
Setelah makan bersama, Arkhan pamit untuk pergi mengurus beberapa perusahaannya bersama dengan Rama.
" Sayang, mas harus pergi keluar kota, Kamu gak papa kan sendirian ?."
" Gak papa kok mas, Mas lama gak di sana ?."
" Hanya dua hari terhitung dari keberangkatan."
" Lusa, Mas pulang dong ?."
" Mas usahakan ya."
" Tapi mas, Kemaren teh Zizah ke restoran, Katanya si ndut juga ada di rumah abi umi."
" Tapi mas gak bisa ke sana, Mas harus keluar kota."
" Kalau aku aja yang ke sana boleh gak mas ?."
" Hmmm boleh, tapi di antar pak Warno !."
" Ok mas," Zahra terseyum cerah.
" Ya udah mas berangkat dulu ya, Rama sudah menunggu di depan."
Zahra mengantar Arkhan sampai teras rumah sambil membawakan koper kecil dan tas milik Arkhan,
Arkhan memasuki mobil dan melambaikan tangan pada Zahra sambil tersenyum.
" Hati hati di jalan ya mas, Kabarin aku kalau sudah sampai."
Arkhan tersenyum sambil membuat huruf OK dengan jari tangannya.
Zahra kembali ke dalam kamarnya untuk bersiap menuju rumah orang tuanya.
drett...drett.. drett...
^^^*From my hubby❤️^^^
^^^Sayang jangan keluar dulu, mas baru ingat, jam tiga sore ini akan ada yang mengantarkan mobil baru mas*.^^^
^^^*To My hubby❤️^^^
^^^Ok mas, nanti aku kabarin kalau mobilnya sudah sampai*.^^^
"Hem, padahal udah kangen banget, pengen ketemu abi umi sama si ndut" Ucap Zahra sambil tersenyum.
Zahra memilih untuk turun dan menonton tv sambil menunggu mobil pesanan suaminya datang.
Lantunan Sholawat merdu nyaring terdengar di telinganya, Pertanda ada telpon masuk dari ponselnya Zahra melihat layar ponselnya " Umi." Tertera si layar ponsel Zahra.
^^^" Assalamu'alaikum Umi."^^^
^^^" Waalaikumsalam Nak, Zahra kata teteh mau main ke rumah, Umi tunggu loh dari tadi."^^^
^^^" Astagfirullah maaf umi, Zahra lupa ngasih kabar, Kalau hari ini Zahra gak bisa main, Soalnya lagi nunggu mobil baru dateng umi."^^^
^^^" Wah, Anak umi makin sukses ya, Alhamdulillah."^^^
^^^" Alhmdulillah umi."^^^
^^^" Ya udah umi tutup dulu ya, Besok usahakan main ya , Umi kangeun loh sama kalian."^^^
^^^" Iya umi, Besok insyaallah Zahra main."^^^
^^^" Ya udah ya, Assalamualaikum."^^^
" Waalaikumsalam."
Astagfirullah, Aku sampe lupa ngabarin umi, Pasti umi nungguin banget aku dan mas Arkhan dateng.
Maaf umi🙏
Adzhan Ashar pun berkumandang, Zahra menyudahi menonton tv dan hendak melaksanakan kewajibannya.
Tapi dari luar suara klakson mobil nyaring terdengar.
Salah satu penjaga pintu rumah pun masuk " Permisi nyonya." Dia seorang laki laki bertubuh besar dan tegap, Dia di sewa Arkhan untuk berjaga di depan rumahnya mengingat dia adalah boss besar jadi Arkhan memiliki ketakutannya sendiri.
" Iya Pak, Ada apa ?."
" Ini Ada Berkas yang harus di tandatangani nyonya." Sambil menunduk dan menyerahkan berkas tersebut.
Zahra membacanya dengan seksama, Ini adalah berkas pembelian mobil atas nama suaminya.
" Pak, Apa mobilnya sudah sampai ?."
" Sudah nyonya, Sedang di turunkan."
" Baiklah, terimakasih pak, Silahkan kembali, Biar saya saja yang mengantarkan kembali."
" Baik nyonya."
__ADS_1
Penjaga itu pun pergi kembali ke depan pintu rumah Arkhan dan langsung memasang wajah sangar dan menakutkan.
Zahra keluar sambil membawa ponsel juga berkasnya.
Subhanallah, Mobil yang di beli mas Akhan bagus banget, sungguh mewwah. Batin Zahra.
