Suamiku Perhitungan

Suamiku Perhitungan
Eps 34


__ADS_3

Seonggok daging bernyawa itu masih terlelap sambil terus meracau tak jelas, Suhu tubuhnya tinggi sekujur tubuhnya sakit, air matanya tak kunjung surut meski keadaan terpejam.


" Ya Allah raa,, Lo kenapa ?." Zeline, wanita itu sudah sejak pagi buta menunggu Zahra terbangun, sudah berulang kali handuk kompres ia ganti tapi wanita itu tak kunjung membuka mata.


Karna semakin panik, Akhirnya Zeline membawa Zahra ke rumah sakit dengan meminta bantuan pada tetangganya.


Saat ini tubuh lemas itu sudah di tangani dokter, Zeline benr benar panik, tapi syukurlah Tuhan masih menyayangi Zahra, Wanita hanya demam biasa dan kelelahan.


" Ssshhh saakkitt.." Racaunya sesekali dengan mata terpejam.


" Hiks... Aaammpuun." Seolah tidurnya tak tenang, raut wajahnya menggambarkan kekhawatiran atau bahkan rasa takut?.


Zeline masih setia menunggu Zahra, Wanita bertubuh sedikit gempal itu sampai melewatkan sarapan juga makan siangnya hanya untuk menunggui Zahra.


" Raa cepet sadar, gue udah mulai laper." Keluhnya pada Zahra yang sudah kembali terlelap tenang setelah meracau.


...... .....


Sedangkan di rumah megah Arkhan, Ia mengamuk seperti banteng di arena, ia memarahi siapaun yang ada di rumah ini bahkan tak segan ia juga memukul bahkan melemparinya dengan benda benda sekitarnya.


" AAGGGRRRHHH... BODOH, TAK BERGUNA."


Bug


Pyarr


Arkhan mengumpati para penjaga yang sudah berkumpul di ruang tengah rumahnya sebanyak sebelas orang.

__ADS_1


Ia membanting gucci mahalnya hingga mengenai salah satu penjaga rumahnya.


Mereka tidak berani mendongak, mereka hanya tertunduk sambil terus terdiam saat Arkhan melemparinya dengan barang berat sekali pun.


" APA KERJA KALIAN ? MENJAGA SEORANG WANITA LEMAH PUN KALIAN TAK BISAA.."


" .... "


" BODOHH.."


" .... " tetap diam sambil menunduk bahkan untuk sekedar meringis karna sakit pun tk sanggup.


" Saya tidak mau tahu, Cari istriku secepatnya, jangan kembali sebelum Zahra di temukan."


" SIAP TUAN."


" .... "


" Kalau tak kalian temukan, siap siap katakan selamat tinggal pada dunia." Dengan aura penuh keyakinan juga atmosfer sekitar yang tiba tiba mendadak horor.


Glek


Glek


Mereka semua dengan kompak menelan ludah, Ada rasa takut akan ancaman tuan nya.


" BAIK TUAN."

__ADS_1


Arkhan meninggal tempat di barengi dengan para penjaga yang juga ikut berhamburan menyusun rencana untuk menemukan nyonya sah mereka.


Sedangkan para meid yang mengintip langsung berlalu ke rumah belakang tempat mereka semua tinggal.


Di meja panjang di ruang tengah di antara kamar kamar yang berjejer beberapa meid berkumpul, memgosip, membicarakan apapun yang menurut mereka seru.


" Kalau aku jadi nyonya Zahra, duh sudah sejak lama tuan ku tinggalkan."


" Dih ngaca, tuan Arkhan pun tidak akan mau dengan kau yang cuman remahan peyek rebon."


" Loh, aku kan berandai saja." Meid itu nampaknya tk terima di katai seperti itu oleh rekannya.


" nya ulah ketinggian lah."


Dan yaa rumah belakang adalah tempat ternyaman untuk menggosip ria.


Padahal dulu, Arkhan yang mengejar Zahra, ia kagum pada sosok Zahra yang mandiri juga parasnya yang sangat cantik.


Tapi setelah mendapat incarannya selama satu tahun itu, di malah menyianyiakan sebongkah berlian itu.


Sejatinya wanita mudah memaafkan hanya saja luka yang di torehkan tidak akan pernah ia lupakan.


Seperti kata ikhlas, yang ada bukan sudah mengikhlaskan tapi terpaksa hingga lama lama jadi terbiasa.


Akankah ada kata menyesal dalam diri Arkhan? Apa tidak ada rasa bersalah sedikitpun pada sosok wanita cantik istri Sholehanya yang sudah menemani langkah langkahnya satu tahun lebih ini ?


Ataukah Zahra yang terlalu cepat menaruh hati pada laki laki yang salah ? Apa seharusnya mereka tidak bersama ?

__ADS_1


__ADS_2