
Drtt....
drtt...
drtt....
Mamah is calling..
Dengan bismilah, Tersenyum walau tak terlihat, Berusaha baik baik saja, Beberapa kali melakukan tes suara, Zahra hanya tidak mau ibu mertuanya itu khawatir.
" *Hallo, assalamualaikum."
" Waalikumsalam menantu mamah yang cantik, Apa kabar neng ?."
" Alhmdulillah, neng baik baik aja mah, mamah apa kabar ? maaf ya mah neng udah lama gak main ke rumah."
" Alhamdulillah mamah baik, gak apa apa sayang, Oh iya lagi sibuk ?."
" Hmm gak ko mah."
" Mamah ke restoran ya, ada hal yang harus di obrolin."
" Hhmmm ... gimana ya mah, Neng lagi di luar kota."
" Loh, ngapain ?."
" Alhmdulillah ada rezeki, Neng buka cabang mah."
__ADS_1
" Alhamdulillaah, Mamah seneng dengernya, terus kapan dong bisa ketemua ?."
" insyaallah dua hari lagi neng pulang, Nanti neng ke rumah ya mah."
" Iya sayang, pintu rumah mamah selalu terbuka buat menantu kesayangan."
" Alhamdulillah."
" Ya udah ya mamah tutup dulu, Assalamualaikum."
" Waalikumsalam."
Ada hal penting apa ya, kayaknya mamah mendesak banget*. Tanya tanpa jawaban pada diri sendiri.
🍄🍄🍄🍄🍄
Di kantor Arkhan mengalami banyak sekali kendala, dari mulai kegiatan yang tidak terjadwal dengan baik, Beberapa hal yang biasa mengandalkan Rama kini ia jalani sendiri.
Rama mengikuti jejak ayahnya yang juga menjadi kepercayaan Arnold ayah Arkhan yang sudah berpulang.
" Mas .." Panggil Dewi, Ya wanita itu masih bekerja sebagai sekretarisnya, Ia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu, Ia bergelayut manja di lengan Arkhan yang sedang duduk berhadapan dengan berkas berkas yang menggunung.
" Mas.." Rengek Dewi.
" .... "
" Mas, Ih..." Mulai kesal.
__ADS_1
" .... " Arkhan tidak menggubris ia lebih memilih membaca detail proyeknya.
" APA TULISAN TULISAN ITU LEBIH MENARIK DI BANDING AKU ?." sambil merebut dokumen yang sedang Arkhan cermati.
Arkhan menatap Dewi tajam, ia tidak suka di bentak orang lain, Arkhan berdiri dari duduknya dan..
Plak..
Wajah Dewi menoleh kesamping dengan menyisahkan luka gores di sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
" SAYA TIDAK SUKA DI BENTAK, KAU HARUSNYA SADAR DIRI, INGAT POSISIMU." Ucap Arkhan lantang.
Dewi bergetar menahan takut, air matanya keluar begitu saja, Setelah Zahra pergi apakah sekarang ia yang akan di perlakuan tak baik oleh suaminya ?.
" Hiks.... hiks.."
" KELUAR."
Wanita seksi itu langsung berlari keluar ruangan Arkhan sambil memegangi sebelah pipinya yang memerah.
Keadaan ini sunggung menyiksa Arkhan, semua jadwalnya molor terlalu jauh, Meskipun Dewi sekretarisnya tetap saja tidak sekompenten Rama.
Setelah Zahra pergi, Rumah yang bak istana itu mendadak sepi, Tidak ada yang nenyapa nya saat pulang kantor, tidak ada yang menyiapkan air mandi serta pakaian untuknya.
Bahkan tanaman hias juga sayur yang di tanam Zahra seolah merindukan tuanya, tanaman itu tampak tak baik baik saja, bukan nya para meid tidak merawatnya hanya saja wujudnya rada suram.
Saat ini, Arkhan suami dakjal yang sialnya tampan itu sedang menyandarkan punggungnya pada kursi sambil menatap langit ruangannya, Mengela nafas dalam benaknya di penuhi bayang bayang Zahra tersenyum, Zahra tertawa, Zahra yang bermanja padanya, Zahra yang selalu sabar menyikapi sikapnya.
__ADS_1
Di tambah lagi sang mamah yang tidak bisa di hubungi, Bahkan untuk berkunjung pun para penjaga siaga satu menolak mentah mentah tuan nya sendiri.
Hadiah, sudah tak terhitung sebanyak apa yang ia kirimkan sebagai permintaan maaf untuk mamahnya, Tapi wanita paruh baya itu malah mengirimkannya lagi ke kantor bahkan ke kediaman Arkhan.