Suamiku Perhitungan

Suamiku Perhitungan
Eps 12


__ADS_3

" Uh, Ah mas ia terus lebih cepat mas." Jeritan Dewi terus meningkatkan nafsu Arkhan.


Laki laki itu dengan buas dan kasar terus memompa miliknya di dalam Dewi.


" Uh Dewi kau sempit sekali."


Arkhan terus memompa menunjukkan pada Dewi bahwa ia adalah laki laki perkasa, merek baru selesai setelah adzan subuh berkumandang.


" Uh cape banget." Dewi.


" Tapi enak kan ?."


" Enak banget mas, kalau gak takut gak bisa jalan mau lagi dong."


" Sini pake jari aja, mau ?."


Dewi mengangguk, Dan tangan nakal Arkhan pun mulai bermain di milik Dewi dengan tempo tidak beraturan hingga Dewi melengkung mendapat pelepasannya.


" Mas."


" Hemm."


" Boleh minta sesuatu gak ?."


" Mau apa sayang ?."


" Aku bosen kita gini di kamar hotel mulu, pengen di rumah mas."


" bukanya kamu ngekos ?."


" Ih mas gak peka deh, Maksud aku biar kita bisa nganu di tempat tempat lain misalnya di dapur gitu."


" Oh, kamu mau rumah ?.


Dewi mengangguk.


" Ok besok kita beli rumah ya."


" Bener mas ?."


" Ia asal kamu terus memuaskanku."


" Mau berapa ronde pun aku selalu siap mas." Goda Dewi sambil mengelus dada bidang Arkhan.


Keesokan harinya apa yang di inginkan Dewi tercapai, Ia benar benar bahagia memilki sebuah rumah hanya bermodalkan kata sayang, Rekeningnya pun mendadak melambung karena selalu memuaskan lako laki yang notabenenya adalah bosnya sendiri.


" Gimana suka rumahnya ?."


" Suka banget dong, Makasih ya mas." Memeluk Arkhan erat.


Arkhan langsung membopong tubuh Dewi ke atas shofa di rumah barunya ini, Ia mendudukkan Dewi di atas pangkuannya.


Cumbuan dan desahan pun tidak terelakan, Tapi saat Jari jari Arkhan masuk ke celah CD yang Dewi kenakan, Ia merasa jarinya basah, Arkhan berfikir wanita sirihnya ini sudah sangat terangsang.


" Ah, Mas." desah Dewi di sela sela jari Arkhan yang terus mengocok area intimnya.

__ADS_1


Saat Dewi hendak mencapai pelepasan, Arkhan menarik jarinya sendiri awalnya ia ingin ******* ****** ***** Dewi tapi ia urungkan melihat ada bercak darah di jari jarinya.


" Darah." Menunjuk Pada jarinya sendiri di ikuti tatapan matw Dewi.


" Astaga, Mas maaf kayaknya aku datang bulan deh." Dewi buru buru turun dari pangkuan Arkhan, ia juga membersihkan jari jari Arkhan dari darah heidnya.


" Maaf mas." Dewi merasa aura menyeramkan dari tatapan Arkhan.


" Kau." Menujuk wajah Dewi dengan gigi yang tertutup dan mata melotot lebar.


" Maaf." Lirih Dewi sambil menunduk.


Tanpa pertanyaan, Arkhan pergi meninggalkan Dewi di rumah barunya itu.


Arkhan pulang ke rumahnya, Ia mendapati sang istri sah sedang memasak dengan luka perban di pelipis juga mata kaki nya, Wajah yang biasa ia tatap cantik dan merona sekarang penuh dengan lebam, Tapi apa kah ia merasa bersalah ? Jawabnya sama sekali tidak.


" Nyonya, Ini wortelnya di potong bagaimana ?." Tanya meid.


" Di potong dadu aja mba, nanti di cuci bersih ya " Terseyum.


Meid itu mengangguk.


Arkhan terus menatap sang isteri yang sedang memasak sambil sesekali berinteraksi dengan para meid yang membantu pekerjaannya.


" Ekhem."


Zahra menoleh, lalu detik berikutnya ia tersenyum.


" Mas udah pulang." Mengambil tas jan Jaz yang Arkhan bawa ia juga nengikuti Arkhan menuju meja makan.


" Siapin makanan."


" Mas mau makan yang mana ?."


" Sup, ayam goreng."


Zahra menyendokan apa yang Arkhan minta.


Arkhan memakannya dengan lahap.


Zahra memperhatikan makan Arkhan sambil tersenyum, Ia bahagia melihat suaminya makan dengan lahap.


Tapi lagi dan lagi leher bersih sang suami terdapat bercak merah.


nyutt...


Rasa sakit yang ia rasakan akhir akhir ini kembali terasa, Tapi ia terlalu takut untuk bertanya, Perlakuan Arkhan tempo hari padanya masih menyisakan trauma untuknya.


Tak lama, Rama pun datang.


" Permisi tuan."


" hem, Ada apa ?."


" ada beberapa proposal yang harus anda tanda tangani tuan."

__ADS_1


" Tunggu saja di ruang kerjaku."


" Baik tuan." Rama hendak berbalik, tapi suara Zahra menghentikan langkahnya.


" Pak Rama, Sudah makan ?."


Rama menggeleng " Belum nyonya."


" Mari, makan dulu sambil menunggu mas Arkhan selesai."


Rama mematung ia melirik bosnya yang tanpak acuh.


" Ayo, pak gak papa kok, Gak papa kan mas ?."


Arkhan hanya mengangguk.


" Terimakasih nyonya."


Rama pun makan bersama Arkhan juga Zahra.


Frov Rama.


Aku curi curi pandang pada bidadari yang sedang melayani suaminya dengan penuh senyum, Tapi wajah nya kenapa ? Penuh lebam dan luka ? apa yang dilakukan tuan Arkhan pada istri secantik dan sebaik nyonya ?.


Saat sudah selesai makan, Arkhan dan Rama masuk ke dalam ruang kerja Arkhan mereka melanjutkan obrolan yang tadi tertunda.


" Rama, bagaimana kinerja Dewi selama di kantor ?."


" Cukup baik tuan."


" Apa dia dekat dengan laki laki lain ?."


" Saya tidak tahu tuan."


" Cari tahu segalanya."


" Baik tuan."


Rama hanya menurut, meski ia curiga tapi ia tidak bisa bertanya lebih dalam ia sadar posisinya siapa.


deg


Jantung Zahra kembali nyeri, Saat mengetahui suaminya membicarakan wanita lain bahkan meminta Rama mencari tahu segalanya.


Saat ini Zahra Sedang berada di balik pintu ruang kerja Arkhan, hingga ia bisa mendengar jelas apa yang mereka obrolkan.


Awalnya Zahra tidak berniat menguping ia hanya ingin mengantar cemilan juga kopi untuk menemani sang suami juga Rama dalam pekerjaannya.


Zahra menarik nafas dalam berusaha menenangkan hatinya.


tok..tok..tok..


" Masuk."


" Mas, Ini cemilan dan kopinya ya."

__ADS_1


Arkhan mengangguk tanpa menatap mata Zahra yang sudah memerah menahan tangis.


Berbeda dengan Rama ia malah merasa sakit hati tanpa sebab melihat Zahra berusaha menahan air mata yang sudah tergenang di pelupuk matanya.


__ADS_2