Meskipun Zahra berpendidikan dan berbekal ilmu agama yang cukup kental dari keluarganya tetap saja dia seorang wanita yang pada dasarnya menyukai kemewahan, Hanya saja akal sehat dan hatinya masih berfungsi dengan baik, dia tetap bisa menempatkan segala sesuatunya dengan baik. Dia tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan yang orang tuanya ajarkan.
Zahra memfoto mobil baru tersebut dan mengirimkannya pada Arkhan. Arkhan yang sibuk dengan laptopnya di sepanjang jalan menuju Kota C tidak mendengar ada notif masuk dari ponselnya.
Zahra sudah menandatangani berkas berkas tersebut dan menyimpan salinannya untuk bukti pada Arkhan.
" Ini Pak berkasnya."
" Terimakasih bu,"
Mobil mewah itu terparkir rapih dan elegan di garasi rumahnya, Dengan warna hitam pekat yang menambah kesan karismatik siapapun yang mengendarainya.
Rolls-Royce phantom
Namanya saja sudah susah di ucapkan bagaimana dengan nominal kes nya. Masyaallah apa suamiku sekaya ini ya. Batin Zahra.
Tak lupa Zahra membagi kebahagiaan ini bersama umi dan abi nya, Dia mengirim foto mobil mewah itu pada mereka.
Mereka pun saling membalas Chet.
^^^"*umi, Alhmdulillah mobil nya sudah sampai."^^^
^^^" Masyaallah, Mewah sekali nak ?."^^^
^^^" Ini beneran mobilmu neng ?."^^^
^^^" he he he Mas Akhan umi."^^^
^^^" Aduh, Umi jadi pengen nyobain naik mobilnya."^^^
^^^" He he he, Iya nanti ya umi, Soalnya mas Arkhan kan belum pulang, Dia ada kerjaan diluar kota."^^^
^^^" Oh iya neng, Masyaallah, umi ikut bahagia neng, Kamu bisa membeli mobil mewah seperti itu."^^^
Mas Akhan kok belum buka chet aku si, Apa dia terlalu sibuk ya* ?."
Arkhan adalah pria yang pekerja keras dan selalu berusaha mendapatkan apa yang diinginkannya. Apapun yang dia inginkan harus terwujud itulah prinsip hidupnya.
Zahra kembali kedalam setelah memastikan mobil suaminya terparkir benar dan menerima kunci mobil tersebut.
.
.
.
Sudah dua Hari Arkhan tidak ada kabar, Zahra terus berdoa agar suaminya itu tetap baik baik saja dan tetap dalam lindungan Allah.
Saat menjelang magrib seseorang memasuki rumah dengan menenteng sekotak bakso kering dan kentang goreng jajanan kesukaan Zahra.
" Assalamu'alaikum ra, Mas pulang."
Dari arah dapur Zahra keluar dengn masih menggunakan celemek, Dia sedang memasak di dapur.
" Waalaikumsalam mas Arkhan."
Zahra mencium punggung tangan Arkhan dan langsung meneluknya " Mas, aku kangen banget."
" Iya mas juga." Sambil melepas pelukannya.
" Ini, tadi mas beli di jalan."
" Ambil kunci mobil baru mas ra."
Zahra pergi berlalu ke kamarnya dan membawa kunci mobil lalu menyerahkannya pada Arkha.
Arkhan langsung berlalu menuju garasi dan memerkan mobilnya pada Zahra.
" Ra bagaimana menurutmu ?."
" Keren banget mas."
" Dengan begini, Orang orang akan selalu tunduk padaku, Karena di Indonesia hanya ada dua orang yang memiliki mobil ini."
Zahra hanya tersenyum menanggapi ocehan suaminya yang terlalu sombong.
" Mas makan dulu yuk, nanti lagi liatin mobilnya."
Arkhan mengangguk masih dengan memperhatikan interior mobil mewahnya itu.
Arkhan dan Zahra makan dengan santai dan sesekali melempar candaan, Arkhan juga terkadang minta disuapi Zahra.
Selesai makan, Arkhan meminta agar istrinya menyiapkan air mandi untuknya.
__ADS_1
Setelah di rasa cukup segar, Arkhan menyudahi mandinya di bantu Zahra memakaikan pakaian.
" Mas, Besok ke rumh umi abi yuk."
" Besok mas sibuk, banyak rapat."
" Oh ya udah, Aku sendiri aja yang ke rumah umi, Gak papakan mas ?"
" Iya gak papa.
Arkhan sudah berbaring di ranjang Sedangkan Zahra pergi ke kamar mandi, seperti biasa di akan berganti pakaian yang sexi di depan suaminya itu.
