
Tok.. Tok .. Tok..
" Permisi." Ucapnya sambil mengetuk pintu kaca.
Pintu terbuka, menampilkan pria yang sepertinya ketua kelompk geng ini.
" Saya pemilik restoran ini, nama saya Zahra."
" Hah pemilik, jangan mimpi." Zahra masih tersenyum.
" Boleh saya tahu sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kalian memporak porandakan tempat ini ?."
" Boss kami yang memerintah." Masih dengan gaya ngesekinnya.
" Tapi kenapa ? Saya sudah tekan kontrak untuk beberapa tahun."
" Tidak ada urusan, Sudah sana pergi." Usirnya sambil mendorong bahu Zahra.
Zahra meringis sambil memegangi bahunya, Pria besar lainnya menghampiri dan langsung memukul kepala pria besar yang ternyata bukan boss mereka itu.
" heh, kenapa lu sentuh bangsat."
" Hah ? emang kenapa si boss ?."
" Ck bodoh." Sambil menyerahkan isi chet dari ponselnya,Seketika pria itu diliputi rasa panik sambil memegangi lehernya, Entah apa yang ia takutkan, apakah pemenggalan ?? Entahlah.
" Sudah sana pergi jangan ganggu pekerjaan kami."
__ADS_1
" Baik, tapi beritahu dulu siapa yang menyuruh kalian."
" Hey dengar wanita berkerudung, kami hanya menjalankan tugas, lagipun tempat ini sudah di beli dengan harga tinggi oleh tuan kami."
" .... " Zahra hanya diam masih mencerna perkataan pria besar itu.
" Ya sudah beritahu saja tuan mu siapa."
" Ck, tidak akan."
Pria bertubuh besar itu langsung menutup pintu dengan kencang.
brakk..
Zahra hingga tekejut, ia terus beristighfar sambil berjalan menuju mobilnyaa.
Sesampainya di rumah ia menceritakan semua kejadian naas itu pada orang tuanya, Ummi hanya bisa menguatkan dengan kata sabar dan memeluk putri bungsunya.
" Sabar ya nak, mungkin memang belum rezeki nyaa." Timpal abbi, Zahra mengangguk.
" Tapi kita bisa melaporkan agen real astate itu bii." Ummi memberi saran.
" Gimana menurut neng ? Neng mau bawa masalah ini ke jalur hukum."
Zahra menggeleng " Tidak usah abii, ummi, sepertinya orang yang di sebut tuan itu bukan orang sembarangan, pasti orng yang punya kuasa, jadi neng memutuskan untuk mengikhlaskan nya saja."
" Subhannallah..."
__ADS_1
Bukan tidak ingin menuntut, hanya saja Zahra berfikir akan sangat mahal biaya nya apalagi yang ia hadapi orang yang punya kuasa, ia tidak mau sampai sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Zahra lebih mementingkan kesejahteraan karyawannya di banding kepuasan pribadinya.
Seminggu berlalu, Zahra juga Zeline telah menemui satu persatu staf yang mengalami pemberhentian secara paksa tersebut sambil mwminta maaf dan tak lupa uang pesangon yang Zahra lebihkan.
" ibu terimakasih selama ini telah menjadi koki si dapur kami."
" sama sama mba Zahra mba Zeline." Setelahnya wajah ibu Siti murung, ia memikirkan nasib anak anaknyaa.
" Ibu kenapa ?."
" Tidak apa apa mba, saya hanya bingung, saya harus cari kerja kemana lagi setelah ini, anak anak saya sekolah dan butuh biaya." Fyi ibu Siti adalah orang tua tunggal, suaminya sudah meninggal karna sakit.
Zeline dan Zahra saling pandang, mereka juga merasa iba pada bu siti.
" Ibu, saya mungkin tidak bisa bantu banyak tapi saya bisa hantarkan ibu gerobak untuk berjualan."
" Yang benar mba Zahra ?." Mata bu Siti berbinar ia tersnyum sambil meraih jemari Zahra yang ada di atas meja di balas senyum manis yang di sertai anggukan.
" Allhamdullilahirrobiil allamin, terimakasih mba Zahra, semoga kebaikan dan keberkahan selalu menyertai mba."
" Amiin, terimkasih ibu untuk doa nyaa."
Beberapa hari kemudian apa yang di janjikan Zahra sampai, bahkan segala perlengkapan dan bahan jualannya pun tersedia.
Bu Siti tak henti hentinya berterima kasih, ia berjanji tidak akan melupakan kebaikan Zahra.
__ADS_1
Suatu saat nanti jika/andai/kalau Zahra butuh bantuan, ia akan senang hati membantu.