIN ZAHRA ? SEKARANG MANA TANGGUNG JAWAB KAMU HAH ?."


" Tapi, Zahra mandul mah, aku butuh keturunan."


" Apa ? mandul ? Sudah di pastikan ?."


Arkhan menggeleng " Satu tahun lebih kita menikah, Zahra tetap tidak hamil juga mah."


" Kamu bodoh Arkhan."


Arkhan hanya menunduk, ia tidak bisa melawan ibunya sendiri.


" Nak dengar, mamah dan papah kamu dulu, nunggu kamu ada di rahim mamah itu hampir lima tahun lamanya, kami tidak menyerah, terus berusaha dan lihat diri kamu, kamu tumbuh dewasa, kamu ada." Jelas Khodijah panjang tanpa lebar.


Arkhan terdiam, belum ada penyesalan dalam hatinya.


Khodijah menatap sendu pada Dewi setelah sekian lama menatapnya berang penuh emosi.


" Nak, kalian sama sama wanita, tahu sakit nya seperti apa."


Dewi menunduk tidak berani menatap ibu dari suami sirihnya.


" Arkhan mamah gagal didik kamu, mamah pamit, assalamu'alaikum." Beranjak pergi begitu saja dengan sesekali menghapus derai air matanya.

__ADS_1


" Mas, aku gagal didik Arkhan, dia nyakitin istrinya mas." Batinya mengadu pada suami tercinta yang sudah kebih dulu berpulang ke pangkuan-Nya.


__ADS_2