Tiba tiba rasa penasaran dengan ponsel istrinya sangat besar, Akhirnya Akhran mengambil ponsel Zahra di atas nakas dan membuka beberapa Chet dari WhatsApp Zahra.
Tidak ada yang aneh dengan semua pesan singkat milik Zahra, Tapi saat Arkhan membuka pesan Zahra dengan uminya, Arkhan merasa marah.
Apa ? Umi berkata mobil ini milik Zahra ? Dasar perempuan tidak tahu diri, jelas jelas itu mobil hasil kerja kerasku.
Zahra sudah keluar dari kamar mandi hanya memakai lingerie warna nude yang sangat indah kontras dengan kulitnya yang putih.
Arkhan malah menatap Zahra dengan tatapan pendendam dan mematikan, Zahra yang di tatap seperti itu pun merasa heran Ada apa dengan mas Arkhan ya ?."
" Apa maksudmu hhah ?." Arkhan membentak Zahra sambil melempar ponsel hingga mengenai kaki Zahra.
Zahra merasa kesakitan, Tapi dia tetap menunduk, Dia takut dengan Arkhan saat ini. Dia tidak mengerti apa dan kenapa suaminya seperti ini."
" Jawab !." Teriak Akhan.
" Mas apa maksudnya aku gak ngerti."
" Apa maksud umi mu itu, Kenapa dia mengatakan kau yang membeli mobil itu ?."
" Gak mas, Aku udah jelasin ke umi, Mas yang beli bukan aku."
" Halah percuma, Kau harusnya sadar diri, Kalau bukan karenaku, Hidupmu tidak akan semewah ini."
Zahra menangis dalam diam hatinya terasa sakit menerima perlakuan seperti ini dari suaminya sendiri.
" Umi mu berfikir bahwa kau yang banyak menghasilkan uang, Kau yang mundar mandir dan sibuk mencari uang."
Arkhan benar benar tersulut amarah pada Zahra.
" Padahal kau hanya bisa menghasilkan uang dari restoran mu yang kecil itu." Sambungnya lagi.
Zahra hanya menangis terisak , Sakit sungguh sakit hatinya saat ini.
Zahra sudah tidak kuat lagi mendengar ocehan suaminya, Dia buru buru mengambil jubah mandi yang panjang agar menutupi semua tubuhnya lalu pergi begitu saja dari kamar mereka.
Arkhan yang masih emosi membiarkan Zahra begitu saja untuk pergi, Dia memilih untuk tidur sendiri tanpa memperdulikan Zahra.
Dengan berlinang air mata.
Zahra Pergi kebagian belakang untuk mengambil pakainya dan langsung memakainya.
Zahra berwudhu dan langsung ke mushola rumah untuk berdoa dan menenangkan diri.
Ya Allah apa salahku ? Kenapa rasanya sesakit ini hiks... hiks... hiks....
.
.
.
Saat rasa sayang dan cinta mulai tumbuh bersemi di dalam sebuah rumah tangga yang baru di bina seumur
jagung, Selalu ada pertengkaran yang menghasut untuk pergi menjauh dari bayang bayang pernikahan.
Meski kegagalan rumah tangga bukan sesuatu yang tabu di masyarakat tapi, Teguh nya iman dan hati menolak untuk melakukan perpisahan.
Meski jalan yang di tempuh sudah buntu, tetaplah yakin bahwa semua masalah pasti ada jalan keluarnya.
Walau terkadang rasa sakit atas penghinaan dan kata kasar sering kali membuat kita lemah dan tidak mampu bertahan, Masih ada keyakinan yang hakiki yang mampu membimbing ke jalan yang benar.
Bukan hanya perselingkuhan, bukan juga masalah ekonomi yang mampu membuat perpisahan, Kata kasar dan perlakuan yang tidak sepantasnya pun mampu membuat hati goyah atas keyakinan, Mampu mengantarkan ke penyesalan terdalam tanpa bisa terulang kembali masa indah dulu.
Penyesalan selalu datang di akhir, tanpa permisi menyayat hati dan menorehkan luka dalam padanya, Apa masih bisa bertahan dengan segala perkataan menghina ? Terlintas dalam benak bahwa pernah menyesal menjadikannya tambatan hati ?.
Semua sudah di atur, ikuti dan nikmati setiap Alur cerita yang ada.
Tuhan adalah sutradara paling baik yang mengatur semua jalan kehidupan, Kehidupan ibaratkan roda yang berputar.
Satu yang pasti di hadapan sang Pencipta kita semua sama.
..
..
..
..
__ADS_1